• MA MASALIKIL HUDA
  • MADRASAH HEBAT BERMARTABAT

Kurikulum

 

  1. LATAR BELAKANG

Satuan Pendidikan MA.MASALIKIL HUDA adalah salah satu  garda terdepan penyelenggaraan sistem pendidikan. Agar semua program pembelajaran di sekolah dapat berjalan dengan baik, maka harus didukung oleh perencanaan yang baik. Salah satu dokumen yang harus disiapkan di dalam sistem perencanaan di sekolah adalah dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) MA.MASALIKIL HUDA TAHUNAN. Kurikulum memiliki posisi strategis karena secara umum kurikulum merupakan deskripsi visi, misi dan tujuan pendidikan suatu bangsa, di dalamnya terkandung sentral muatan-muatan nilai yang akan ditransformasikan kepada peserta didik.

Pelaksanaan K-13 berfokus pada mewujudkan kompetensi yang selaras dengan tujuan pendidikan nasional. Amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional menyatakan bahwa setiap satuan pendidikan wajib menyusun dokumen KTSP sebagai acuan untuk mewujudkan target kompetensi siswa yang menjadi targetnya. Dokumen KTSP diharapkan dapat berfungsi sebagai acuan yang mengarahkan seluruh pemangku kewenangan dalam melaksanakan kurikulum 2013. Dengan berfungsinya KTSP sebagai acuan maka semua pihak dapat fokus pada pencapaian tujuan, menerapkan aturan main dalam menerapkan prosedur program, serta proses kegiatan sehingga dapat memenuhi kebutuhan siswa untuk mengembangkan kompetensi dirinya dalam perubahan kehidupan pada abad 21. Di samping itu, diharapkan pula seluruh pergerakan para pemangku kewenangan lebih fokus dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan baik pendidikan dan pembelajaran terutama dalam mengelola program peminatan; menata struktur kurikulum, memetakan beban belajar siswa, dan menyusun pedoman pelaksanaan kegiatan intra dan ekstrakurikuler, pedoman akademik, dan instrumen evaluasi penyelenggaraan kurikulum.

Dalam mendukung pemenuhan dokumen dan implementasi kurikulum pada MA.MASALIKIL HUDA TAHUNAN dipandang perlu membentuk Tim Pengembang Kurikulum dan Tim Penjaminan Mutu yang mengelola sistem evaluasi proses dan pencapaian program pelaksanaan kurikulum. Kedua Tim merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena keduanya menjadi komponen sistem penjaminan terwujudnya proses pelaksanaan kurikulum yang efektif untuk terwujudnya keunggulan mutu lulusan.

Salah satu problem yang dihadapi MA.MASALIKIL HUDA TAHUNAN adalah masih rendahnya minat peserta didik untuk melanjutkan ke perguruan Tinggi. Faktor yang turut mempengaruhi rendahnya mutu pendidikan di MA.MASALIKIL HUDA adalah Tidak tersedianya ruang Laboratorium IPA Fisika, Kimia,Biologi,Lab komputer  yang representatif .

Kondisi riil tenaga pendidik di ma.masalikil huda tahunan antara lain :

  • Keberagaman kemampuan guru dalam proses pembelajaran dan penguasaan pengetahuan.

Sedangkan kondisi peserta didik antara lain :

  • tes

Kondisi Riil Sarana Prasarana MA.masalikil huda:

  • Ruang kelas yang representatif
  • Ruang Laboratorium Komputer yang sesuai standar
  • Perlengkapan  Laboratorium IPA yang Standar
  • Ruang Sanitasi yang cukup
  • Ruang kantin sekolah didalam lingkungan sekolah
  • Lapangan Olah Raga yang cukup representatif
  • Ruang Perpustakaan yang sesuai standar
  • Ruang UKS , BK,Guru, Kepsek yang cukup representatif
  • Free Wifi

 

Namun demikian potensi dan Karakteristik yang dimiliki ma.masalikil huda tahunan untuk menjawab kondisi nyata agar bisa mencapai kondisi yang ideal antara lain :

  • Laboratorium Komputer yang dilengkapi buku digital untuk memotivasi literasi Peserta didik dan peningkatan IPTEK di ma.masalikil huada
  • Ruang Kelas yang representatif
  • Kegiatan Workshop untuk peningkatan Mutu Guru
  • Guru-guru yang bertekad untuk meningkatkan Mutu Sekolah dengan selogan “ MADRASAH HEBAT BERMARTABAT”.
  • Sistem manajemen sekolah yang selalu terus ditingkatkan sebagai Upaya Peningkatan kualitas pelayanan untuk seluruh Civitas Akademika ma.masalikil huda
  • Adanya Kerjasama dengan dunia pendidikan yang lebih tinggi serta dunia usaha ,dll.

 

  1. ACUAN PENGEMBANGAN

 

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dikembangkan, ditetapkan, dan dilaksanakan oleh satuan pendidikan. Pernyataan ini menegaskan tentang besarnya kewenangan satuan pendidikan untuk menentukan keunggulan mutu lulusan masing-masing dalam kerangka sistem pendidikan nasional. Acuan Konseptual dalam pembuatan KTSP ma.masalikil huda ini mengacu pada Permendikbud No 61 Tahun 2014.

Pengembangan KTSP paling sedikit memperhatikan :

1) Acuan konseptual

2) Prinsip pengembangan, dan

3) Prosedur operasional.

Acuan konseptual paling sedikit meliputi :

  1. peningkatan iman, takwa, dan akhlak mulia;
  2. toleransi dan kerukunan umat beragama;
  3. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan;
  4. peningkatan potensi, kecerdasan, bakat, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik;
  5. kesetaraan warga negara memperoleh pendidikan bermutu;
  6. kebutuhan kompetensi masa depan;
  7. tuntutan dunia kerja;
  8. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
  9. keragaman potensi dan karakteristik daerah serta lingkungan;
  10. tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
  11. dinamika perkembangan global; dan
  12. Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Setempat
  13. Karakteristik satuan pendidikan..

Prinsip pengembangan KTSP paling sedikit meliputi:

1) Berpusat pada petensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya pada masa kini dan yang akan datang.

2) Belajar sepanjang hayat;

3) Menyeluruh dan berkesinambungan.

Prosedur operasional meliputi;

1) Analisis;

2) Penyusunan;

3) Penetapan;

4) Pengesahan.

Analisis mencakup kegiatan sebagai berikut:

1) Analisis ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai kurikulum;

2) Analisis kebutuhan peserta didik, aturan pendidikan, dan lingkungan;

3)  Analisis ketersediaan sumber daya pendidikan.

Penyusunan mencakup kegiatan berikut:

1) Perumusan visi, misi, dan tujuan pendidikan;

2) Pengorganisasian muatan kurikuler satuan pendidikan;

3) Pengaturan beban belajar peserta didik dan beban kerja pendidik tingkat kelas;

4) Penyusunan kalender pendidikan satuan pendidikan;

5) Penyusunan silabus, muatan, atau mata pelajaran muatan lokal, dan

6) Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran setiap muatan pebelajaran.

 

Penetapan dilakukan oleh kepala sekolah  MA.Masalikil Huda berdasarkan hasil rapat dewan pendidik dengan melibatkan komite sekolah. Pengesahan dilakukan oleh Dinas Pendidikan  dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah melalui prosedur verifikasi dari Pengawas Sekolah dan surat Pengantar BP2MK Wilayah II.

 

  1. LANDASAN
  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
  • PP No. 32 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas PP No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.
  • PP No. 19 tahun 2017 tentang Guru.
  • Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala sekolah/madrasah.
  • Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
  • Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan.
  • Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Konselor.
  • Permendiknas Nomor 28 tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah.
  • Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelanggaraan Pendidikan.
  • Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
  • Permendikbud 35 tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2014 tentang Implementasi Kurikukulum 2013.
  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2014 tentang kegiatan ekstra Kurikuler
  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2014 tentang Ekstra Kurikuler Wajib Pramuka
  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2014 tentang Peminatan Pendidikan Menengah
  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 79 Tahun 2014 tentang Muatan Lokal
  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 103 tahun 2014 tentang Pembelajaran
  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 111 tahun 2014 tentang Bimbingan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Menengah
  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013
  • Permendikbud 53 tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan pada Pendidikan Dasar dan Menengah
  • Permendikbud Nomor 23 tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti.
  • Permendikbud Nomor 20 tahun 2016 Tentang Standar Kompetensi lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah.
  • Permendikbud Nomor 21 Tahun 2016 Tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah.
  • Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses pendidikan Dasar dan Menengah.
  • Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian Pendidikan Dasar dan Menengah.
  • Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pada K13 Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
  • Permendikbud Nomor 4 Tahun 2018 tentang Penilaian Pembelajaran oleh Pendidik, Sekolah, dan Pemerintah
  • Panduan Kerja Kepala Sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Dan Menengah 2017.

Landasan Hukum Untuk Mulok Bahasa Jawa Provinsi Jawa Tengah

  • Peraturan Daerah Jawa Tengah No. 9 tahun 2012 tentang Bahasa, Sastra dan Aksara Jawa
  • Peraturan Gubernur Jawa Tengah No. 57 tahun 2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda No. 9 tahun 2012
  • Edaran Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah No. 424/13242 tgl 23 Juli 2013 tentang Implementasi Mulok Bahasa Jawa pada Kurikulum 2013
  • Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Nomor 423.5/14995 tanggal 4 Juni 2014 tentang Kurikulum mata pelajaran Mulok Bahasa Jawa untuk jenjang pendidikan SD/SDLB/MI, SMP/SMPLB/M.Ts, SMA/SMALB/MA, dan SMK/MAK Negeri dan Swasta di Provinsi Jawa Tengah.

 

 

  1. TUJUAN PERUMUSAN KTSP

 

Tujuan perumusan dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah :

  1. Menyediakan acuan kepala sekolah dan segenap warga sekolah dalam merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi program pelaksanaan kurikulum 2013 dengan tujuan yang terukur.
  2. Menyediakan dokumen acuan operasional bagi dinas pendidikan dan kebudayaan provinsi, serta pengawas pendidikan dalam melakukan koordinasi dan supervisi pengelolaan kurikulum di setiap satuan Pendidikan
  3. Meningkatkan sistem penjaminan pelaksanaan kurikulum dengan menyediakan rumusan latar belakang, konsep, model implementasi, dan perangkat evaluasi program.
  4. Menyediakan acuan untuk menyusun instrumen pengukuran ketercapaian program.
  5. Memberikan informasi kepada masyarakat terutama orang tua siswa untuk lebih memahami arah penyelenggaraan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KURIKULUM 2013

 

  1. PENGERTIAN DAN PRINSIP PENGEMBANGAN

 

  1. Pengertian Kurikulum

 

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi yang wajib untuk diimplementasikan oleh Satuan Pendidikan agar menghasilkan para tamatan dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) sebagaimana telah ditetapkan pemerintah. Hal ini mensikapi berbagai tantangan eksternal antara lain terkait dengan arus globalisasi dan isu-isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif serta budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional. Tantangan global yang dihadapi bangsa seperti terkait forum World Trade Organization (WTO), Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Community, Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), dan ASEAN Free Trade Area (AFTA) menuntut dunia pendidikan kita untuk bisa mengantisipasi kebutuhan masyarakat, dunia usaha dan dunia industri terhadap Sumber Daya Manusia yang semakin kompeten dan berdaya saing. Hanya individu dengan kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, mampu berkomunikasi dan memiliki ketrampilan problem solving dengan baik yang dapat bertahan untuk tetap maju, berkembang dan mencapai keberhasilan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

  1. Prinsip Pengembangan Kurikulum

 

pengembangan KTSP sekolah harus memperhatikan enam prinsip utama, yaitu:

  • Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan.
  • Kedua, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran.
  1. Ketiga, semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik.
  2. Keempat, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai.
  • Kelima, semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti
  • Keenam, keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian.

Keenam Prinsip Pengembangan Kurikulum tersebut wajib dipahami oleh seluruh tenaga pendidik MA.MASALIKIL HUDA dan salah satu fasilitas yang disediakan sekolah adanya dengan adanya kegiatan WORKSHOP KTSP 

Prinsip pengembangan KTSP:

  1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya pada masa kini dan yang akan datang.

Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan pada masa kini dan yang akan datang. Memiliki posisi sentral berarti bahwa kegiatan pembelajaran harus berpusat pada peserta didik.

  1. Belajar sepanjang hayat

Kurikulum diarahkan pada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan kemampuan peserta didik untuk belajar sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.

  1. Menyeluruh dan berkesinambungan

Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarjenjang pendidikan

 

  1. Tantangan Internal

 

Tantangan Internal  di MA MASALIKIL HUDA adalah nampak pada beberapa indikator, diantaranya melalui capaian prestasi peserta didik, seperti antusias beberapa peserta didik dalam mengikuti lomba/kejuaraan/turnamen ditingkat kabupaten; Peningkatan mutu akreditasi sekolah; kesejahteraan guru yang masih dibawah UMR; pembenahan sarana prasarana sebagai penunjang mutu pendidikan; peningkatan mutu lulusan agar dapat diterima di perguruan tinggi Negeri; Peningkatan sistem manajemen sekolah yang terus harus dikembangkan demi peningkatan kualitas kecepatan layanan pendidikan.

  1. Tantangan Eksternal

 

Tantangan Eksternal bagi dunia pendidikan khususnya di MA.MASALIKIL HUDA adalah  nampak dari beberapa indikator, di antaranya melalui capaian pada hasil pengukuran instrumen internasional, seperti : The Programme for International Students Assessment (PISA) dan The Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), yang menunjukkan hasil di mana peserta didik Indonesia belum dapat menunjukkan prestasi belajar yang memuaskan. Selanjutnya hasil studi Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) dalam bidang membaca siswa di seluruh dunia di bawah koordinasi The International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) juga menunjukkan bahwa peserta didik Indonesia belum dapat menunjukkan kompetensi literasi yang memuaskan

 

  1. Penguatan Tata Kelola Kurikulum

 

Penguatan Tata Kelola Kurikulum 2013 dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.

  • Penguatan tata kerja guru lebih bersifat kolaboratif;
  • Penguatan manajeman sekolah melalui penguatan kemampuan manajemen kepala sekolah sebagai pimpinan kependidikan (educational leader); dan
  • Penguatan sarana dan prasarana untuk kepentingan manajemen dan proses pembelajaran.

Sedangkan Mekanisme Penguatan Tata Kelola  kurikulum KTSP di MA.Masalikil Huda, sebagai berikut :

  1. Pengembangan

Pengembangan KTSP merupakan bagian dari kegiatan perencanaan satuan pendidikan. Kegiatan ini dapat berbentuk rapat kerja satuan pendidikan dan/atau kelompok satuan pendidikan yang diselenggarakan sebelum tahun ajaran baru.

Tahap kegiatan pengembangan KTSP secara garis besar meliputi: (1) penyusunan draf berdasarkan analisis konteks; (2) reviu, revisi, dan finalisasi; serta (3) pengesahan oleh pejabat yang berwenang. Langkah yang lebih rinci dari masing-masing kegiatan diatur dan diselenggarakan oleh tim pengembang kurikulum MA.MASALIKIL HUDA,

Dinas pendidikan atau kantor kementerian agama provinsi dan kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya berkewajiban melakukan koordinasi dan supervisi.

  1. Pelaksanaan

 

Pelaksanaan KTSP merupakan tanggung jawab bersama seluruh unsur satuan pendidikan yakni kepala sekolah/madrasah, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.

  1. Daya Dukung

Daya dukung pengembangan dan pelaksanaan KTSP meliputi:

  1. Kebijakan Satuan Pendidikan

Pengembangan dan pelaksanaan KTSP merupakan kewenangan dan tanggung jawab penuh dari satuan pendidikan. Oleh karena itu untuk dapat mengembangkan dan melaksanakan KTSP diperlukan kebijakan satuan pendidikan yang ditetapkan dalam rapat satuan pendidikan dengan melibatkan komite sekolah/madrasah baik langsung maupun tidak langsung.

  1. Ketersediaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Pengembangan dan pelaksanaan KTSP merupakan proses perwujudan kurikulum yang sesungguhnya. Oleh karena itu tenaga pendidik merupakan unsur yang mutlak diperlukan dalam kuantitas dan kualitas yang memadai. Selain itu tenaga kependidikan pada masing-masing satuan pendidikan sangat diperlukan untuk mendukung pelaksanaan KTSP.

  1. Ketersediaan Sarana dan Prasarana Satuan Pendidikan

Pengembangan dan pelaksanaan KTSP memerlukan dukungan berupa ketersediaan sarana dan prasarana satuan pendidikan. Yang termasuk sarana satuan pendidikan adalah segala kebutuhan fisik, sosial, dan kultural yang diperlukan untuk mewujudkan proses pendidikan pada satuan pendidikan. Selain itu unsur prasarana seperti lahan, gedung/bangunan, prasarana olahraga dan prasarana kesenian, serta prasarana lainnya sangat diperlukan sebagai unsur penunjang yang memberikan kemudahan pelaksanaan KTSP.

 

  1. Tujuan Kurikulum 2013

 

Secara umum kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman ,produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat , berbangsa ,bernegara dan peradaban dunia

Kurikulum 2013 dirancang dengan karakteristik sebagai berikut :

  1. Mengembangkan keseimbangan antara sikap spiritual dan sosial, pengetahuan dan keterampilan, serta menerapkan dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat.;
  2. Menempatkan sekolah sebagai bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman kerja agar peserta didik mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar;
  3. Memberi waktu yang cukup lelauasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
  4. Mengembangkan kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih lanjut dan kompetensi dasar mata pelajaran;
  5. Menegmbangkan kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi organizing elements kompetensi dasar. Semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kopmpetensi inti;
  6. Mengembangkan kompetensi dasar berdasar pada prinsif alternatif, saling memperkuat reinforced dan memperkaya enriched antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan organisasi horizontal dan vertikal

 

  1. RASIONAL

 

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat perubahan pada ruang lingkup lokal yang bergerak semakin mengglobal. Nilai-nilai global, baik diajarkan atau tidak, telah menjadi bagian dari kehidupan keseharian para siswa. Dalam kondisi ini, sekolah tidak dapat menghindar dari pengaruh dan tantangan besar bagi proses pembelajaran di sekolah. Pembelajaran di sekolah diharapkan mampu memberikan penguatan bagi kompetensi siswa pada aspek kearifan lokal, mampu mentransformasikan berbagai nilai-nilai penguatan jati diri bangsa dalam konteks nasional, dan penguatan daya saing pada konteks global. Generasi muda pada era saat ini sejatinya memiliki kebutuhan tinggi terhadap penguasaan pengetahuan, ketrampilan dan kompetensi guna pengembangan potensi diri untuk menunjang hidup dan karir di masa depan, belajar sepanjang hayat, berkreasi dan berinovasi, serta melek terhadap teknologi informasi dan komunikasi.

Kompetensi pengembangan potensi diri untuk menunjang hidup dan karir di masa depan mensyaratkan 5 (lima) keterampilan utama yang dibutuhkan pada abad ke 21, yaitu :

1) Keterampilan berpikir kritis

2) Keterampilan berkreasi;

3) Keterampilan berkolaborasi

4) Keterampilan berkomunikasi, dan

5) Keterampilan merumuskan dan memecahkan masalah.

Pembelajaran membutuhkan proses yang terintegrasi dengan lingkungan terdekat siswa untuk membangun kesadaran lingkungan di tingkat lokal, nasional, dan global untuk mendukung tumbuhnya karakter manusia Indonesia yang berbudi pekerti luhur.

 

  1. PERUBAHAN POLA PIKIR (MINDSET)

 

Pergeseran dalam pelaksanaan kurikulum 2013 dari kurikulum sebelumya harus responsip tantangan dalam persaingan pada kawasan karena generasi muda Indonesia memperebutkan peluang yang sama. Perubahan terpenting adalah semangat pemangku kewenangan untuk memandang perlu dan harus melakukan hal yang berbeda dari aktivitas professional sebelumnya. Seluruh pemangku kewenangan perlu beradaptasi dalam mengawal perubahan. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan diperlukan proses perubahan terencana, bertahap, dan berkelanjutan.

Sikap dasar mencoba menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan perubahan secara bertahap. Sikap tersebut dihadapi dengan sabar menanggung untuk menanggung konsekuensi atas pelaksanaan perubahan terutama dalam proses pembelajaran dan penilaian untuk meningkatkan pengetahuan baru, penguasaan strategi baru, penguasaan kebiasaan-kebiaasaan baru sehingga memerlukan proses dan waktu belajar lebih banyak.

Pengembangan pola pikir diarahkan untuk memperbaiki pola tindak yang mendukung terlaksananya prinsip:

  1. pola pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran berpusat pada peserta didik.
  2. pola pembelajaran satu arah (interaksi guru-peserta didik) menjadi pembelajaran interaktif (interaktif guru-peserta didik-masyarakat-lingkungan alam, sumber/media lainnya);
  3. pola pembelajaran terisolasi menjadi pembelajaran secara jejaring (peserta didik dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet);
  4. pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran aktif-mencari (pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan sains);
  5. pola belajar sendiri menjadi belajar kelompok (berbasis tim);
  6. pola pembelajaran alat tunggal menjadi pembelajaran berbasis multimedia;
  7. pola pembelajaran berbasis massal menjadi kebutuhan pelanggan (users) dengan memperkuat pengembangan potensi setiap peserta didik;
  8. pola pembelajaran ilmu pengetahuan tunggal (monodiscipline) menjadi pembelajaran ilmu pengetahuan jamak (multidisciplines); dan
  9. pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran kritis

 

  1. STRATEGI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

 

Pelaksanaan kurikulum 2013 berproses untuk menjawab tantangan lokal, regional maupun global, oleh karenanya proses perubahan memerlukan motif yang kuat, berkeyakinan tinggi, serta usaha bersama dalam meningkatkan berbagai aspek di bawah ini.

  • Meningkatkan komitmen pendidik untuk beradaptasi dengan perubahan lokal, nasional, dan global.
  • Meningkatkan kompetensi pendidik dalam merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran saintifik, dan melaksanakan penilaian autentik melalui proses belajar berkelanjutan.
  • Meningkatkan kompetensi pendidik dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai sumber dan media pembelajaran.
  • Meningkatkan kompetensi tenaga pendidik dan siswa dalam memberdayakan lingkungan sebagai konteks pembelajaran.
  • Meningkatkan daya kolaborasi multi level dalam menggerakan kerjasama yang harmonis dan produktif.
  • Penyediaan alat peraga dan sumber belajar untuk mendukung peningkatan keterampilan berpikir siswa.
  • Meningkatkan motivasi dan daya belajar siswa dengan meningkatkan daya kolaborasi dan kompetisi.
  • Meningkatkan penguasaan fakta, konsep, prosedur, dan metakognitif melalui pembelajaran kolaboratif dan kontekstual.
  • Meningkatkan partisipasi dan daya dukung orangtua siswa.
  • Mengembangkan budaya belajar dalam mewujudkan sekolah sebagai organisasi pembelajar.
  • Mengembangkan kepemimpinan pembelajaran dengan menitik-beratkan pada pentingnya supervise pembelajaran.
  • Menerapkan manajemen perubahan yang terencana dan terealisasikan.
  • Mengembangkan efektivitas kepemimpinan pembelajaran yang efektif.

Strategi utama dalam pembaharuan penenerapan kurikulum sebagai berikut :

  • Menetapkan kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan jaman sebagai poros pengembangan strategi perubahan.
  • Menggerakan sistem perubahan dengan dengan fokus utama mewujudkan visi, misi, dan tujuan sekolah.
  • Mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan sesuai dengan kebutuhan siswa dengan mempertimbangkan sumber daya yang sekolah miliki dan yang mungkin sekolah miliki.
  • Mengembangkan budaya mutu dengan proses pelaksanaan mengacu keterampilan berpikir model Krathwhol yang meliputi tahap menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan.
  • Pengembangan keterampilan berpikir merujuk pada teori Dyers yang meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, dan mencipta.
  • Pengembangan pengetahuan merujuk pada teori Bloom yang menggambarkan tahapan kecakapan berpikir, meliputi tingkatan mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi.
  • Meningkatkan mutu sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan melalui pembaharuan sekolah sebagai organisasi pembelajar.
  • Meningkatkan penggunaan teknologi informasi secara bertahap dalam rangka meningkatkan efektivitas pembelajaran.
  • Meningkatkan pengetahuan siswa ditandai dengan penguasaan fakta, konsep, prosedur, dan metakognitif.
  • Melaksanakan evaluasi dan supervisi proses dan hasil pembelajaran secara berkala.
  • Meningkatkan kolaborasi guru dalam meningkatkan kemampuan professional pada tingkat satuan pendidikan.
  • Meningkatkan kerja sama antar sekolah dan sekolah dengan orang tua siswa untuk menunjang optimalisasi hasil belajar siswa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

VISI, MISI DAN TUJUAN SEKOLAH

 

  1. ANALISIS KONTEKS SEKOLAH

Dalam menentukan strategi pelayanan pembelajaran, MA.MASALIKI HUDA  harus memperhatikan konteks yang menjadi pertimbangan strategis, yaitu :

1) Menganalisis kebutuhan pelayanan pembelajaran agar strategi pelayanan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam meningkatkan kompetensi dalam membangun daya saing lokal, nasonal, dan global yang direalisasikan dalam berbagai program berikut:

  1. Peningkatan karakter yang berkepribadian Indonesia, diantaranya melalui program apel pagi, tadarrus harian,sholat berjamaah, penegakan tata tertib sekolah dan kedisiplinan dalam SOP pelayanan.
  2. Peningkatkan kemampuan berkomunikasi, diantaranya melalui pengaktifan peserta didik pada kegiatan ekstra kurikuler dan penerapan metode scientific Pendidik pada proses pembelajaran g
  3. Penguasaan teknologi informasi dan komunikasi yang diintegrasikan dengan keterampilan mengelola informasi., melalui kegiatan daya Dukung TIK pada setiap Tugas mata pelajaran dengan fasilitas Laboratorium Komputer
  4. Penguasaan keterampilan kolaborasi pada jejaring lokal, nasional, bahkan jejaring internasional terutama melalui jejaring teknologi.
  5. Meningkatkan tanggung jawab pengembangan individu dalam kolaborasi siswa antar sekolah dalam ruang lingkup lokal, nasional, maupun global.
  • Meningkatkan pemanfaatan sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan terhadap media belajar dengan meningkatkan pemanfaatan multi media, menggunakan sumber kepustakaan manual dan elektronik, menggunakan sumber daya lingkungan alam dan sosial untuk meningkatkan penguasaan fakta, konsep, prosedur dan metakognitif.
    • Meningkatkan efektivitas sumber daya lokal untuk penguatan jati diri kedaerahan dalam rangka meningkatkan keunggulan budaya pada konteks nasional dan global. .

 

  1. VISI SEKOLAH

 

Perkembangan dan tantangan masa depan seperti perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi, globalisasi yang sangat cepat, era informasi dan komunikasi, berubahnya kesadaran masyarakat dan orang tua terhadap pendidikan memicu sekolah untuk merespon tantangan sekaligus peluang tersebut. MA.MASALIKIL HUDA Kabupaten Jepara memiliki citra moral yang menggambarkan profil sekolah yang diinginkan di masa datang yang diwujudkan dalam visi Sekolah.  Indikator  visi MA.MASALIKIL HUDA adalah:

  1. Memiliki kemampuan diberbagai bidang dengan tetap menjaga nilai-nilai islami
  2. Memiliki kompetensi di bidang akademik dan sosial
  3. Memiliki kemampuan berinteraksi yang baik dengan lingkungan sosial dimanapun berada.
  4. Berperilaku santun dan berbudi pekerti luhur
  5. Memiliki kemampuan berpikir kritis dan mampu memecahkan masalah (probem solving) untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut
  6. Memiliki kecakapan hidup (life skill) sebagai bekal hidup di  masyarakat

Indikator visi tersebut dituangkan dalam kalimat sebagai berikut :

VISI MA.MASALIKIL HUDA

 
   

 

 

Terwujudnya generasi  islam multiguna islami, berahlakul karimah, cerdas dan  trampil serta terbentuknya madrasah hebat bermartabat

 
   

 

 

Visi tersebut diatas mencerminkan cita – cita sekolah yang berorientasi ke depan dengan memperhatikan  potensi kekinian, sesuai dengan norma dan harapan masyarakat

 

  1. MISI SEKOLAH

Untuk mewujudkan visi yang dicita- citakan tersebut, Sekolah Menengah Atas Nahdlatul Ulama’ MA.NASALIKIL HUDA  menentukan langkah-langkah strategis yang dinyatakan dalam misi berikut ini :

COLOM ? 

 

MISI MA.MASALIKIL HUDA

  1. Memberikan pelayanan pengajaran ilmu Agama
  2. Memberikan pelayanan pengajaran ilmu pengetahuan dan teknologi
  3. Memberikan pengajaran mengenai kemampuan berinteraksi timbal balik dengan alam sekitar yang dilandasi dengan nilai-nilai akhlak mulia.
  1. Memberikan bekal kemampuan berpikir kritis dan pengembangkan kecakapan hidup (life Skill)

 

  1. TUJUAN SEKOLAH

Tujuan sekolah merupakan penjabaran dari pernyataan misi, sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Penetapan tujuan pada umumnya didasarkan pada faktor-faktor kunci keberhasilan yang dilakukan setelah penetapan visi dan misi. Tujuan tidak selalu harus dinyatakan dalam bentuk kuantitatif, tetapi harus dapat menunjukkan kondisi yang ingin dicapai di masa mendatang.

Tujuan sekolah merupakan hasil penyelenggaraan pendidikan yang akan dicapai, yang dapat dijelaskan sebagai berikut, bahwasanya tujuan sekolah adalah :

  1. a) Menggambarkan tingkat kualitas yang perlu dicapai dalam jangka menengah (empat tahunan), dalam hal ini digambarkan kompetensi yang akan sekolah wujudkan.
  2. b) Penentuan indikator kompetensi mengacu pada visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional serta relevansinya dengan kebutuhan masyarakat;
  3. c) Penentuan indikator kompetensi mengacu pada standar kompetensi lulusan yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah;
  4. d) Mengakomodasi masukan dari berbagai pihak yang berkepentingan termasuk komite sekolah/madrasah dan diputuskan oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala sekolah/madrasah;
  5. e) Tujuan satuan pendidikan selanjutnya disosialisasikan kepada warga satuan pendidikan dan segenap pihak yang berkepentingan.

 

Adapun Tujuan Sekolah MA.MASALIKIL HUDA antara lain :

  • Tujuan Umum Sekolah

Tujuan Umum MA.MASALIKIL HUDA antara Lain :

  1. Mewujudkan budaya islami yang santun dan dilandasi budi pekerti luhur yang sesuai dengan ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah
  2. Mewujudkan mutu pelayanan pendidikan yang optimal kepada peserta didik, orang tua, dan masyarakat.
  3. Mewujudkan penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran yang efektif, dengan kualitas profesional guru sesuai dengan bidangnya.
  4. Meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitarnya
  5. Menyiapkan siswa untuk dapat melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi
  6. Menyiapkan siswa untuk dapat bersaing di dunia kerja
  7. Mewujudkan lulusan yang beriman dan bertaqwa untuk membentengi dari faham radikalisme
  8. Mewujudkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu bersaing di era global
  9. Mewujudkan pengembangan kreativitas siswa dalam bidang keagamaan, keilmuan, seni, sosial, olahraga dan ketrampilan

 

  • Tujuan Khusus MA.MASALIKIL HUDA
  1. Menerima seluruh pendaftar sebagai amanat program wajib belajar 9 tahun
  2. Lulusan dapat melanjutkan ke perguruan tinggi negeri baik lewat SNMPTN, SBMPTN dan Jalur Mandiri Perguruan Tinggi minimal 20 %
  3. Tepat waktu Studi selama 3 tahun
  4. Kehadiran siswa minimal 75 %
  5. Kehadiran guru minimal 75 %
  6. Nilai rata-rata siswa minimal KKM pada setiap mata pelajaran
  7. Seluruh guru dan karyawan dapat mengoperasikan komputer dan internet
  8. Nilai rata-rata siswa yang mengikuti UN minimal 5,5 pada setiap mata pelajaran
  9. Nilai kinerja guru minimal 75%
  10. Seluruh guru dapat membuat dan mengembangkan silabus, Prota, Promes, RPP sesuai karakteristik siswa dan mata pelajaran yang diampunya.
  11. Siswa dapat mengikuti kejuaraan di bidang akademik dan non akademik tingkat kabupaten melalui seleksi sekolah.
  12. Siswa dapat mengikuti kejuaraan di bidang akademik dan non akademik tingkat Provinsi melalui seleksi Kabupaten.
  13. Pembiasaan Tadarrus Alqur’an dan sholat jama’ah dhuhur minimal 85%
  14. Pembiasaan Kebersihan kelas dan Lingkungan minimal 90 %
  15. Keaktifan kegiatan ekstra kurikuler minimal 75 %.
  16. Keaktifan kegiatan penumbuhan karakter minimal 80%
  17. Keaktifan Kegiatan Pengembangan Literasi minimal 80%
  18. Manajemen sekolah berasaskan jujur, terbuka, demokratis dan akuntabel

 

 

 

 

  1. INDIKATOR KOMPETENSI LULUSAN

Indikator kompetensi lulusan tingkat satuan pendidikan dijabarkan dari dalam berbagai inidkator berikut seperti pada tabel

Tabel 3.1 Indikator Kompetensi Lulusan

No.

Kompetensi Spiritual

Indikator Pencapaian Sikap Spiritual

 

A.

Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

 

1.

Menerima kehidupan sebagai anugrah.

2.

Mesyukuri nikmat kehidupan sebagai bentuk kasih sayang Allah.

3.

Melaksanakan aktivitas hidup yang diperintahkan Allah

4.

Menghindari perbuatan....(yang dilarang

Allah)

5.

Berbuat baik demi kemaslahatan bersama.

6.

Mematuhi peraturan

7.

Berbuat ikhlas

B.

Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), san- tun, responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai perma-salahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menem-patkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

 

1.

Bersikap jujur

2.

Berdisiplin dalam mematuhi peraturan

3.

Bertanggungjawab dengan melaksana- kan tugas dengan baik

4.

Bekerja sama untuk kebaikan umum

5.

Menghormati hak orang lain.

6.

Santun dalam bertindak.

7.

Menolong teman yang sedang dalam kesulitan

8.

Menunjukkan daya insiatif

9.

Proaktif dalam membangun solusi

10.

Antisiatif untuk mencegah timbulnya resiko buruk

11.

Giat bekerja sama

12.

Berkomunikasi dengan rendah hati

13.

Bersikap tegas menolak keburukan

C

 

 

Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan meta kognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengeta huan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kene-garaan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan keja-dian, serta menerapkan pengeta-huan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk

 

1.

Memahami pengetahuan (faktual, konsep-tual, prosedural, dan metakonitif) tentang iptek, seni, budaya dan humaniora serta peradaban

2.

Menganalisis pengetahuan (faktual, konsep tual, prosedural, dan metakonitif) tentang iptek, seni, budaya, humaniora serta peradaban

3.

Berpikir kritis terhadap penyebab fenomena dan kejadian

4.

Memaham cara menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, prosedural, dan metakonitif) tentang iptek, seni, budaya, humaniora, serta peradaban.

5.

Mampu memecahkan masalah dengan dilandasi pengetahuan yang dikuasinya.

6.

Melaksanakan pengkajian spesifik pada bidang yang diminati serta sesuai dengan kebakatannya.

7.

Berpikir kritis, ilmiah, kreatif, inovatif, produktf, kolaboratif.

D.

Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengem bangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

 

1.

Mengolah fakta, data, dan informasi

 

2.

Mengintegrasikan fakta, data, dan informasi dalam merumuskan kesimpulan.

 

3.

Mengembangkan keterampilan berpikir dengan menggunakan pengetahuan yang dipelajarinya di sekolah.

 

4.

Mengembangkan karya secara mandiri dengan modal pengetahuan yang dipelajarinya.

 

5.

Mengembangkan kreasi dalam menciptakan hal-hal baru.

 

6.

Menerapkan motode atau prosedur sesuai dengan kaidah keilmuan.

 

7.

Menggunakan pikiran pada ranah abstrak menjadi karya cipta yang bermanfaat.

 

8.

Mengkomunikasi hasil karya secara efektif

 

9.

Mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi

 

10.

Menggunakan bahasa asing  Arab

 

           

 

Mewujudkan mutu lulusan tingkat satuan pendidikan yang meliputi dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagaimana terurai pada tabel 3.2 berikut:

 

 

 

 

 

 

Tabel 3.2 : Indikator kompetensi Lulusan

NO

Standar Nasional

Target Kompetensi Satuan Pendidikan

Sumber Daya Utama

A

Sikap

 

 

 

Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap:

1) beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME,

2) berkarakter, jujur, dan peduli,

3) bertanggungjawab,

4) pembelajar sejati sepanjang hayat, dan

5) sehat jasmani dan rohani sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan internasional.

Setiap siswa berkompeten dalam:

1) Menghayati nilai-nilai toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

2) Mengamalkan agama dalam kehidupan sehari-hari

3) Lebih dengan kitab suci sebagai pedoman hidup.

4) Menerapkan nilai-nilai jujur, peduli, tanggung jawab dalam kehidupan sehari di sekolah.

5) Menjalankan peran siswa sebagai insan pembelajar

6) Bersikap hidup sehat

7) Menghayati dan mengamalkan sikap peduli lingkungan

8) Menjalankan aktivitas untuk meraih kemuliaan kehidupan dunia dan akhirat.

 

Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang agamis, berkarakter, sehat, pembelajar, dan berperan menjadi teladaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B.

Pengetahuan

 

 

 

Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks berkenaan dengan:

1. ilmu pengetahuan,

2. teknologi,

3. seni,

4. budaya, dan

5. humaniora.

Mampu mengaitkan pengetahuan di atas dalam konteks diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, serta kawasan regional dan internasional

Menguasai pengetahuan faktual, koseptual, prosedural, dan meta- kognitif berkaitan:

1. ilmu pengetahuan,

2. teknologi,

3. seni,

4. budaya, dan

5. humaniora.

serta siswa mampu mengaitkan semua itu pada konteks kehidupan di sekitarnya.

Guru menguasai pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif yang menjadi muatan kurikulum untuk ditransfer kepada siswa melalui pembelajaran.

• Sekolah berdaya dalam memfasilitasi siswa menggunakan sumber dan media belajar yang sesuai dengan yang siswa butuhkan.

C.

Ketrampilan

 

 

 

Memiliki keterampilan berpikir dan bertindak:

1. efektif,

2. kreatif,

3. produktif,

4. kritis,

5. mandiri,

6. kolaboratif,

7. komunikatif, dan

8. solutif,

melalui pendekatan ilmiah sebagai pengembangan dari yang dipelajari di satuan pendidikan dan sumber lain secara mandiri

Siswa terampil berpikir

1. ilmiah

2. kritis

3. efektif

4. kreatif

5. mandiri

6. Produktf

7. Kolaboratif

Siswa terampil bertindak

1. Mendayagunakan teknologi.

2. Berkomunikasi Berkolaborasi

3. Memimpin

4. Membuat keputusan

 

Guru terampil merumuskan kompetensi tentang penguasaan dan penerapan ilmu pengetahuan.

SMA NU Kedung memfasilitasi siswa mengembang kan keterampilan bertindak.

 

 

 

 

 

BAB IV

STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM

 

  1. KARAKTERISTIK KURIKULUM

Kurikulum tingkat satuan pendidikan di MA.MASALIKIL HUDA dikembangkan dengan karakteristik sebagai berikut :

1) Mengembangkan keseimbangan antara sikap spiritual dan sosial, pengetahuan, dan keterampilan, serta menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat;

2) Menempatkan sekolah sebagai bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar agar peserta didik mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar;

3) Memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan;

4) Mengembangkan kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar mata pelajaran;

5) Mengembangkan kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi (organizing elements) kompetensi dasar. Semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti;

6) Mengembangkan kompetensi dasar berdasar pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar-mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).

Mengacu pada enam karakteristik tersebut maka seluruh aktivitas penerapan kurikulum berpusat pada usaha mewujudkan kompetensi inti yang diwujudkan dengan menempatkan sekolah sebagaian bagian dari sistem masyarakat

  1. LANDASAN KURIKULUM
  1. Landasan Filosofis

Kurikulum 2013 dikembangkan mendasarkan pada filosofi sebagai berikut :

  1. Pendidikan yang dilaksanakan berakar pada budaya bangsa maupun kearifan lokal untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang.
  2. Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif.
  3. Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecemerlangan akademik melalui pendidikan disiplin ilmu.
  4. Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik daripada masa lalu melalui peningkatan kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik (experimentalism and social reconstructivism)

 

  1. Landasan Sosiologis

Kurikulum 2013 dikembangkan atas dasar adanya kebutuhan akan perubahan rancangan dan proses pendidikan, dalam rangka memenuhi dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sebagaimana termaktub dalam tujuan pendidikan nasional. Perkembangan suatu bangsa semestinya mengikuti perkembangan zaman dan perkembangan Ilmu pengetahuan dan Teknologi Informatika dan Komunikasi. Demikian juga dengan sistem pendidikan yang dianut semestinya bersifat sangat dinamis, mengikuti perubahan sosial yang berkembang sesuai tuntutan baru dalam masyarakat, dunia kerja, dan dunia ilmu pengetahuan yang berimplikasi pada tuntutan perubahan kurikulum secara terus menerus.

 

  1. Landasan Pedagogis

Kurikulum 2013 dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan perwujudan konsepsi pendidikan yang berorientasi pada perkembangan potensi dan minat peserta didik, beserta konteks kehidupannya sebagaimana dimaknai dalam konsepsi pedagogik transformatif. Konsepsi ini menegaskan bahwa kurikulum harus didudukkan sebagai wahana pendewasaan peserta didik sesuai dengan perkembangan psikologisnya dan mendapatkan perlakuan pedagogis sesuai dengan konteks lingkungan dan jamannya. Dengan demikian kurikulum dan pembelajaran selain mencerminkan muatan pengetahuan sebagai bagian dari peradaban manusia, juga mewujudkan proses pembudayaan peserta didik sepanjang hayat

 

  1. Landasan Teoritis

Kurikulum 2013 dikembangkan atas teori “pendidikan berdasarkan standar” (standard-based education), dan teori kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum). Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan untuk bersikap, berpengetahuan, berketerampilan, dan bertindak.

Kurikulum 2013 menganut: (1) pembelajaran yang dilakukan guru (taught curriculum) dalam bentuk proses yang dikembangkan berupa kegiatan pembelajaran di sekolah, kelas, dan masyarakat; dan (2) pengalaman belajar langsung peserta didik (learned-curriculum) sesuai dengan latar belakang, karakteristik, dan kemampuan awal peserta didik. Pengalaman belajar langsung individual peserta didik menjadi hasil belajar bagi dirinya, sedangkan hasil belajar seluruh peserta didik menjadi hasil kurikulum.

 

  1. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN MA.

Standart kompetensi lulusan SMA seperti yang tercantum dalam Permendikbud No. 54 Tahun 2013 dan Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan No.20 tahun 2016 tentang SKL Pendidikan Dasar dan Menengah sebagaimana pada Tabel 4.1 sebagai berikut :

Tabel 4.1 KOMPETENSI LULUSAN SMA/MA/SMK/MAK/SMALB/Paket C

Lulusan SMA/MA/SMK/MAK/SMALB/Paket C memiliki sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai berikut.

Dimensi

Kualifikasi Kemampuan

Sikap

Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

Pengetahuan

Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian.

Keterampilan

Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri.

KOMPETENSI INTI

DESKRIPSI KOMPETENSI

Sikap Spritual

1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

Sikap Sosial

2. Menghayati dan mengamalkan perilaku:

a.     jujur,

a.     disiplin,

b.     santun,

c.      peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai),

d.     bertanggung jawab,

e.      responsif, dan

f.       pro-aktif,

Dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan kawasan internasional.

Pengetahuan

3. Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks berdasarkan rasa ingin tahunya tentang

a. ilmu pengetahuan,

b. teknologi,

c. seni,

d. budaya, dan

e. humaniora

Dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

Ketrampilan

4. Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara:

 a. efektif,

b. kreatif,

c. produktif,

d. kritis,

e. mandiri,

f. kolaboratif,

g. komunikatif, dan

h. solutif,

Dalam ranah konkret dan abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu menggunakan metoda sesuai dengan kaidah keilmuan.

 

  1. STRUKTUR KURIKULUM PAKET SEMESTER

 

  1. Kompetensi Inti SMA Kelas X-XII

Kompetensi inti MA Kelas  X-XII adalah sebagaimana termuat dalam Standar Isi (KI-1,KI-2,KI-3 dan KI-4) dan juga pada permendikbud Nomor 24 Tahun 2016 tentang KI dan KD, sebagaimana pada Tabel 4.2 berikut :

 

 

Tabel 4.2 : KI-1,KI-2,KI-3,KI-4 dan DK

KOMPETENSI INTI

DESKRIPSI KOMPETENSI

KI-1

Sikap Spritual

1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

KI-2

Sikap Sosial

2.Menghayati dan mengamalkan perilaku :

a. jujur,

b.disiplin,

c. santun,

d.peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai),

e. bertanggung jawab,

f. responsif, dan

g. pro-aktif.

Dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan kawasan internasional.

KI-3

Pengetahuan

3. Memahami, menerapkan, menganalisis dan menge-valuasi pengetahuan faktual, konseptual, prose-dural, dan metakognitif pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks berdasarkan rasa ingin tahunya tentang :

a. ilmu pengetahuan,

b. teknologi,

c. seni,

d. budaya, dan

e. humaniora

Dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenega raan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

KI-4

Ketrampilan

4. Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara :

a. efektif,

b. kreatif,

c. produktif,

d. kritis,

e. mandiri,

f. kolaboratif,

g. komunikatif, dan

h. solutif,

Dalam ranah konkret dan abstrak terkait dengan pengembangan diri yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu menggunakan metoda sesuai dengan kaidah keilmuan.

 

  1. Mata Pelajaran

Struktur Kurikulum MA.MASALIKI HUDA terdiri atas mata pelajaran umum kelompok A, mata pelajaran umum kelompok B, dan mata pelajaran peminatan akademik kelompok C. Mata pelajaran peminatan akademik kelompok C dikelompokkan atas mata pelajaran Peminatan IPS dan Ilmu Pengetahuan Alam, mata pelajaran Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial, dan mata pelajaran Peminatan Bahasa dan Budaya.

MA.MASALIKIL HUDA membuka dua kelompok peminatan yakni Kelompok Peminatan  IPA dan Kelompok Peminatan IPS dengan lintas Minat sesuai pada Tabel 4.3 berikut :

Tabel 4.3.1

Struktur kurikulum MA.MASALIKIL HUDA Kelas X Peminatan MIPA

Mata Pelajaran

Alokasi Waktu Per Minggu

semester I

semester II

KELOMPOK A (UMUM)

1.

Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

3

3

2.

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

2

2

3.

Bahasa Indonesia

4

4

4.

Matematika

4

4

5.

Sejarah Indonesia

2

2

6.

Bahasa Inggris

2

2

Kelompok B (UMUM)

7.

Seni Budaya

2

2

8.

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan)

3

3

9.

Prakarya dan Kewirausahaan

2

2

10.

Bahasa Jawa (wajib)

2

2

Jumlah jam pelajaran kelompok A dan B per minggu

26

26

Kelompok C ( Mata pelajaran peminatan akademik dan Lintas Minat)

11.

Matematika Peminatan

3

3

12.

Fisika

3

3

13.

Kimia

3

3

14.

Biologi

3

3

Jumlah Jam  MataPelajaran Peminatan perminggu

12

12

Kelompok Mata pelajaran pilihan lintas minat

15.

Bahasa dan Sastra Asing (arab))

3

3

16

Sosiologi

3

3

Jumlah Jam Mata Pelajaran Lintas Minat perminggu

6

6

Jumlah jam pelajaran kelompok A, B,& C per minggu

44

44

 

 

 

 

Tabel 4.3.2

Struktur kurikulum MA.MASALIKIL HUDA Kelas X Peminatan IPS

Mata Pelajaran

Alokasi Waktu Per Minggu

semester I

semester II

KELOMPOK A (UMUM)

 

1.

Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

3

3

2.

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

2

2

3.

Bahasa Indonesia

4

4

4.

Matematika

4

4

5.

Sejarah Indonesia

2

2

6.

Bahasa Inggris

2

2

Kelompok B (UMUM)

 

7.

Seni Budaya

2

2

8.

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan)

3

3

9.

Prakarya dan Kewirausahaan

2

2

10.

Bahasa Jawa (wajib)

2

2

Jumlah jam pelajaran kelompok A dan B per minggu

 

26

26

 

Kelompok C ( Mata pelajaran peminatan dan Lintas Minat)

 

(a)   Mata Pelajaran Peminatan

11.

Geografi

3

3

12.

Sejarah

3

3

13.

Sosiologi

3

3

14.

Ekonomi

3

3

Jumlah Jam  MataPelajaran Peminatan perminggu

12

12

(b)    Mata pelajaran pilihan lintas minat

15.

Bahasa dan Sastra Asing (arab))

3

3

16

Kimia

3

3

Jumlah Jam Mata Pelajaran Lintas Minat perminggu

6

6

 

Jumlah jam pelajaran kelompok A, B,& C per minggu

 

 

44

 

44

 

 

 

Tabel 4.3.3

Struktur kurikulum MA.MASALIKIL HUDA Kelas XI Peminatan MIPA

Mata Pelajaran

Alokasi Waktu Per Minggu

semester I

semester II

 

KELOMPOK A (UMUM)

 

1.

Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

3

3

2.

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

2

2

3.

Bahasa Indonesia

4

4

4.

Matematika

4

4

5.

Sejarah Indonesia

2

2

6.

Bahasa Inggris

2

2

 

Kelompok B (UMUM)

 

7.

Seni Budaya

2

2

8.

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan)

3

3

9.

Prakarya dan Kewirausahaan

2

2

10.

Bahasa Jawa (wajib)

2

2

Jumlah jam pelajaran kelompok A dan B per minggu

26

26

 

Kelompok C ( Mata pelajaran peminatan dan Lintas Minat)

 

(a)      Mata Pelajaran Peminatan

11.

Matematika Peminatan

4

4

12.

Fisika

4

4

13.

Kimia

4

4

14.

Biologi

4

4

Jumlah Jam  MataPelajaran Peminatan perminggu

16

16

(b)       Mata pelajaran pilihan lintas minat

15.

Bahasa dan Sastra Asing (arab))

4

4

Jumlah Jam Mata Pelajaran Lintas Minat perminggu

4

4

 

Jumlah jam pelajaran kelompok A, B,& C per minggu

 

 

46

 

46

 

 

Tabel 4.3.4

Struktur kurikulum MA.MASALIKIL Kelas XI Peminatan IPS

 

Mata Pelajaran

Alokasi Waktu Per Minggu

semester I

semester II

 

KELOMPOK A (UMUM)

 

1.

Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

3

3

2.

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

2

2

3.

Bahasa Indonesia

4

4

4.

Matematika

4

4

5.

Sejarah Indonesia

2

2

6.

Bahasa Inggris

2

2

 

Kelompok B (UMUM)

 

7.

Seni Budaya

2

2

8.

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan)

3

3

9.

Prakarya dan Kewirausahaan

2

2

10.

Bahasa Jawa (wajib)

2

2

Jumlah jam pelajaran kelompok A dan B per minggu

 

 

26

 

26

 

Kelompok C ( Mata pelajaran peminatan dan Lintas Minat)

 

(a)  Mata Pelajaran Peminatan

11.

Geografi

4

4

12.

Sejarah

4

4

13.

Sosiologi

4

4

14.

Ekonomi

4

4

Jumlah Jam  MataPelajaran Peminatan perminggu

16

16

(b)  Mata pelajaran pilihan lintas minat

15.

Bahasa dan Sastra Asing (arab))

4

4

Jumlah Jam Mata Pelajaran Lintas Minat perminggu

4

4

 

Jumlah jam pelajaran kelompok A, B,& C per minggu

 

 

46

 

46

 

Keterangan:

1) Mata pelajaran Kelompok A dan C merupakan kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat.

2) Mata pelajaran Kelompok B merupakan kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat dan dapat dilengkapi dengan muatan/konten lokal.

3) Mata pelajaran Kelompok B dapat berupa mata pelajaran muatan lokal yang berdiri sendiri.

4) Muatan lokal dapat memuat Bahasa Daerah.

5) Satu jam pelajaran beban belajar tatap muka adalah 45 menit.

6) Beban belajar penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri, maksimal 60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan.

7) Satuan pendidikan dapat menambah beban belajar per minggu sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik dan/atau kebutuhan akademik, sosial, budaya, dan faktor lain yang dianggap penting, namun yang diperhitungkan Pemerintah maksimal 2 (dua) jam/minggu.

8) Pada Mata Pelajaran Seni Budaya dan Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan, satuan pendidikan wajib menyelenggarakan minimal 2 aspek dari 4 aspek yang disediakan. Peserta didik mengikuti salah satu aspek yang disediakan untuk setiap semester, aspek yang diikuti dapat diganti setiap semesternya.

9) Kegiatan ekstrakurikuler terdiri atas Pendidikan Kepramukaan (wajib), usaha kesehatan sekolah, Bela Diri, Panjat Tebing, Tata Rias, Rebana, Tata Boga, Teater,OSN,Olah raga (Voly,Futsal,sepakBola,Wood Ball)

Mata pelajaran umum kelompok A merupakan program kurikuler yang bertujuan mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan peserta didik sebagai dasar penguatan kemampuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Mata pelajaran umum kelompok B merupakan program kurikuler yang bertujuan mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan peserta didik terkait lingkungan dalam bidang sosial, budaya, dan seni

 

  1. PEMINATAN DAN LINTAS MINAT
  2. Peminatan

Mata Pelajaran

Alokasi Waktu Per Minggu

X

XI

A. Peminatan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

 

1

Matematika

3

4

2

Biologi

3

4

3

Fisika

3

4

4

Kimia

3

4

B. Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial

 

5

Geografi

3

4

6

Sejarah

3

4

7

Sosiologi

3

4

8

Ekonomi

3

4

A.   Peminatan Bahasa dan Budaya

1

Bahasa dan Sastra Indonesia

3

4

2

Bahasa dan Sastra Inggris

 

3

4

3

Bahasa dan sastra Asing Arab

3

4

4

Antropologi

3

4

Pilihan lintas minat dan/atau pendalaman minat

9 atau 12

4 atau 8

 

Pemilihan Peminatan dan Pemilihan Mata Pelajaran Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat Kurikulum SMA/MA dirancang untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik belajar berdasarkan minat mereka. Struktur kurikulum memperkenankan peserta didik melakukan pilihan dalam bentuk pilihan peminatan dan pilihan mata pelajaran lintas minat dan/atau pendalaman minat.

Memilih peminatan dapat peserta didik lakukan saat mendaftar pada MA.MASALIKIL HUDA berdasarkan nilai rapor Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) atau yang sederajat, nilai ujian nasional SMP/MTs atau yang sederajat, rekomendasi guru bimbingan dan konseling/konselor di SMP/MTs atau yang sederajat, dan hasil tes penempatan (placement test) jika dipandang perlu ketika mendaftar di MA.MASALIKIL HUDA, atau tes bakat dan minat oleh psikolog.

Peserta didik masih mungkin pindah peminatan paling lambat pada awal semester kedua di Kelas X sepanjang daya tampung peminatan baru masih tersedia, berdasarkan hasil pembelajaran berjalan pada semester pertama dan rekomendasi guru bimbingan dan konseling, peserta didik yang pindah peminatan wajib mengikuti dan tuntas matrikulasi mata pelajaran yang belum dipelajari sebelum pembelajaran pada peminatan baru dimulai.

Peserta didik dapat memilih minimal 3 mata pelajaran dari 4 mata pelajaran yang terdapat pada satu peminatan, 1 mata pelajaran yang tidak diambil beban belajarnya dialihkan ke mata pelajaran lintas minat. Selain mengikuti mata pelajaran di peminatan yang dipilihnya, setiap peserta didik harus mengikuti mata pelajaran tertentu untuk lintas minat dan/atau pendalaman minat.

Bila peserta didik mengambil 3 mata pelajaran dari peminatan yang dipilihnya, maka peserta didik tersebut dapat mengambil mata pelajaran lintas minat sebanyak 9 jam pelajaran (3 mata pelajaran) di Kelas X, dan sebanyak 8 jam pelajaran (2 mata pelajaran) di Kelas XI dan XII. Peserta didik yang mengambil 4 mata pelajaran dari peminatan yang dipilihnya, maka peserta didik tersebut dapat mengambil mata pelajaran lintas minat sebanyak 6 jam pelajaran (2 mata pelajaran) di Kelas X atau sebanyak 4 jam pelajaran (1 mata pelajaran) di Kelas XI dan XII.

MA.MASALIKIL HUDA pada tahun pelajaran 2018/2019 telah tetap dua kelas peminatan  yakni MIPA,IPS .

  1. Lintas Minat

Peserta didik yang mengambil Peminatan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atau Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial, lintas minatnya harus di luar peminatan yang dipilihnya. Sedangkan peserta didik yang mengambil Peminatan Bahasa dan Budaya, dapat mengambil mata pelajaran lintas minat: (1) di luar; (2) di dalam; atau (3) sebagian di dalam dan sebagian di luar, peminatan yang dipilihnya.

Ilustrasi lintas minat dapat dilihat pada contoh berikut. Seorang calon siswa bercita-cita untuk melanjutkan studinya setamat MA ke Fakultas Kedokteran. Waktu masuk SMA ia memilih peminatan MIPA. Namun demikian ia juga ingin berbisnis, karena itu ia tak mengambil fisika, melainkan memilih mata pelajaran ekonomi. Di samping itu, ia juga ingin memiliki hubungan baik dengan Arab, maka ia memilih lintas minat bahasa Arab.

Mata pelajaran lintas minat yang dipilih sebaiknya tetap dari Kelas X sampai dengan XII. Sebagai contoh, peserta didik Kelas X yang memilih Peminatan Bahasa dan Budaya, dapat mengambil 3 mata pelajaran yaitu Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, dan Antropologi. Lintas minatnya dapat mengambil mata pelajaran: (1) Biologi, Fisika, dan Kimia; (2) Geografi, Sejarah, dan Ekonomi; (3) Matematika, Sosiologi, dan Bahasa Jerman; atau (4) Bahasa Mandarin, Bahasa Arab, dan Bahasa Jepang. Alternatif (1), (2), dan (3) merupakan contoh lintas minat di luar peminatan yang dipilihnya, sedangkan alternatif (4) merupakan contoh lintas minat di dalam peminatan yang dipilihnya.

Peserta didik dapat menentukan pilihannya masing-masing, sesuai dengan sumber daya (ketersediaan guru dan fasilitas belajar) yang dimiliki SMA/MA. SMA/MA yang tidak memiliki Peminatan Bahasa dan Budaya, dapat menyediakan pilihan mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, Antropologi atau salah satu mata pelajaran dalam kelompok Bahasa Asing Lain sebagai pilihan mata pelajaran lintas minat yang dapat diambil peserta didik dari Peminatan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atau Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial, sesuai dengan sumber daya (ketersediaan guru dan fasilitas belajar) yang dimilikinya.

Bagi peserta didik yang menggunakan pilihan untuk menguasai satu mata pelajaran tertentu misalnya bahasa asing tertentu, dianjurkan untuk memilih mata pelajaran yang sama sejak Kelas X sampai Kelas XII. Dianjurkan setiap SMA/MA memiliki ketiga peminatan.

 

 

 

  1. Pendalaman Minat

Konsep pelaksanaan pendalaman minat adalah umum mempersiapkan siswa SMA Kelas XII memasuki perguruan tinggi. Mereka dapat mengambil mata kuliah pilihan di perguruan tinggi yang akan diakui sebagai kredit dalam kurikulum perguruan tinggi yang bersangkutan. Pilihan ini perlu sekolah sediakan dengan cara membangun kerjasama dengan perguruan tinggi terkait. Pendalaman minat mata pelajaran tertentu dalam peminatan dapat diselenggarakan oleh satuan pendidikan melalui kerjasama dengan perguruan tinggi di kelas XII.

Kegiatan layanan pendalaman minat akan sekolah coba laksanakan setelah sekolah mendata minat dan pilihan siswa masuk perguruan tinggi. Program pelayanan akan sekolah usahakan melalui kerja sama sekolah dengan perguruan tinggi

 

  1. PENGATURAN BEBAN BELAJAR

Terkait dengan penambahan Beban Belajar MA MASALIKIL HUDA, maka sekolah dapat menambah beban belajar 2 (dua) jam per minggu sesuai dengan kebutuhan siswa dan/atau kebutuhan akademik, sosial, budaya, dan faktor lain yang dianggap penting. Untuk mata pelajaran seni budaya, prakarya, dan kewirausahaan, satuan pendidikan wajib menyelenggarakan minimal 2 dari 4 aspek yang disediakan. Siswa mengikuti salah satu aspek yang disediakan untuk setiap semester, aspek yang diikuti dapat diganti setiap semester.

Pengaturan beban belajar merupakan konsep dan pelaksanaan pembelajaran dengan menjabarkan total kegiatan belajar secara operasional sesuai dengan karakteristik pelaksanaan satuan kredit semester, pengaturan minggu efektif, kegiatan tatap muka, pengaturan tugas terstruktur dan tidak terstruktur pada sejumlah mata pelajaran pada setiap semester dalam satuan tahun pelajaran. Prinsip utama pada sistem satuan semester meliputi tiga aspek, yaitu : pembelajaran tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri.

Pengaturan beban belajar pada dasarnya untuk memberikan pelayanan belajar kepada siswa agar sesuai dengan potensi, bakat, minat, kemampuan, dan kecepatan belajarnya, sehingga siswa dapat mengembangkan dirinya secara optimal. Sekolah menyadari dalam melaksanakan kurikulum 2013, siswa diharapkan dapat beraktivitas dan berkarya pada tiap mata pelajaran. Oleh karena itu, beban belajar yang harus siswa tanggung menjadi bertambah banyak, sehingga jika beban belajar siswa berlebih, maka dapat berpengaruh kontra produktif terhadap perkembangan diri siswa. Karena alasan itulah maka sekolah memandang perlu untuk mengatur beban belajar pada tiap semester.

Pengaturan beban belajar meliputi tiga aspek utama dan aktivitas belajar tambahan, yaitu :

1) Aktivitas tatap muka dalam ruang kelas, Laboratorium, workshop, bengkel kerja, kebun percobaan atau pengaturan pembelajaran lainnya.

2) Kegiatan belajar virtual adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara maya dengan memanfaatkan berbagai jaringan Teknologi Informasi dan Komunikasi baik secara terstruktur atau mandiri.

3) Kegiatan terstruktur/kokurikuler, yaitu pembelajaran dalam bentuk penugasan dari pendidik terkait muatan atau mata pelajaran yang berfungsi sebagai proses pendalaman atau perluasan pengalaman belajar yang diterima setelah kegiatan tatap muka.

4) Kegiatan Mandiri adalah kegiatan belajar yang dilakukan oleh peserta didik atas inisiatif atau dengan stimulasi pendidik yang berfungsi sebagai proses pendalaman atau perluasan pengalaman belajar yang diterima dalam kegiatan tatap muka dan/atau terstruktur;

5) Program remedial dan pengayaan, yaitu pengorganisasian kegiatan belajar yang untuk membantu peserta didik mencapai kriteria ketuntasan belajar bagi yang belum tuntas dan penguasaan materi lebih tinggi bagi yang telah mencapai ketuntasan;

6) Program ekstrakurikuler yang dibahas dalam pengaturan tersendiri.

Pengaturan beban belajar didasari dengan konsep belajar tuntas, sistem belajarnya menekankan pada prinsip bahwa setiap peserta didik dapat belajar untuk memenuhi kriteria ketuntasan belajar sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing. Ketuntasan Belajar adalah tingkat minimal pencapaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang meliputi ketuntasan penguasaan substansi dan ketuntasan belajar dalam konteks kurun waktu belajar. Cara menetapkan beban belajar dengan sistem satuan semester untuk SMA meliputi 45 menit tatap muka, 60% dari waktu tatap muka untuk kegiatan terstruktur maupuan kegiatan mandiri seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

Kegiatan

Sistem Paket

Tatap muka

45 menit

Penugasan terstruktur

60% x 45 menit = 27 menit

 

Kegiatan mandiri

Jumlah

72 Menit

 

Berdasarkan tabel, sekolah menentukan jumlah maksimum waktu yang digunakan siswa untuk setiap satu jam tatap muka sebanyak-banyaknya 54 menit. Pengaturan beban belajar berdasarkan waktu yang harus siswa alokasikan pada setaip minggu efektif pada tiap semester. Komposisi beban belajar untuk peserta didik  MA.MASALIKILL HUDA terdiri atas : mata pelajaran kelompok A (umum), mata pelajaran kelompok B (umum), dan mata pelajaran kelompok C (peminatan), serta lintas minat dan/atau pendalaman minat. Hal lain yang perlu siswa laksanakan adalah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

Pengaturan minggu efektif dapat dilihat pada tabel berikut :

NO

KEGIATAN

ALOKASI

WAKTU

KETERANGAN

 

Minggu efektif belajar reguler setiap tahun (Kelas  X-XI).

 

Minimal 36 minggu

 

Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan

 

 

Minggu efektif semester ganjil tahun terakhir setiap satuan pendidikan (Kelas  XII)

 

Minimal 18 minggu

 

 

 

Minggu efektif semester genap tahun terakhir setiap satuan pendidikan (Kelas  XII).

 

Minimal 14 minggu

 

 

 

Jeda tengah semester

Maksimal 2 minggu

Satu minggu setiap semester

 

Jeda antarsemester

Maksimal 2 minggu

Antara semester I dan II

6.

Libur akhir tahun ajaran

Maksimal 3 minggu

Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan admnistrasi akhir dan awal tahun pelajaran.

7.

Hari libur keagamaan

Maksimal 4 minggu

Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif

8.

Hari libur umum/nasional

Maksimal 2 minggu

Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah

9.

Hari libur khusus

Maksimal 1 minggu

Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing- masing

10.

Kegiatan khusus satuan pendidikan

Maksimal 3 minggu

Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh satuan pendidikan tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif

 

Pengaturan minggu efektif selanjutnya digunakan sebagai dasar menentukan kalender pendidikan.

 

  1. MUATAN LOKAL

Kurikulum muatan adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran yang disusun oleh satuan pendidikan sesuai dengan keragaman potensi daerah, karakteristik daerah, keunggulan daerah, kebutuhan daerah, dan lingkungan sekitar sekolah yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Muatan lokal dapat berupa kurikulum yang memuat materi tentang karakteristik daerah atau karakteristik satuan pendidikan.

Muatan lokal dapat dikembangkan oleh pemerintah daerah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, atau satuan pendidikan. Tujuan penyelenggaraan pembelajaran muatan lokal adalah untuk membentuk pemahaman atau penguasaan potensi daerah tempat tinggal siswa sehingga bermanfaat untuk memberikan bekal sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ruang lingkup kegiatan pembelajaran muatan lokal meliputi:

1) Mengenal dan mencintai lingkungan alam, sosial, budaya dan spiritual di daerahnya atau satuan pendidikan dan;

2) Melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan kearifan daerah atau satuan pendidikan yang berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan nasional.

Prinsip pengembangan muatan lokal yang menjadi perhatian setiap satuan pendidikan, yaitu:

  • Kesesuaian dengan tahap perkembangan peserta didik.
  • Keutuhan dalam Pengembangan Semua Kompetensi.
  • Substansi kurikulum muatan lokal mencakup keseluruhan dimensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan).
  • Fleksibilitas dalam Jenis, Bentuk, dan Pengaturan Waktu.
  • Jenis muatan lokal yang dipilih oleh satuan pendidikan dan pengaturan waktunya yang bersifat fleksibel sesuai dengan kondisi dan karakteristik satuan pendidikan.
  • Penetapan muatan lokal yang berorientasi pada upaya pengenalan, pelestarian dan pengembangan potensi daerah untuk kepentingan nasional dan menghadap tantangan global

Jenis muatan lokal berupa potensi dan keunikan lokal yang terkait dengan seni budaya, prakarya, pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan, bahasa dan/atau teknologi. Jenisnya materi berupa bahasa daerah, kesenian daerah, keterampilan dan kerajinan daerah, adat istiadat, dan pengetahuan tentang berbagai ciri khas lingkungan alam sekitar, serta hal-hal yang dianggap perlu untuk pengembangan potensi dan kebutuhan daerah yang bersangkutan.

Dokumen pendukung pelaksanaan kegiatan pembelajaran muatan lokal mengacu pada struktur silabus yang dikembangkan oleh pemerintah dengan memenuhi standar berikut :

  1. Kompetensi dasar yang mengacu pada kompetensi inti,
  2. Silabus yang memuat pembelajaran dengan pendekatan saintifik dan penilaian otentik, dan
  3. Buku teks pelajaran (buku siswa dan buku guru) berbasis aktivitas dan karya.
  4. Perangkat administrasi pembelajaran.

 

Mekanisme pengembangan muatal lokal pada Kurikulum 2013 di satuan pendidikan dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut:

  1. Analisis konteks lingkungan alam, sosial dan/atau budaya daerah atau satuan pendidikan.
  2. Identifikasi kompetensi yang menjadi keunggulan lokal.
  3. Perumusan kompetensi inti dan kompetensi dasar.
  4. Penentuan tingkat satuan pendidikan yang sesuai untuk setiap kompetensi dasar.
  5. Penetapan muatan lokal sebagai bagian dari muatan pembelajaran atau menjadi muatan pembelajaran.
  6. Penyusunan silabus; dan rencana pelaksanaan pembelajaran.
  7. Penyusunan buku teks pelajaran.

Mekanisme pelaksanaan program muatan lokal dilaksanakan dengan memperhatikan rambu-rambu berikut:

1) Muatan lokal diselenggarakan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan sumber daya pendidikan yang tersedia.

2) Setiap satuan pendidikan dapat menambah beban belajar maksimal 2 (dua) jam/minggu untuk muatan lokal yang ditetapkan sebagai muatan pembelajaran yang berdiri sendiri.

3) Kebutuhan sumber daya pendidikan sebagai implikasi penambahan beban belajar muatan lokal ditanggung oleh pemerintah daerah yang menetapkan.

Daya dukung minimal yang perlu mendapat perhatian untuk melaksanakan program muatan lokal adalah:

  • Kebijakan Muatan Lokal berupa dasar kebijakan.
  • Sumber Daya Pendidikan perlu dipenuhi sesuai dengan kemampuan satuan pendidikan.
  • Tenaga Pendidik Tenaga pendidik yang pengampu muatan lokal, dengan kualifikasi akademik dan kompetensi tenaga pendidik sesuai dengan mata pelajaran muatan lokal yang diampunya.
  • Sarana dan Prasarana Satuan Pendidikan muatan lokal yang ditetapkan oleh pemerintah daerah harus dipenuhi oleh pemerintah daerah, sedangkan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan harus dipenuhi oleh satuan pendidikan.

Atas dasar panduan tersebut, maka sekolah menetapkan muatan lokal yang berdiri sendiri, sebagai berikut:

  • Bahasa Daerah
  • Ke-NU-an
  1. PENUMBUHAN KARAKTER
  2. Rasional

Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelectual) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita. Demikian dinyatakan oleh Ki Hajar Dewantara. Oleh karena itu, transformasi pendidikan nasional Indonesia harus menempatkan karakter sebagai ruh atau dimensi terdalam pendidikan nasional berdampingan dengan intelektualitas yang tercermin dalam kompetensi yang dapat diwujudkan. Dengan karakter yang kuat-tangguh beserta kompetensi yang tinggi, yang dihasilkan oleh pendidikan yang baik, berbagai kebutuhan, tantangan, dan tuntutan baru dapat dipenuhi atau diatasi. Oleh karena itu, selain pengembangan intelektualitas, pengembangan karakter peserta didik sangatlah penting, oleh karenanya pendidikan harus menempatkan potensi-potensi intelektual dan karakter peserta didik sebagai tujuan

Demikian juga laporan Delors untuk pendidikan abad XXI, sebagaimana tercantum dalam buku Pembelajaran : “Harta karun di dalamnya”, menegaskan bahwa pendidikan abad XXI bersandar pada lima tiang pembelajaran sejagat (five pillars of learning), yaitu : learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be serta learning to transform for oneself and society.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah menegaskan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

 

  1. Lima Nilai Utama

Lima nilai utama karakter yang saling berkaitan membentuk jejaring nilai yang perlu dikembangkan sebagai prioritas Gerakan PPK (Penguatan Pendidikan Karakter). Kelima nilai utama karakter bangsa yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. a) Religius, Nilai karakter religius mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Nilai karakter religius ini, meliputi tiga dimensi relasi sekaligus, yaitu hubungan individu dengan Tuhan, individu dengan sesama, dan individu dengan alam semesta (lingkungan).
  2. b) Nasionalis; Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Sub-nilai nasionalis antara lain apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan,taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku,dan agama.

 

  1. c) Mandiri, Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita. Sub-nilai mandiri antara lain etos kerja (kerja keras), tangguh tahan banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.
  2. d) Gotong Royong, Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerjasama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan/ pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan. Sub-nilai gotong royong antara lain menghargai, kerjasama, inklusif, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong menolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan.
  3. e) Integritas, Nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai.
  4. Sembilan Prinsip Penumbuhan Karaker

Penumbuhan karakter di sekolah MA.MASALIKIL HUDA dilaksanakan dengan menerapkan sembilan prinsip sebagai berikut :

  1. a) Nilai-nilai Moral Universal, penumbuhan karakter berfokus pada penguatan nilai-nilai moral universal yang prinsip-prinsipnya dapat didukung oleh segenap individu dari berbagai macam latar belakang agama, keyakinan, kepercayaan, sosial, dan budaya.
  2. b) Holistik Gerakan PPK, upaya penumbuhan gerakan dimaksud dilaksanakan secara holistik, dalam arti pengembangan fisik (olah raga), intelektual (olah pikir), estetika (olah rasa), etika dan spiritual (olah hati) dilakukan secara utuh-menyeluruh dan serentak, baik melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun melalui kolaborasi dengan komunitas-komunitas di luar lingkungan pendidikan.
  3. c) Terintegrasi, pelaksanaan di sekolah dikembangkan dan dilaksanakan dengan memadukan, menghubungkan, dan merangkai berbagai elemen pendidikan dalam satu paket pembelajaran, dan bukan merupakan program tempelan dan tambahan dalam proses pelaksanaan pendidikan.
  4. d) Partisipasi, penumbuhan karakter dilakukan dengan mengikutsertakan dan melibatkan publik seluas-luasnya sebagai pemangku kepentingan pendidikan sebagai suatu gerakan. Kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, komite sekolah, dan pihak-pihak lain yang terkait menyepakati prioritas nilai-nilai utama karakter dan kekhasan sekolah yang diperjuangakan, menyepakati bentuk dan strategi pelaksanaan Gerakan.
  5. e) Kearifan Lokal, gerakan penumbuhan karakter dilaksanakan bertumpu dan responsif pada kearifan lokal nusantara yang beragam dan majemuk agar pergerakan menjadi kontekstual dan membumi.
  6. f) Kecakapan Abad XXI, gerakan penumbuhan karakter merupakan usaha mengembangkan kecakapan-kecakapan yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk hidup pada abad XXI, antara lain kecakapan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kecakapan berkomunikasi (communication skill), termasuk penguasaan bahasa internasional, dan kerja sama dalam pembelajaran (collaborative learning).
  7. g) Adil dan Inklusif, penumbuhan karakter dikembangkan dan dilaksanakan berdasarkan prinsip keadilan, non-diskriminasi, non-sektarian, menghargai kebinekaan dan perbedaan (inklusif), dan menjunjung harkat dan martabat manusia.
  8. h) Selaras dengan Perkembangan Peserta Didik, Gerakan penumbuhan karakter dikembangkan dan dilaksanakan selaras dengan perkembangan peserta didik baik perkembangan biologis, psikologis, maupun sosial, agar tingkat kecocokan dan keberterimaannya tinggi dan maksimal.
  9. i) Terukur, gerakan penumbuhan karakter dikembangkan dan dilaksanakan agar dapat dinikmati dan diketahui proses dan hasilnya secara objektif. Dalam hubungan ini komunitas sekolah mendeskripsikan nilai-nilai utama karakter yang menjadi prioritas pengembangan di sekolah dalam sebuah sikap dan perilaku yang dapat diamati dan diukur secara objektif; mengembangkan program-program penguatan nilai-nilai karakter bangsa yang mungkin dilaksanakan dan dicapai oleh sekolah, dan mengerahkan sumber daya yang dapat disediakan oleh sekolah serta pemangku kepentingan pendidikan.

 

  1. Struktur Kurikulum

Struktur Kurikulum penumbuhan karakter dilaksanakan melalui tiga cara, yaitu :

  1. a) Mengintegrasikan pada mata pelajaran yang ada di dalam struktur kurikulum dan mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) melalui kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler. Sebagai kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler, setiap guru menyusun dokumen perencanaan pembelajaran berupa Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai mata pelajarannya masing-masing. Nilai-nilai utama penumbuhan karakter diintegrasikan ke dalam mata pelajaran sesuai dengan karakteristik mata pelajaran masing-masing. Misalnya, mata pelajaran IPA untuk SMP mengintegrasikan nilai nasionalisme dengan mendukung konservasi energi pada materi tentang energi.
  2. b) Mengimplementasikan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang ditetapkan oleh satuan pendidikan. Pada kegiatan ekstrakurikuler, MA.MASALIKIL HUDA melakukan penguatan kembali nilai-nilai karakter melalui berbagai kegiatan.
  3. c) Kegiatan pembiasaan melalui budaya sekolah dibentuk dalam proses kegiatan rutin, spontan, pengkondisian, dan keteladanan warga sekolah. Kegiatan- kegiatan dilakukan di luar jam pembelajaran untuk memperkuat pembentukan karakter sesuai dengan situasi, kondisi, ketersediaan sarana dan prasarana di setiap satuan pendidikan. Struktur pendukung lain yang terdiri atas: (a). Ekosistem dan budaya sekolah; mewujudkan tata kelola yang sehat, hubungan antarwarga sekolah yang harmonis dan saling menghargai, lingkungan sekolah yang bersih, ramah, sehat, aman, dan damai. (b) Pendidikan keluarga dan masyarakat; menjalin keselarasan antara pendidikan di sekolah, lingkungan keluarga, dan masyarakat.

 

  1. Penilaian

Penilaian dilakukan pada tingkat pendidik dan evaluasi dilakukan pada tingkat satuan pendidikan MA.MASALIKIL HUDA dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian sikap dan keterampilan.

 

  1. PENGEMBANGAN LITERASI

 

  1. Pengertian

Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya, meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya "kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual, melalui : adegan, video dan gambar (Wikipedia). Dengan demikian melek membaca dan menulis dapat dikatakan menjadi ruh pada gerakan literasi di sekolah. Pengembangan lebih lanjut, sekolah wajib memfasilitasi siswa untuk meningkatkan melek budaya, tata nilai, lingkungan, maupun peradaban secara luas.

Pengertian Literasi Sekolah dalam konteks GLS (Gerakan Literasi Sekolah) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik

 

  1. Tujuan
  • Tujuan Umum

Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembuda- yaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.

  • Tujuan Khusus
  • Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah.
  • Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat.
  • Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak, sehingga warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.
  • Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.

 

  1. Kompetensi Literasi

Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) menjabarkan komponen literasi informasi, yang terdiri atas : literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Ke-5 komponen literasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. a) Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta

menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.

  1. b) Literasi Perpustakaan (Library Literacy) antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Atas perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.
  2. c) Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya.
  3. d) Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta mengoperasikan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.
  4. e) Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audiovisual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang tidak terbendung, baik dalam bentuk cetak, auditori, maupun digital (perpaduan ketiganya disebut teks multimodal), perlu dikelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar- benar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan

 

  1. Model Program Literasi

Berberapa model yang ditawarkan Kemendikbud  dan dilaksanakan oleh MA.MASALIKIL HUDA sebagai berikut:

NO

Komponen

Contoh Kegiatan

Tahap Pembiasaan

Tahap Pengembangan

Tahap Pembelajaran

1

Literasi Dasar

Membaca 15 menit setiap hari

Mendiskusikan Bacaan

Menuliskan analisis terhadap Bacaan

2

Literasi Perpustakaan

Mencari bahan pustaka yang diminati  untuk kegiatan membaca selama 15 menit

Menggunakan perpustakaan sebagai sumber informasi dalam diskusi tentang bacaan

Mencantumkan daftar pustaka dalam laporan tugas/praktik setiap mata pelajaran

3

Literasi Media

Membaca berita dari media cetak/daring dalam kegiatan membaca 15 menit

Mendiskusikan berita dari media cetak/daring

Membuat komunitas pembelajaran untuk diskusi dan berbagi informasi terkait pemahaman mata pelajaran antar teman, guru dan antar sekolah

4

Literasi Teknologi

Membaca buku elektronik

Memberikan komentar terhadap buku elektronik

Setiap mata pelajaran memanfaatkan teknologi ( komputasi, searching dan share) dalam mengolah, menyajidan melaporkan hasil kegiatan/laporan

5

Literasi Visual

Membaca film atau iklan pendek

Mendiskusikan Film/iklan Pendek

Menggunakan aplikasi video/film dala menyaji dan melaporakan hasil kegiatan diskusi/praktik/observasi melalui website facebook sekolah atau youtobe

 

  1. Pertahapan kegiatan

Kegiatan pengembangan literasi yang dilaksanakan berdasarkan panduan, merupakan gerakan berkelanjutan yang dikelompokan dalam tiga tahap, yaitu :

  1. Kegiatan Meningkatkan Pembiasaan

Melalui kegiatan yang difasilitasi guru dan diintegrasikan dalam pembelajaran.

Contoh :

 guru memberikan peluang membaca di awal pembelajaran

 guru memberi tugas siswa belajar di perpustakaan.

 siswa mencari bahan bacaan sendiri.

 guru menugaskan siswa menganalisis dan merumuskan resume

 meningkatkan daya baca siswa dengan dukungan buku, e-book, dan teknologi digital

  1. b) Kegiatan Pengembangan

Tahap pengembangan merupakan kelanjutan dari tahap pembiasaan, di mana sekolah mengagendakan berbagai kegiatan seperti pada contoh berikut:

 Mengasah kemampuan peserta didik dalam menanggapi buku pengayaan secara lisan dan tulisan dalam diskusi

 Membangun interaksi antarpeserta didik dan antara peserta didik dalam agenda khusus presentasi buku.

 Mengasah kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis, analitis, kreatif, dan inovatif; seperti lomba menulis risensi atau menyajikan kritik buku.

 Mendorong peserta didik untuk selalu mencari keterkaitan antara buku dalam kegiatan pengenalan alam sekitarnya.

 Lomba menyajikan jurnal membaca buku.

 

  1. c) Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan literasi pembelajaran dilakukan dengan mengembangkan pengalaman belajar siswa, baik yang dilakukan dalam proses pembelajaran maupun kegiatan mandiri. Kegiatan pembelajaran ini bertujuan :

  • Mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi sehingga terbentuk pribadi pembelajar sepanjang hayat;
  • Mengembangkan kemampuan berpikir kritis; dan
  • Mengolah dan mengelola kemampuan komunikasi secara kreatif (verbal, tulisan, visual, digital) melalui kegiatan menanggapi teks buku bacaan dan buku pelajaran.

Contoh kegiatan literasi yang diintegrasikan dalam pembelajaran:

 Lima belas menit membaca setiap hari sebelum jam pelajaran melalui kegiatan membacakan buku dengan nyaring, membaca dalam hati, membaca bersama, dan/atau membaca terpandu diikuti kegiatan lain dengan tagihan non-akademik atau akademik.

 Kegiatan literasi dalam pembelajaran dengan tagihan akademik.

 Melaksanakan berbagai strategi untuk memahami teks dalam semua mata pelajaran (misalnya, dengan menggunakan graphic organizers).

 Menggunakan lingkungan fisik, sosial dan afektif, dan akademik disertai beragam bacaan (cetak, visual, auditori, digital) yang kaya literasi, di luar buku teks pelajaran untuk memperkaya pengetahuan dalam mata pelajaran.

 Penulisan biografi siswa-siswa dalam satu kelas sebagai proyek kelas.

 Aplikasi teknologi dalam pembelajaran.

 Pemanfaatan jejaring dalam kegiatan kolaborasi antar siswa dalam satuan pendidikan dan antarsatuan pendidikan.

 

  1. Struktur Program

Kegiatan-kegiatan yang dipersyaratkan dilengkapi program dalam pengelolaannya, sekolah menyiapkan program dengan struktur sebagai berikut:

  • MODEL PRORAM LITERASI
  • Perencanaan

NO

KOMPONEN

URAIAN

1) Perencanaan

1.

Program

: Gerakan Literasi

2

Deskripsi Kondisi Nyata

:

3

Masalah Utama

:

4

Kegiatan (Solusi)

:

5

Tujuan

:

6

Indikator Pencapaian

:

7

Strategi Pelaksanaan

:

8

Tim Pelaksana/ Uraian Tugas

:

 

  • Pelaksanaan

No

Komponen Kegiatan

Pelaksanaan

Tanggal

1

Pelaksana Kegiatan dan Jadwal

 

 

 

 

1.    Rapat pembahasan Program tgl.

 

2.    Implementasi Kegiatan Pembiasan tgl

 

3.     Implementasi Pembelajaran

 

4.    Evaluasi Kegiatan

 

2

Jurnal Kegiatan

Uraian

Diisi dengan catatan dan bukti fisik kegiatan

 

  • Evaluasi Kegiatan

1.

Evaluasi pelaksanaan

: Pelaksanaan Evaluasi dilakukan secara berkala dan disampakan ke forum dewan guru dalam rapat evaluasi program

 

2

Evaluasi Pencapaian

: Terlampir

 

  1. Instrumen Evaluasi

Evaluasi kegiatan literasi mencakup keterlaksanaan program dan keberhasilan program. Indikator pencapaian tujuan yang terukur menjadi dasar perumusan instrumen. Target program pada tiap satuan pendidikan mencerminkan karakteristik keunggulan satuan pendidikan.

Contoh Instrumen:

 

No

Indikator

Pelaksanaan/Capaian

Ya

Tidak

1) Evaluasi Keterlaksanan

a.

 

Sekolah membaharui bacaan siswa secara berkala.

 

 

b.

 

Sekolah menyediakan akses internet pendukung pembelajaran

 

 

c.

 

Sekolah menyediakan e-book.

 

 

d.

 

Guru melaksanakan pembiasaan membaca

 

 

e.

 

Guru memberikan peluang membaca di awal pembelajaran

 

 

f.

 

Mencapai target seluruh siswa mem-biasakan membaca.

 

 

g.

 

Guru meningkatkan potensi siswa meng-gunakan TIK dalam pembelajaran

 

 

2) Evaluasi Pencapaian Hasil

 

h.

Siswa merumuskan resume materi yang dibaca di perpustakaan.

 

 

i.

Siswa membiasakan membaca sebelum belajar dilaksanakan.

 

 

j.

Lima % siswa yang menunjukan kompetensi yang berkeunggulan, sehingga dapat berkom-petisi dengan siswa dari sekolah lain.

 

 

 

Instrumen evaluasi keterlaksanaan dan ketercapaian target program perlu disiapkan sekolah, saat program disusun atau sebelum program dilaksanakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KALENDER PENDIDIKAN

 

Kalender pendidikan merupakan pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur. Bagian penting yang perlu diperhatikan dalam perumusan kalender pendidikan adalah :

 

  1. Permulaan Tahun Pelajaran

Permulaan tahun ajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun ajaran pada setiap satuan pendidikan. MA.MASALIKIL HUDA memulai pembelajaran diawal tahun Pelajaran dengan Jadwal sebagai Berikut :

  1. Tanggal 13 Juli 2018: Daftar Ulang Peserta Didik Baru kelas X
  2. Tanggal 14 Juli 2018 : -   Pengumpulan Raport kls XI/XII
  • Pemberitahuan ruang Kelas
  • Pemberitahuan Jadwal Pelajaran
  • Penjurusan kelas X dan potensi latar belakang siswa
  1. Tanggal 16 Juli 2018 : - Permulaan Tahun Pelajaran
  • Kelas X diadakan MPLS
  • Kelas XI Pemilihan struktur Organisasi Kelas dan pembuatan administrasi
  1. Pengaturan Waktu Belajar Efektif

 

1) Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun ajaran pada setiap satuan pendidikan,

2) Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu yang meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan lain yang dianggap penting oleh satuan pendidikan, yang pengaturannya disesuaikan dengan keadaan dan kondisi daerah

 

  1. Pengaturan waktu libur

 

Penetapan waktu libur dilakukan dengan mengacu pada ketentuan yang berlaku tentang hari libur, baik nasional maupun daerah. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun ajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum, termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus. Alokasi waktu minggu efektif belajar, waktu libur, dan kegiatan lainnya tertera pada Tabel 5.1 berikut ini.

 

Tabel 5.1 : Alokasi Waktu pada Kalender Pendidikan

NO

KEGIATAN

ALOKASI WAKTU

KETERANGAN

1.

Minggu efektif belajar reguler setiap tahun (Kelas I-V, VII-VIII, X- XI)

Minimal 36

Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan

 

2

Minggu efektif semester ganjil tahun terakhir setiap satuan pendidikan (Kelas VI, IX, XII)

 

Minimal 18 minggu

 

3

Minggu efektif semester genap tahun terakhir setiap satuan pendidikan (Kelas VI, IX, dan XII)

Minimal 14 minggu

 

4

Jeda tengah semester

Maksimal 2 minggu

Satu minggu setiap semester

 

5

Jeda antarsemester

Maksimal 2 minggu

Antara semester I dan II

6

Libur akhir tahun ajaran

Maksimal 3 minggu

Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun ajaran

7

Hari libur keagamaan

Maksimal 4 minggu

Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar

8

Hari libur umum/nasional

Maksimal 2 minggu

Disesuaikan dengan

Peraturan Pemerintah

9

Hari libur khusus

Maksimal 1 minggu

Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing-masing

10

Kegiatan khusus satuan pendidikan  MA.MASALIKIL HUDA

Maksimal 3 minggu

(MA.MASALIKIL HUDA menggunakan Waktu 6 Hari)

Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh satuan pendidikan tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif  ( Milad Yayasan dan Sekolah)

 

  1. Tabel kalender Kegiatan sekolah

 

Tabel Kalender kegiatan Sekolah MA.MASALIKIL HUDA, sebagaimana pada tabel 5.2 berikut :

 

 

 

 

Tabel 5.2 : Kalender Pendidikan MA.MASALIKIL HUDA

 

NO

TANGGAL, BULAN,TAHUN

URAIAN

1.       

16 Juli 2018

Hari Pertama Masuk Sekolah

2.       

16 - 18 Juli 2018

Kegiatan MPLS

3.       

17 Agustus 2018

Mengikuti Upacara HUT Kemerdekaan RI

4.       

22-23 Agustus 2018

Libur Umum (Hari Raya Idul Adha 1439 H)

5.       

11 September 2018

Libur Umum (Tahun Baru Hijriyah/1 Muharam 1440 H)

6.       

17 - 25 September 2018

Penilaian/Ulangan Tengah Semester

7.       

24 - 27 September 2018

Kegiatan Jeda Semester Gasal

8.       

1 Oktober 2018

Mengikuti Upacara Hari Kesaktian  Pancasila

9.       

 28 Oktober 2018

Mengikuti Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda

10.  

10 November 2018

Mengikuti Upacara Peringatan Hari Pahlawan

11.  

20 November 2018

Libur Umum (Peringatan Maulid Nabi SAW 1439 H)

12.  

28 November - 8 Desember 2018

Ulangan Akhir Semester Gasal SMA NU Kedung

13.  

10 - 13 Desember 2018

Ulangan Susulan dan Persiapan Penyerahan Buku Laporan Hasil Belajar Semester Gasal

14.  

15 Desember 2018

Penyerahan Buku Laporan Hasil Belajar (BLHP) Semester Gasal

15.  

17 - 31 Desember 2018

Libur Akhir Semester

16.  

24 Desember 2018

24 Desember 2018 Cuti Bersama Libur Umum (Hari Raya Natal)

17.  

25 Desember 2018

Libur Umum (Hari Raya Natal)

18.  

1 Januari 2019

 Libur Umum (Tahun Baru Masehi 2019)

19.  

2 Januari 2019

Hari Pertama Masuk Semester Genap

20.  

5 Februari 2019

Libur Umum (Tahun Baru Imlek 2569).

21.  

4 - 11Maret 2019

Ulangan Tengah Semester Genap

22.  

7 Maret 2019

Libur Umum (Hari Raya Nyepi).

23.  

12 - 15 Maret 2019

Kegiatan Jeda Semester Genap

24.  

18 - 27 Maret 2019

USBN SMA

25.  

3 April 2019

 Libur Umum (Isro’ Mi’raj).

26.  

3 April 2019

Peringatan Milad Yayasan islam Maulana mangun sejati

27.  

15 - 18 April 2019

Perkiraan UN SMA

28.  

25 April -30 Mei 2018

Kegiatan Ujian Praktek Keagamaan dan Mapel ciri khusus sekolah serta kegiatan Pelatihan ketrampilan bagi kelas XII

29.  

 19 April 2019

Libur Umum (Wafat Isa Al-Masih/Jumat

30.  

21 April 2019

Peringatan Hari Kartini

31.  

1 Mei 2019

Libur Umum (Hari Buruh Internasional)

32.  

2 Mei 2019

Mengikuti Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional

33.  

7 - 8 Mei 2019

7 - 8 Mei 2019 Perkiraan Libur Awal Puasa Ramadlan 1440 H

34.  

19 Mei 2019

Libur Umum (Hari Raya Waisak)

35.  

20 Mei 2019

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional

36.  

22 - 31 Mei 2019

Ulangan akhir Semester Genap

37.  

30 Mei 2019

Libur Umum (Kenaikan Isa Al Masih)

38.  

1 Juni 2019

Libur Umum (Hari Lahirnya Pancasila)

39.  

3 - 4 Juni 2019

Cuti bersama Hari Raya Idul Fitri 1440 H

40.  

5 - 6 Juni 2019

Libur Hari Raya Idul Fitri 1440 H (1 Syawal 1440 H)

41.  

7 - 8 Juni 2019

Cuti bersama setelah Hari Raya Idul

42.  

10 - 12 Juni 2019

Libur Setelah Hari Raya Idul Fitri 1440 H

43.  

13 - 21 Juni 2019

Ulangan Susulan dan Persiapan Penyerahan Buku Laporan Hasil Belajar Semester Genap

44.  

16-20 Juni 2019

Peringatan MILAD  MA.MASALIKIL HUDA

45.  

22 Juni 2019

Penyerahan Buku Laporan Hasil Belajar Semester Genap

46.  

24 Juni - 13 Juli 2019

Libur Akhir semester Genap/Libur Akhir Tahun Pelajaran 2018/2019

47.  

1 - 13 Juli 2019

Perkiraan Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2019/2020

48.  

15 Juli 2019

Permulaan Tahun Pelajaran 2019/2020

 

 

  1. Sekolah Menerapkan 6 Hari sekolah

 

Berdasarkan kajian  bersama sekolah, komite dan Yayasan Islam Maulana Mangun Sejati dengan mempertimbangkan, hal berikut :

  • Area Gedung sekolah dipakai oleh MADIN dan TPQ
  • Terdapat beberapa anak yang domisili di pesantren, dan kegiatan pesantren dimulai pukul 14.00
  • Hampir 40% siswa berangkat naik kendaraan Umum, jika pulang sore , peserta didik sulit mendapatkan angkutan
  • Kondisi Kantin Sekolah yang belum bisa menampung seluruh siswa
  • Sebagian besar siswa kerja sepulang sekolah yaitu pukul 14.30
  • Sebagaian besar tidak ada dukungan dari orang tua/wali
  • Mengikuti ketentuan LP.Maarif NU Cabang Kabupaten Jepara

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, MA.MASALIKIL HUDA menerapkan enam hari sekolah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

PANDUAN AKADEMIK

 

 

  1. PEMBELAJARAN

 

Fokus utama pengelolaan kurikulum adalah dalam rangka menjamin siswa belajar dan guru mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan. Penjaminan utama adalah terwujudnya proses belajar yang didukung dengan suasana belajar yang kondusif. Pengelolaan pembelajaran merupakan serangkaian tindakan perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan evaluasi pembelajaran dalam menjamin terwujudnya keunggulan mutu lulusan pada tingkat satuan pendidikan sesuai dengan target yang ditetapkan oleh sekolah.

Dalam sistem pengelolaan pembelajaran, kepala sekolah berperan sebagai pemimpin pembelajaran. Tugas pemimpin pembelajaran adalah mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia, dan yang mungkin dapat disediakan untuk menunjang terwujudnya keberlangsungan proses belajar sebagaimana yang direncanakan demi terealisasinya keunggulan kompetensi mutu lulusan. Untuk mewujudkan hal tersebut, pimpinan pembelajaran perlu memperhatikan tindakan :

  • Memimpin musyawarah dewan pendidik untuk menentukan indikator pencapaian kompetensi tingkat satuan pendidikan.
  • Merumuskan target atau kriteria keberhasilan pada setiap indikator mutu keunggulan lulusan tingkat satuan pendidikan.
  • Mengembangkan suasana sekolah sebagai lingkungan belajar yang kondusif.
  • Meningkatkan penjaminan keterlaksanaan dan keberhasilan proses pembelajaran.
  • Mensupervisi ketercapaian target mutu hasil belajar siswa.
  • Memimpin rapat dewan pendidik mengevaluasi keberhasil pelaksanaan kurikulum

Arah pengelolaan implementasi kurikulum di dalam pembelajaran diharapkan berdampak terhadap penguatan sikap, pengetahuan dan keterampilan yang menjadi target kinerja sekolah. Pengembangan ketiga ranah itu memiliki jalur pengembangan yang berbeda-beda. Oleh karenanya diperlukan strategi yang berbeda dalam mengembangkannya. Sikap siswa tidak dijamin mengalami peningkatan sejalan dengan berkembangnya aspek pengetahuan siswa. Begitu juga pada aspek keterampilan siswa tidak serta merta bertumbuh saat pengetahuan siswa berkembang. Hal ini menegaskan bahwa dalam proses pembelajaran, efektifitas pembelajaran benar-benar dipengaruhi oleh penerapan strategi pembelajaran yang tepat pada masing-masing dari ketiga ranah dimaksud.

Berdasarkan deskripsi di atas, tim pengembang kurikulum di sekolah dituntut untuk mampu memenuhi kriteria sesuai dengan prinsip pelaksanaan pembelajaran dalam kurikulum 2013 pada tingkat satuan pendidikan sebagai berikut :

  • Peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu;
  • Peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar;
  • Proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah;
  • Pembelajaran berbasis kompetensi;
  • Pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki kebenaran multi-dimensi;
  • Pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif;
  • Peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara hard-skills dan soft-skills;
  • Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
  • Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi ketela-danan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);
  • Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran;
  • Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik, dan
  • Suasana belajar menyenangkan dan menantang

 

  1. PROGRAM TAHUNAN DAN PROGRAM SEMESTER

 

Program tahunan merupakan serangkat kegiatan yang terintegrasi dengan penetapan alokasi waktu satu tahun agar seluruh kompetensi dasar dalam kurikulum dapat siswa kuasai. Program tahunan wajib guru persiapkan sebelum tahun pelajaran dimulai dengan mengidentifikasi KD yang harus disampaikan dengan jumlah waktu efektif yang tersedia sehingga dapat digunakan sebagai dasar penetapan program semester.

Program semester adalah turunan dari program tahunan yang memuat rencana kegiatan pelaksanaan kurikulum dalam rentang satu semester. Dengan tugas guru yang selalu terintegrasi dengan program tahunan adalah merumuskan pengaturan kegiatan tiap semester yang mengundung komponen yang sama dengan program tahunan.

 

 

 

Komponen Program Tahunan

Program tahunan wajib memuat :

 Identitias mata pelajaran

 Tahun pelajaran

 Kelas

 Kompetensi inti yang meliputi ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan

 Tema/KD Alokasi waktu

Prosedur Perumusan

 

Prosedur penyusunan program tahunan meliputi langkah-langkah berikut ini :

 Mengidentifikasi kompetensi dasar dan indikator tiap tahun.

 Mengindentifikasi keluasan dan kedalaman kompetensi dasar dan indikator nya.

 Melakukan pemetaan kompetensi dasar pada tiap semester.

 Menentukan alokasi waktu yang tersedia untuk tiap kompetensi pada tiap semester berdasarkan hari efektif belajar.

 Menjabarkan progam tahunan ke dalam program semester dengan memperhatikan kalender pendidikan.

 

  1. SILABUS

 

Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada Standar Isi. Perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dan penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian pembelajaran, dan skenario pembelajaran. Penyusunan Silabus disesuaikan pendekatan pembelajaran yang digunakan.

Muatan Silabus

 

Silabus paling sedikit memuat :

 

  1. a) Identitas mata pelajaran;
  2. b) Identitas sekolah meliputi nama satuan pendidikan dan kelas;
  3. c) Kompetensi inti, merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran;
  4. d) Kompetensi dasar, merupakan kemampuan spesifik yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terkait muatan atau mata pelajaran;

Prosedur Perumusan Silabus

Silabus dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan pola pembelajaran pada setiap tahun ajaran tertentu. Silabus digunakan sebagai acuan dalam pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran.

Silabus dapat dikembangkan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi. Dibuktikan dengan kelengkapan komponen dan isi silabus yang dimiliki sekolah/madrasah untuk semua mata pelajaran.

Guru wajib menjelaskan silabus pada tiap awal semeter yang dibuktikan dengan adanya jurnal kegiatan pembelajaran. Pelaksanaan tugas ini bertujuan agar siswa memahami cukupan kompetensi yang harus mereka kuasai dan memahami materi belajar yang akan mereka dapatkan dalam tiap semester.

 

 

  1. PERENCANAAN PEMBELAJARAN

 

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada satuan pendidikan wajib menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

 

  1. Komponen RPP

RPP disusun berdasarkan KD atau subtema yang dilaksanakan dalam beberapa kali pertemuan atau lebih. Komponen RPP terdiri atas:

  1. Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan;
  2. Identitas mata pelajaran atau tema/subtema;
  3. Kelas/semester;
  4. Materi pokok;
  5. Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan pemenuhan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai;
  6. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
  7. Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi;
  8. Materi pembelajaran, yang memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi;
  9. Metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai;
  10. Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran;
  11. Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan;
  12. Langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, penutup dan penilaian hasil pembelajaran

 

  1. Prinsip Penyusunan RPP

Dalam menyusun RPP hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1) Perbedaan individual peserta didik, antara lain kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.

2)  Partisipasi aktif peserta didik.

3) Berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian.

4) Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.

5) Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.

6) Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indicator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.

7) Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.

8) Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

9) Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi

 

  1. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Pelaksanaan pembelajaran pada dasarnya dilaksanakan untuk mendorong siswa aktif memenuhi kebutuhan mewujudkan kompetensinya yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ketiga kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses psikologis) yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas “menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan”. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas “mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, mencipta”. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas “mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta”. Karaktersitik kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehan turut serta mempengaruhi karakteristik standar proses.

Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu (tematik antar matapelajaran), dan tematik (dalam suatu mata pelajaran) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik agar menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning).

Rincian gradasi sikap, pengetahuan, dan keterampilan adalah sebagai berikut :

 

Untuk mendukung pembelajaran yang efektif diperlukan suasana belajar yang mendukung sesuai dengan Permendikbud 22 Tahun 2016, yaitu:

  • Alokasi Waktu Jam Tatap Muka Pembelajaran MA.MASALIKIL HUDA : 45 menit
  • Jumlah maksimal rombongan belajar di MA.MASALIKIL HUDA adalah 3 rombel pada masing-masing kelas dan jumlah maksimum peserta didik dalam setiap rombongan belajar  adalah 36 peserta didik

Pelaksanaan pembelajaran semestinya berlandaskan RPP yang mencakup kegiatan pendahuluan, inti dan penutup.

  1. Kegiatan Pendahuluan

Urut-urutan kegiatan pendahuluan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :

  1. Menyiapkan peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran.
  2. Memberi motivasi belajar peserta didik secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari, dengan memberikan contoh dan perbandingan lokal, nasional dan internasional.
  3. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.
  4. Menyajikan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai, dan;
  5. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus. Langkah kegiatan ini sebaiknya dituangkan catatan pelaksanaan kegiatan mengajar untuk membuktikan bahwa guru melakukan 5 langkah kegiatan dalam pendahuluan.
  6. Kegiatan Inti

Kegiatan inti menggunakan pendekatan pembelajaran, model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar yang sesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran. Pemilihan pendekatan tematik dan/atau tematik terpadu dan/atau saintifik dan/atau inkuiri dan penyingkapan (discovery) dan/atau pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning) disesuaikan dengan karakteristik kompetensi dan jenjang pendidikan. Karakteristik proses pembelajaran hendaknya diarahkan untuk mewujudkan kompetensi berikut :

  1. Dalam mewujudkan kompetensi sikap siswa, guru hendaknya memilih perilaku; menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, hingga mengamalkan. Seluruh aktivitas pembelajaran berorientasi pada tahapan kompetensi yang menambah pengalaman peserta didik untuk melakuan aktivitas yang sesuai.
  1. Dalam mengembangkan kompetensi pengetahuan guru hendaknya memilih aktivitas mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta. Untuk memperkuat pendekatan saintifik, tematik terpadu, dan tematik sangat disarankan untuk menerapkan belajar berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong peserta didik menghasilkan karya kreatif dan kontekstual, baik individual maupun kelompok, disarankan yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning).
  2. Dalam mengembangan keterampilan guru hedaknya memilih aktivias mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Jika diperhatikan secara seksama keterampilan yang dikembangkan merpkan bertuk softskill Seluruh isi materi (topik dan sub topik) mata pelajaran yang diturunkan dari keterampilan harus siswa kuasai. Untuk mewujudkan keterampilan tersebut perlu melakukan pembelajaran yang menerapkan modus belajar berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning) dan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning).

 

  1. Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup guru bersama peserta didik melakukan refleksi untuk mengevaluasi dengan melakukan beberapa langkah kegiatan berikut :

  1. Mengevaluasi rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil yang diperoleh untuk selanjutnya secara bersama menemukan manfaat pembelajaran yang telah berlangsung;
  2. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  3. Melakukan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk tugas, baik tugas individual atau maupun kelompok;
  4. Menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya.

 

  1. PELAKSANAAN PENILAIAN

 

Pelaksanaan penilaian diawali dengan kegiatan pendidik melakukan analisis kompetensi pada aspek pengetahuan dan keterampilan yang diturunkan dari Standar Kompetensi Lulusan (SKL) ke dalam Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) kemudian dirumuskan menjadi indikator. pencapaian kompetensi (IPK) pada setiap mata pelajaran. IPK untuk KD pada KI-3 dan KI-4 dirumuskan dalam bentuk perilaku spesifik yang terukur dan/atau dapat diobservasi

Pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti dan PPKn termasuk perumusan indikator sikap dari KD-KD pada KI-1 dan KI-2. IPK dikembangkan menjadi indikator soal yang diperlukan untuk penyusunan instrumen penilaian. Indikator soal merupakan rambu-rambu dalam penyusunan butir soal atau tugas.

 

 

  1. Pelaksanaan Penilaian Sikap

Pelaksanaan penilaian sikap meliputi penilaian sikap spiritual dan sikap sosial.

 

  1. Sikap Spiritual

 

Penilaian sikap spiritual dilakukan untuk mengetahui perkembangan sikap peserta didik dalam menghargai, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya serta toleransi terhadap agama lain. Indikator sikap spiritual pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti dan PPKn diturunkan dari KD pada KI-1 dengan memperhatikan butir-butir nilai sikap yang tersurat. Sementara itu, penilaian sikap spiritual yang dilakukan oleh guru mata pelajaran lain dirumuskan dalam perilaku

Berikut contoh indikator sikap spiritual yang dapat digunakan untuk semua mata pelajaran dalam penilaian sikap spiritual:

(1) Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan;

(2) Menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang dianut;

(3) Memberi salam pada saat awal dan akhir kegiatan;

(4) Bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa;

(5) Mensyukuri kemampuan manusia dalam mengendalikan diri;

(6) Bersyukur ketika berhasil mengerjakan sesuatu;

(7) Berserah diri (tawakal) kepada Tuhan

 

  1. Sikap Sosial

Penilaian sikap sosial untuk menghimpun informasi mengenai perkembangan sikap sosial peserta didik dalam menghargai, menghayati, dan berperilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaanya.

Indikator untuk KD dari KI-2 mata pelajaran PABP dan PPKn dirumuskan dalam perilaku spesifik sebagaimana tersurat di dalam rumusan KD mata pelajaran tersebut. Sementara indikator sikap sosial mata pelajaran lainnya dirumuskan dalam perilaku sosial secara umum dan dikembangkan terintegrasi dalam pembelajaran KD dari KI-3 dan KI-4. Berikut contoh butir-butir sikap sosial :

  1. Jujur, yaitu perilaku dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, antara lain: (a) tidak menyontek dalam mengerjakan ujian/ulangan; (b) tidak menjadi plagiat (mengambil/menyalin karya orang lain tanpa menyebutkan sumber); (c) menyerahkan kepada yang berwenang barang yang ditemukan; (d) membuat laporan berdasarkan data atau informasi apa adanya; dan (e) mengakui kesalahan atau kekurangan yang dimiliki.
  2. Disiplin, yaitu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan, antara lain: (a) patuh pada tata tertib atau aturan bersama/satuan pendidikan; dan (b) mengerjakan/mengumpulkan tugas sesuai dengan waktu yang ditentukan.
  3. Tanggung jawab, yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara, dan Tuhan Yang Maha Esa, antara lain: (a) menerima risiko dari tindakan yang dilakukan; (b) tidak menyalahkan/menuduh orang lain tanpa bukti akurat; (c) mengembalikan barang pinjaman; (d) mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan; (e) tidak menyalahkan orang lain untuk kesalahan tindakan sendiri;
  4. Toleransi, yaitu sikap dan tindakan yang menghargai keberagaman latar belakang, pandangan, dan keyakinan, antara lain: (a) tidak mengganggu teman yang berbeda pendapat; (b) menerima kesepakatan meskipun ada perbedaan pendapat; (c) dapat menerima kekurangan orang lain; (d) dapat memaafkan kesalahan orang lain; (e) mampu dan mau bekerja sama dengan siapa pun yang memiliki keberagaman latar belakang, pandangan, dan keyakinan. dan (f) terbuka terhadap atau kesediaan untuk menerima sesuatu yang baru.
  5. Gotong royong, yaitu bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama dengan saling berbagi tugas dan tolong-menolong secara ikhlas, antara lain: (a) terlibat aktif dalam kerja bakti membersihkan kelas atau lingkungan sekolah; (b) bersedia membantu orang lain tanpa mengharap imbalan; (c) aktif dalam kerja kelompok; (d) tidak mendahulukan kepentingan pribadi; (e) mencari jalan untuk mengatasi perbedaan pendapat/pikiran antara diri sendiri dengan orang lain; dan (f) mendorong orang lain untuk bekerja sama demi mencapai tujuan bersama.
  6. Santun atau sopan, yaitu sikap baik dalam pergaulan, baik dalam berbicara maupun bertingkah laku. Norma kesantunan bersifat relatif, artinya yang dianggap baik/santun pada tempat dan waktu tertentu bisa berbeda pada tempat dan waktu yang lain, antara lain: (a) menghormati orang yang lebih tua; (b) tidak meludah di sembarang tempat; (c) mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan orang lain; (d) member salam, senyum, dan menyapa; (e) meminta izin ketika akan memasuki ruangan orang lain atau menggunakan barang milik orang lain; dan (f) memperlakukan orang lain dengan baik sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan baik.
  7. Percaya diri, yaitu suatu keyakinan atas kemampuan sendiri untuk melakukan kegiatan atau tindakan, antara lain: (a) tidak mudah putus asa; (b) tidak canggung dalam bertindak; (c) berani presentasi di depan kelas; dan (d) berani berpendapat, bertanya, atau menjawab pertanyaan.

Penilaian sikap dilakukan oleh guru mata pelajaran (selama proses pembelajaran pada jam pelajaran) dan/atau di luar jam pembelajaran guru bimbingan konseling (BK), wali kelas (selama peserta didik di luar jam pelajaran), warga sekolah (peserta didik).

Penilaian sikap spiritual dan sosial dilakukan secara terus-menerus selama satu semester. Guru mata pelajaran, guru BK, dan wali kelas mengikuti perkembangan sikap spiritual dan sosial, serta mencatat perilaku peserta didik yang sangat baik atau kurang baik dalam jurnal segera setelah perilaku tersebut teramati atau menerima laporan tentang perilaku peserta didik. Apabila seorang peserta didik pernah memiliki catatan sikap yang kurang baik, namun pada kesempatan lain peserta didik tersebut telah menunjukkan perkembangan sikap (menuju atau konsisten) baik, maka di dalam jurnal harus ditulis bahwa sikap peserta didik tersebut telah baik atau bahkan sangat baik.

Pencatatan pada jurnal tidak hanya sikap yang sangat baik atau kurang baik saja, tetapi juga perubahan sikap dari kurang baik menjadi baik atau sangat baik. Sikap dan perilaku peserta didik yang teramati oleh pendidik dan tercacat dalam jurnal, akan lebih baik jika dikomunikasikan kepada peserta didik yang bersangkutan.

  1. Pelaksanaan Penilaian Pengetahuan

Penilaian kompetensi pengetahuan berdasarkan indikator untuk pengetahuan yang diturunkan dari KD pada KI-3 dengan menggunakan kata kerja operasional. Beberapa kata kerja operasional sesuai tingkat proses berpikir yang dapat digunakan antara lain:

1) mengingat: menyebutkan, memberi label, mencocokkan, memberi nama, memberi contoh, meniru, dan memasangkan.

2) memahami: menggolongkan, menggambarkan, membuat ulasan, menjelaskan, mengekspresikan, mengidentifikasi, menunjukkan, menemukan, membuat laporan, mengemukakan, membuat tinjauan, memilih, dan menceritakan.

3) menerapkan: mendemonstrasikan, memperagakan, menuliskan penjelasan, membuatkan penafsiran, mengoperasikan, mempraktikkanmerancang persiapan, menyusun jadwal, membuat sketsa, menyelesaikan masalah, dan menggunakan.

4) menganalisis: menilai, menghitung, mengelompokkan, menentukan, membandingkan, membedakan, membuat diagram, menginventarisasi, memeriksa, dan menguji.

5) mengevaluasi: membuat penilaian, menyusun argumentasi atau alasan, menjelaskan apa alasan memilih, membuat perbandingan, menjelaskan alasan pembelaan, memperkirakan, dan memprediksi.dan

6) mencipta/mengkreasi: mengumpulkan, menyusun, merancang, merumuskan, mengelola, mengatur, merencanakan, mempersiapkan, mengusulkan, dan mengulas.

Berikut contoh indikator pencapaian kompetensi yang dikembang- kan berdasarkan kompetensi dasar Matematika Umum kelas X seperti pada tabel 6.2

.

Tabel 6.2 Model Mengembangkan indikator kompetensi

No.

Kompetensi Dasar

Indikator Pencapaian Kompetensi

1.

Menyusun sistem persama- an linear tiga variabel dari masalah kontekstual

•    Merumukan masalah nyata ke dalam sistem persamaan linear

•    Mengubah masalah kontektual ke dalam bentuk persamaan linear

·      • Menentukan langkah-langkah penyelesaian persamaan linear tiga variabel

 

Pelaksanaan penilaian pengetahuan dilakukan untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik. Penilaian oleh pendidik dilakukan dalam bentuk penilaian harian dan dapat juga dilakukan penilaian tengah semester melalui tes tertulis, tes lisan, maupun penugasan. Cakupan penilaian harian meliputi seluruh indikator dari satu kompetensi dasar atau lebih sedangkan cakupan penugasan disesuaikan dengan karakteristik kompetensi dasar

 

  1. Pelaksanaan Penilaian Ketrampilan

Indikator untuk keterampilan diturunkan dari KD pada KI-4 dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, antara lain: menggabungkan, mengkontruksi, merancang, membuat sketsa, memperagakan, menulis laporan, menceritakan kembali, mempraktikkan, mendemonstrasikan, dan menyajikan.

Pelaksanaan penilaian kinerja ditentukan oleh guru berdasarkan tuntutan KD dan dapat dilakukan untuk satu atau beberapa KD.

Beberapa langkah pelaksanaan penilaian kinerja meliputi :

  1. menjelaskan rubrik penilaian kepada peserta didik sebelum pelaksanaan penilaian;
  2. memberikan tugas secara rinci kepada peserta didik;
  3. memastikan ketersediaan dan kelengkapan alat serta bahan yang digunakan;
  4. melaksanakan penilaian selama rentang waktu yang direncanakan;
  5. membandingkan kinerja peserta didik dengan rubrik penilaian;
  6. melakukan penilaian secara individual;
  7. mencatat hasil penilaian; dan
  8. mendokumentasikan hasil penilaian.

Pelaksanaan Penilaian proyek dilakukan untuk satu atau beberapa KD pada satu mata pelajaran atau lintas mata pelajaran.

Langkah pelaksanaan penilaian proyek :

  1. menjelaskan rubrik penilaian kepada peserta didik sebelum pelaksanaan penilaian;
  2. memberikan tugas kepada peserta didik;
  3. memberikan pemahaman yang sama kepada peserta didik tentang tugas yang harus dikerjakan;
  4. melakukan penilaian selama perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan proyek; (e) memonitor pengerjaan proyek peserta didik dan memberikan umpan balik pada setiap tahapan pengerjaan proyek;
  5. membandingkan kinerja peserta didik dengan rubrik penilaian;
  6. memetakan kemampuan peserta didik terhadap pencapaian kompetensi minimal; memberikan umpan balik terhadap laporan yang disusun peserta didik; dan mendokumentasikan hasil penilaian.

Pelaksanaan Penilaian portofolio

Penilaian portofolio dilakukan untuk melihat perkembangan pencapaian kompetensi dan capaian akhir serta dapat digunakan untuk mendeskripsikan capaian keterampilan dalam satu semester.

Langkah pelaksanaan penilaian portofolio :

  1. Melaksanakan proses pembelajaran terkait tugas portofolio dan menilai pada saat kegiatan tatap muka yang disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran;
  2. Melakukan penilaian portofolio berdasarkan kriteria penilaian yang telah ditetapkan atau disepakati bersama dengan peserta didik;
  3. Peserta didik mencatat hasil penilaian portofolionya untuk bahan refleksi diri;
  4. Mendokumentasikan hasil penilaian portofolio sesuai format yang telah ditentukan;
  5. Memberi umpan balik terhadap karya peserta didik secara berkesinambungan dengan cara memberi keterangan kelebihan dan kekurangan karya tersebut, dan perbaikannya;
  6. Memberi identitas (nama dan waktu penyelesaian tugas), mengumpulkan dan menyimpan portofolio masing-masing peserta didik dalam satu map atau folder di rumah atau di loker sekolah;
  7. Memberi kesempatan peserta didik untuk memperbaiki karya yang dinilai belum memuaskan dan perlu perbaikan;
  8. Membuat “kontrak” atau perjanjian jangka waktu perbaikan dan penyerahan karya hasil perbaikan kepada guru;
  9. Memamerkan dokumentasi kinerja dan atau hasil karya terbaik portofolio dengan cara memajangnya di kela
  10. Mendokumentasikan dan menyimpan semua portofolio ke dalam map yang telah diberi identitas masing-masing peserta didik untuk bahan laporan kepada sekolah dan orang tua peserta didik;
  11. Mencantumkan tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu sebagai bahan laporan kepada sekolah dan/atau orang tua peserta didik; dan
  12. Memberikan nilai akhir portofolio masing-masing peserta didik disertai umpan balik.

 

Berikut ini contoh perumusan indikator dari mata pelajaran Matematika kelas X Umum :

  1. MANFAAT HASIL PENILAIAN

 

Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dilakukan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik pada semua mata pelajaran sebagai capaian pembelajaran. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan adalah proses pengumpulan informasi/data tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam aspek pengetahuan dan aspek keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis. Penilaian bertujuan untuk menilai Pencapaian Standar Kompetensi Lulusan untuk semua mata pelajaran, dalam bentuk penilaian akhir dan ujian sekolah.

  1. Mekanisme penilaian

Dalam melaksanakan penilian hasil belajar oleh satuan pendidikan perlu dilakukan beberapan langkah berikut

1) Menyusun perencanaan penilaian tingkat Satuan Pendidikan meliputi: penilaian akhir semester, penilaian akhir tahun, ujian sekolah dan ujian sekolah berstandar nasional.

2) Penilaian akhir semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester. Cakupan penilaian meliputi indikator-indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut.

3) Penilaian akhir tahun adalah kegiatan yang dilakukan oleh satuan pendidikan pada akhir semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester genap pada satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket. Cakupan materi pada penilaian akhir tahun meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan KD pada semester genap saja, atau seluruh indikator yang merepresentasikan KD pada semester ganjil dan semester genap pada tingkatan kelas yang sama.

4) Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) adalah kegiatan pengukuran capaian kompetensi siswa terhadap standar kompetensi lulusan untuk mata pelajaran tertentu dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar.

5) Ujian Sekolah (US) adalah kegiatan pengukuran dan penilaian capaian kompetensi siswa terhadap standar kompetensi lulusan untuk mata pelajaran yang tidak diujikan dalam USBN. Ujian Sekolah dilakukan oleh satuan pendidikan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan. Pelaksanaannya diatur dalam POS Ujian Sekolah dan POS Ujian Sekolah Berstandar Nasional.

Kebijakan di tingkat satuan pendidikan MA.MASALIKIL HUDA menetapkan

  • Penentuan KKM dengan memperhatikan standar kompetensi lulusan, karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, serta guru dan kondisi satuan pendidikan melalui rapat dewan guru. Penentuan KKM Sekolah MA.MASALIKIL HUDA sebesar 68 Enam Puluh Delapan)
  • Penentuan kriteria kenaikan kelas bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket melalui rapat dewan guru.
  • Penentuan nilai akhir sikap spiritual dan sosial sebagai bahan pertimbangan kelulusan melalui rapat dewan guru dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh semua guru mata pelajaran, wali kelas, dan guru BK.
  • Laporan hasil penilaian semua mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada orang tua/wali peserta didik dalam bentuk buku laporan pendidikan (Rapor).
  • Melaporkan pencapaian hasil belajar tingkat satuan pendidikan kepada dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota.
  • Menentukan kriteria kelulusan ujian sekolah dan kriteria kelulusan dari satuan pendidikan melalui rapat dewan guru.
  • Menentukan kelulusan peserta didik dari ujian sekolah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan satuan pendidikan.
  • Menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan melalui rapat dewan guru sesuai dengan kriteria minimal sebagai berikut:
  1. a) Menyelesaikan seluruh program pembelajaran.
  2. b) Memperoleh nilai sikap/perilaku minimal baik.
  3. c) Lulus ujian sekolah dan ujian sekolah berstandar nasional.
  4. d) Menerbitkan ijazah setiap peserta didik yang lulus dari satuan pendidikan

Penilaian akhir yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester dan/atau akhir tahun, sedangkan ujian sekolah adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan. Cakupan penilaian akhir semester adalah seluruh indikator yang merepresentasikan KD pada semester ganjil, sedangkan cakupan materi pada penilaian akhir tahun meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan KD pada semester genap. Materi ujian sekolah meliputi KD yang merepresentasikan pencapaian SKL

 

  1. Penilaian Oleh Guru

 

Penilaian hasil belajar oleh pendidik adalah proses pengumpulan informasi/data tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis. Penilaian hasil belajar oleh pendidik di SMA dilaksanakan untuk memenuhi fungsi formatif dan sumatif dalam bentuk penilaian harian dan dapat juga dilakukan penilaian tengah semester. Penilaian tengah semester merupakan penilaian yang dilakukan oleh pendidik yang cakupan materinya terdiri atas beberapa KD dan Panduan.

Pelaksanaannya tidak dikoordinasikan oleh satuan pendidikan. Penilaian harian dapat berupa ulangan, pengamatan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang diperlukan yang digunakan untuk:

1) mengukur dan mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik;

2) menetapkan program perbaikan dan/atau pengayaan berdasarkan tingkat penguasaan kompetensi;

3) memperbaiki proses pembelajaran; dan

4) menyusun laporan kemajuan hasil belajar.

 

Laporan penilaian sikap oleh pendidik disampaikan dalam bentuk predikat (sangat baik, baik, cukup, atau kurang) dan dilengkapi dengan deskripsi.

 

  1. KENAIKAN KELAS

 

Kriteria kenaikan kelas berdasarkan ketuntasan hasil belajar pada setiap mata pelajaran, meliputi : sikap, pengetahuan maupun keterampilan. Ketuntasan belajar pada kenaikan kelas adalah ketuntasan dalam kurun waktu 1 (satu) tahun. Jika terdapat aspek pengetahuan dan keterampilan, mata pelajaran yang tidak mencapai KKM pada semester ganjil atau genap, maka:

1) Dihitung rerata nilai berdasarkan aspek mata pelajaran semester ganjil dan genap.

2)  Nilai rerata setiap aspek dibandingkan dengan KKM pada mata pelajaran tersebut. Jika hasil pada nilai rerata lebih dari nilai KKM, maka aspek mata pelajaran tersebut dinyatakan TUNTAS, dan sebaliknya jika nilai rerata kurang dari nilai KKM, maka aspek mata pelajaran tersebut dinyatakan BELUM TUNTAS. Selanjutnya jika rerata kedua aspek tuntas dan nilai sikap baik maka mata pelajaran tersebut dikatakan TUNTAS, dan sebaliknya minimal 1 (satu) aspek tidak tuntas maka mata pelajaran tersebut dikatakan BELUM TUNTAS.

3) Kriteria kenaikan kelas pada satuan pendidikan yang menggunakan Sistem Paket.  Peserta didik dinyatakan naik kelas apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1) Menyelesaikan seluruh program pembelajaran dalam (dua) semester pada tahun pelajaran yang diikuti.

2) Predikat sikap minimal BAIK yaitu memenuhi indikator kompetensi sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh satuan pendidikan.

3) Predikat kegiatan ekstrakurikuler wajib pendidikan kepramukaan minimal BAIK sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh satuan pendidikan.

4) Tidak memiliki lebih dari 2 (dua) mata pelajaran yang masing-masing capaian pengetahuan dan/atau keterampilan di bawah KKM. Apabila ada mata pelajaran yang tidak mencapai KKM pada semester ganjil dan/atau semester genap, maka ketuntasan mata pelajaran diambil dari rata-rata nilai setiap aspek mata pelajaran pada semester ganjil dan genap.

5) Siswa yang memiliki piagam kejuaraan tingkat Provinsi dapat dipertimbangkan kenaikan kelasnya.

 

Berikut contoh analisis ketuntasan untuk kenikan kelas

 

Berdasarkan data pada tabel diperoleh data untuk bahan penentuan keputusan sebagai berikut :

1) Dengan memperhatikan KKM pada semester 1, terdapat 3 mata pelajaran tidak tuntas terdiri atas Bahasa Indonesia, Matematika, dan PJOK.

2) Pada semester 2, terdapat 2 mata pelajaran tidak tuntas yaitu Bahasa Indonesia dan PJOK.

3) Untuk mengetahui banyaknya ketuntasan, yaitu merata-ratakan nilai setiap aspek pada mata pelajaran yang sama pada contoh kasus di atas,

  1. Nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia semester 1 pada aspek pengetahuan = 60 dan semester 2 aspek pengetahuan = 60, rerata = 60 (belum tuntas). Semester 1 pada aspek keterampilan = 65 dan semester 2 = 65, reratanya= 65 (tuntas). Maka mata pelajaran Bahasa Indonesia belum tuntas.
  2. Nilai mata pelajaran Matematika semester 1 pada aspek pengetahuan = 58 dan semester 2 aspek pengetahuan = 65, reratanya =62 (belum tuntas). Semester 1 pada aspek keterampilan = 65 dan semester 2= 65, reratanya= 65 (tuntas). Maka mata pelajaran Matematika belum tuntas
  3. Nilai mata pelajaran PJOK semester 1 pada aspek pengetahuan= 64 dan semester 2 aspek pengetahuan= 70, reratanya =67 (tuntas). Semester 1 pada aspek keterampilan= 63 dan semester 2= 65, reratanya= 64 (belum tuntas). Maka mata pelajaran PJOK belum tuntas.

Kesimpulan : jumlah mata pelajaran yang tidak tuntas adalah 3 (tiga) yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, dan PJOK. Nilai aspek Sikap adalah Baik, maka peserta didik yang bersangkutan diputuskan TIDAK NAIK KELAS.

Catatan:

  • Keputusan kenaikan kelas bagi peserta didik dilakukan berdasarkan hasil rapat pleno dewan guru dengan mempertimbangkan kebijakan satuan pendidikan, seperti minimal kehadiran, tata tertib, dan peraturan lainnya yang berlaku di MA.MASALIKIL HUDA.
  • Kriteria kenaikan kelas dari satuan pendidikan harus tersurat dalam dokumen KTSP.
  • Lembar kriteria kenaikan kelas dilampirkan pada rapor peserta didik

 

  1. KELULUSAN SISWA

 

Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 jo PP 32/2013 Pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah :

  • Menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
  • Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan
  • Lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan lulus Ujian Nasional.
  • Dalam pelaksanaan Ujian Sekolah, satuan pendidikan wajib membuat Prosedur Operasional Standar (POS) sebagai rujukan teknis dalam pelaksanaan Ujian Sekolah. Tujuan penyusunan POS untuk mengorganisasikan pelaksanaan Ujian Sekolah yang efektif dan profesional, mewujudkan pelayanan yang berkualitas, memuaskan, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
  • Berikut dijelaskan kriteria kelulusan Ujian Sekolah dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional serta kriteria kelulusan dari Satuan Pendidikan.
  • Kriteria Kelulusan Ujian Sekolah dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional.
  • Peserta didik dinyatakan lulus Ujian Sekolah (US) dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:
  1. Kelulusan US dan USBN ditentukan berdasarkan nilai Ujian Sekolah (NUS).
  2. NUS ditentukan berdasarkan batas minimal rata-rata semua mata pelajaran dan/atau batas minimal untuk setiap mata pelajaran yang diuji. Contoh : rata- rata semua mata pelajaran yang di-US-kan paling rendah 70 dan nilai US setiap mata pelajaran paling rendah 65

Kelulusan Tingkat Satuan Pendidikan MA.MASALIKIL HUDA

Peserta didik dinyatakan lulus dari Satuan Pendidikan setelah memenuhi kriteria: a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran; b. memperoleh nilai sikap/perilaku minimal baik; dan c. lulus ujian sekolah dan ujian sekolah berstandar nasional.

Berikut penjelasan mengenai ketiga kriteria tersebut:

  1. Penyelesaian seluruh program pembelajaran untuk peserta didik MA.MASALIKIL HUDA apabila telah menyelesaikan pembelajaran dari kelas X sampai dengan kelas XII.
  2. Nilai sikap/perilaku minimal baik ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mempertimbangkan hasil penilaian sikap oleh pendidik.
  3. Kriteria kelulusan peserta didik dari Ujian Sekolah dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional untuk semua mata pelajaran ditetapkan oleh Satuan Pendidikan berdasarkan perolehan nilai US dan USBN.
  4. Kelulusan peserta didik dari MA ditetapkan oleh setiap Satuan Pendidikan yang bersangkutan melalui rapat dewan guru.

Ujian Sekolah Berbasis nasional dan Ujian Nasional Berbasis Komputer masing-masing telah dibuatkan Petunjuk Operasional pelaksanaan Ujian. MA.MASALIKIL HUDA dalam melaksankan Kegiatan Penilaian tersebut mengacu pada POS yang diterbitkan oleh BSNP.

Target Kelulusan MA.MASALIKIL HUDA  adalah mampu mengantarkan peserta didik untuk selesai studi tepat waktu dan mampu melanjutkan menuntut ilmu baik di pesantren atau mampu bersaing di perguruan tinggi Negeri serta dunia kerja. MA.MASALIKIL HUDA memiliki Target 100% kelulusan peserta didik

Program Peningkatan Mutu lulusan yang dilaksanakan di MA.MASALIKIL HUDA, antara lain :

  • Penyelesaian Materi pembelajaran kelas XII diupayakan selesai pada semester gasal, dengan cara pemadatan materi sejak bulan Oktober
  • Ke ikut sertaan dalam simulasi 1, simulasi 2 dan simulasi 3 UNBK
  • Diadakannya Tryout
  • Konseling Masa depan
  • Zaiarah Kubur dan Istighosah sebagai peningkat mutu spritual anak didik.

Ujian Nasional diadakan serentak di bulan April dan peserta didik sudah melaksanakan seluruh program pembelajaran, Adapun program kegiatan yang dilakukan MA.MASALIKIL HUDAPasca  Ujian Nasional, antara lain :

  • Mengadakan kegiatan pelatihan-pelatihan kewirausahaan dengan nara sumber dari hasil kerjasama  UNISNU dan Dinas terkait yang ada dijepara serta dari dunia Usaha.
  • Mengadakan Pelatihan Ujian Praktek Keagamaan sebagai upaya plus life skill bila terjun mengabdi pada masyarakat
  • Memberikan layanan dalam proses pendaftaran SNMPTN,SBMPTN ,SPTKIN atau seleksi sekolah Tinggi di laboratorium Komputer Sekolah MA.MASALIKIL HUDA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VII

BIMBINGAN KONSELING (BK)

 

  1. KONSEP

 

Peserta didik kini berada dalam situasi kehidupan yang kompleks, penuh dengan tekanan, paradoks dan ketidakmenentuan sehingga memerlukan kompetensi hidup agar berkembang secara efektif, produktif, bermartabat serta bermaslahat bagi diri sendiri dan lingkungannya.

Layanan Bimbingan dan Konseling adalah upaya sistematis, objektif, logis, berkelanjutan, dan terprogram oleh konselor atau guru Bimbingan dan Konseling untuk memfasilitasi siswa/konseli mencapai kemandirian sehingga mampu, memahami, menerima, mengarahkan, mengambil keputusan, dan merealisasikan diri secara bertanggung jawab untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidupnya.

Dalam implementasi kurikulum 2013, program BK dilaksanakan oleh guru bimbingan dan konseling sesuai dengan tugas pokoknya dalam upaya membantu tercapainya tujuan pendidikan nasional, dan khususnya membantu siswa/konseli mencapai perkembangan diri yang optimal, mandiri, sukses, sejahtera dan bahagia dalam kehidupannya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan kolaborasi dan sinergitas kerja antarguru bimbingan dan konseling, guru mata pelajaran, pimpinan sekolah/madrasah, staf administrasi, orang tua, dan pihak yang dapat membantu kelancaran proses dan pengembangan peserta didik/konseli secara utuh dan optimal dalam bidang pribadi, sosial, belajar, dan karir

 

  1. FUNGSI LAYANAN BK

Layanan Program Bimbingan dan Konseling di sekolah bagi siswa berfungsi untuk :

  1. Perluasan pemahaman diri dan lingkungan;
  2. Pendorong pertumbuhan dan perkembangan
  3. Proses penyesuaian diri dengan diri sendiri dan lingkungan;
  4. Penyaluran pilihan pendidikan, pekerjaan dan karir;
  5. Solusi atas masalah;
  6. Perbaikan dan penyembuhan;
  7. Pemeliharaan kondisi pribadi dan situasi yang kondusif;
  8. Pengembangan potensi dri secara optimal

 

  1. ASAS PELAYANAN

Asas pelayanan yang harus dijadikan pertimbangan dalam layanan Bimbingan meliputi:

  • Kerahasiaan sesuai kode etik bimbingan dan konseling;
  • Kesukarelaan dalam mengikuti layanan yang diperlukan;
  • Keterbukaan dalam memberikan dan menerima informasi;
  • Keaktifan dalam penyelesaian masalah;
  • Kemandirian dalam pengambilan keputusan;
  • Kekinian dalam penyelesaian masalah pada kehidupan konseli
  • Kedinamisan dalam memandang konseli.
  • Keterpaduan kerja antarpemangku kepentingan pendidikan ;
  • Keharmonisan layanan dengan visi dan misi sekolah serta nilai dan norma kehidupan yang berlaku;
  • Keahlian dalam pelayanan yang sesuai kaidah-akademik dan profesional;
  • Alih-tangan kasus untuk layanan di luar keahlian dan kewenangan;
  • Tut wuri handayani dalam memfasilitasi setiap peserta didik.

 

  1. PRINSIP BIMBINGAN KONSELING

 

  • Pelayanan bimbingan dan konseling untuk semua siswa dan tidak diskriminatif.
  • Bimbingan sebagai proses pelayanan individu karena setiap peserta didik memiliki keunikan masing-masing.
  • Bimbingan konseling memberikan bantuan untuk membangun pandangan positif pada diri dan lingkungannya.
  • Bimbingan konseling berlangsung dalam konteks kehidupan
  • Bimbingan dan konseling dalam bingkai budaya Indonesia.
  • Bimbingan dan konseling bersifat fleksibel, adaptif, dan berkelanjutan.
  • Pelayanan bimbingan dan konseling ditangani tenaga profesional.
  • Pelayanan bimbingan dan konseling berlandaskan program yang berbasis hasil analisis kebutuhan siswa sesuai dengan perkembangannya.
  • Bimbingan dan konseling dievaluasi secara berkala untuk sebagai dasar perbaikan proses layanan dan untuk mengukur hasil yang dicapai

 

 

 

 

 

  1. KOMPONEN PROGRAM BIMBINGAN KONSELING
  2. PROGRAM LAYANAN BIMBINGAN KONSELING

Program Layanan dalam kelas maupun di luar kelas yang dirumuskan dalam bentuk program tahunan dan program semester meliputi kegiatan:

  1. Layanan dasar (guidance curriculum) merupakan layanan penyiapan pengalaman terstruktur dan sistematis agar dapat menyesuaikan diri dengan tugas-tugas perkembangan secara alamiah dan normal.
  2. Layanan peminatan perencanaan individual agar peserta didik belajar sesuai dengan minatnya dan mengikuti proses sistematik untuk merencanakan masa depannya.
  3. Layanan responsif, merupakan pemberi bantuan dalam menghadap masalah dalam proses.

 

  1. BIDANG LAYANAN
  2. BK Pribadi meliputi pemahaman diri, keselarasan perkembangan, cipta rasa, karsa; kedewasaan, aktualisasi diri, dan tanggung jawab.
  3. BK Sosial untuk memahami interaksi sosial yang positif, keterampilan berinteraksi, dan mangatasi masalah dalam hubungan sosial.
  4. BK Belajar merupakan bantuan untuk mengenali potensi diri, sikap dan keterampilan belajar, keterampilan merencanakan pendidikan, kesiapan mental menghadapi ujian sehingga mendapat hasil belajar yang optimal.
  5. BK Karir merupakan bimbingan untuk mengalami pertumbuhan, perkembangan, eksplorsi, aspirasi dan pengambilan keputusan karir secara rasional dan realistis.

 

  1. STRUKTUR PROGRAM

Program layanan meliputi program tahunan dan program semesteran dengan mempertimbangkan komonen program berikut:

1) Rasional

2) Visi dan misi

3) Deskripsi Kebutuhan

4) Tujuan

5) Komponen Program

6) Bidang Layanan

7) Recana Kegiatan

8) Tema/Topik

9) Rencana Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling

10) Evaluasi, Pelaporan, dan Tindak Lanjut

11) Rencana Anggaran

 

  1. BENTUK LAYANAN BK DIDALAM KELAS

 

Bentuk layanan program Bimbingan dan Konseling di sekolah di laksanakan dalam bentuk :

  • Tatap muka terjadwal.
  • Volume kegiatan klasikal 2 jam pelajaran per rombel per minggu.
  • Materi layanan meliputi : aspek perkembangan pribadi, sosial, belajar, karir serta materi lain yang peserta didik perlukan.
  • Materi dirumuskan dalam Rencana Pelaksanaan Layanan Bimbingan Klasikal (RPLBK).

Layanan BK di SMA NU Kedung secara klasikal untuk kelas X dan XI terdapat jam pelajaran masuk berseling dengan layanan TIK serta pada hari senin jam pertama minggu ke-3.

 

  1. BENTUK LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DI LUAR KELAS

 

Layanan BK di luar kelas dilaksanakan dalam bentuk :

  • Konseling individual,
  • Kelompok,
  • Bimbingan kelompok,
  • Bimbingan kelas besar dan lintas kelas,
  • Konsultasi atau berbagi kepedulian konselor dengan konseli
  • Konferensi kasus atau membahas masalah konseli,
  • Kunjungan rumah,
  • Advokasi atau pendampingan terhadap konseli yang mengalami perlakuan yang tidak mendidik.
  • Kolaborasi, atau kerja sama guru BK dengan berbagai pihak.
  • Alih tangan kasus, atau pelimpahan kepada pihak lain yang memerlukan keahlian profesional lain.
  • Pengelolaan media,
  • Pengelolaan kontak masalah, dan
  • Manajemen program berbasis komptensi,
  • Penelitian dan pengembangan
  • Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB), dan kegiatan lain yang relevan.

Layanan BK diluar kelas yang diterapkan di MA.MASALIKIL HUDA sesuai juknis tersebut.

 

BAB VIII

EKSTRA KURIKULER

 

 

Kegiatan Ekstrakurikuler adalah kegiatan kurikuler yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam kegiatan intrakurikuler atau kegiatan kokurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler wajib adalah Kegiatan Ekstrakurikuler yang wajib diselenggarakan oleh satuan pendidikan dan wajib diikuti oleh seluruh peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler pilihan adalah Kegiatan Ekstrakurikuler yang dapat dikembangkan dan diselenggarakan oleh satuan pendidikan dan dapat diikuti oleh peserta didik sesuai bakat dan minatnya masing-masing.

Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler bertujuan bertujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian peserta didik secara optimal dalam mendukung pencapaian tujuan pendidikan.

 

  1. EKSTRAKURIKULER WAJIB KEPRAMUKAAN

 

Penyelenggaraan kegiatan Pramuka berlandaskan aturan sebagai berikut :

1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka.

2) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 238 tahun 1961 Tentang Gerakan Pramuka.

3) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 118 tahun 1961 Tentang Penganugerahan Pandji kepada Gerakan Pendidikan Kepanduan Pradja Muda karana.

4) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2009 Tentang Pengesahan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka.

5) Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 203 tahun 2009 Tentang Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.

 

Pelaksanaan kegiatan kepramukaan di sekolah mengacu pada Pemendikbud Nomor 63 Tahun 2014 dan Undang Undang Nomor 12 Tahun 2010, yang mengatur penyelenggaraan pendidikan Kepramukaan

Permendikbud mengatur tentang teknis penyelenggaran ekstrakurikuler wajib dan Undang-Undang mengatur tentang kegiatan gerakan kepramukaan reguler. Mengacu pada kedua aturan itu, maka sekolah menyelenggarakan kegiatan kepramukaan dalam tiga model yaitu:

  1. Model Blok

Model Blok diselenggarakan pada tiap awal tahun pelajaran seperti kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS). Seluruh siswa wajib mengikuti program ini sebagai kegiatan orietasi atau pengenalan pramuka yang dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan setiap sebelum siswa memulai tahun pelajaran baru pada tiap tahun.

Tujuan Model Blok

Pelaksanaan pendidikan model blok bertujuan :

  1. a) Meningkatnya pemahaman siswa tentang pendidikan kepramukaan sebagai proses yang menyenangkan dan menantang dengan menambah wawasan tentang keterampilan yang akan mereka kuasai dalam latihan selama satu tahun pelajaran.
  2. b) Meningkatnya kompetensi (sikap dan keterampilan) peserta didik yang sejalan dengan materi yang dipelajari dalam kegiatan tatap muka yang diadaptasi dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, melalui: Aplikasi Tri Satya dan Dasa Darma khususnya Darma ke-1 dan Darma ke-2 bagi peserta didik usia Penggalang dan Penegak.(sekolah akan mengembangkankegiatan sesuai dengan kebutuhan peningkatan keterampilan dan pematangan sikap secara berkelanjutan).

 

Perencanaan Sistem Blok

Perencanaan sistem blok dilakukan sebelum pelaksanaan penerimaan siswa baru, dengan komponen perencanaan meliputi :

  • Nama kegiatan
  • Tujuan
    • Indikator pencapaian kompetensi yang diharapkan
    • Materi pelatihan dan uraian secara ringkas
    • Strategi pelaksanaan pelatihan
    • Susunan Panitia
    • Pembina/Pelatih
    • Tempat pelatihan.
    • Jadwal pelatihan
    • Rencana Anggaran
    • Evaluasi dan Laporan

Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan model blok menggunakan waktu 36 jam tatap muka sebagai Kursus Orientasi Pendidikan Kepramukaan bagi peserta didik sesuai tingkat kelas dan usianya. Materi kegiatan sekolah siapkan khusus dengan mengintegrasikan rencana kegiatan tahunan kegiatan keprmukaan, materi kepramukaan, dan kecakapan berkolaborasi dalam kelas maupun di luar kelas dalam meningkatkan pematangan sikap dan meningkatkan keterampilan belajar siswa sebgai bagian diri indikator pencapaian visi sekolah.

Pelaksana kegiatan adalah tim pelaksana yang ditentukan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Sekolah dengan mengkolaborasikan Pembina Pramuka, tim Pembina Kesiswaan, dan Guru Mata Pelajaran yang relevan dengan rencana aktivitas latihan kegiatan aktualisasi.

Program kegiatan disusun dalam bentuk proposal kegiatan yang dirumuskan oleh panitia pelaksana dan disahkan oleh kepala sekolah. Biaya pelaksanaan kegiatan berasal dari anggaran sekolah yang relevan serta sumbangan dari pihak lain yang tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku.

Dalam kegiatan blok siswa tidak wajib menggunakan atribut pramuka. Namun demikian, jika sebelumnya siswa telah memiliki atribut dan seragam pramuka, maka kediatan dapat dilaksanakan dengan menggunakan atribut kepramukaan

 

Penilaian

Penilaian model blok dilakukan terhadap proses kegiatan dan hasil kegiatan sesuai dengan indikator keberhasilan yang diharapkan dalam program kegiatan. Penilaian kegiatan menjadi input kepada satuan pendidikan untuk perbaikan proses. Penilaian hasil belajar siswa disesuaikan dengan materi yang dipelajari. Hasil penilaian hasil belajar disampaikan kepada mata pelajaran yang relevan.

Evaluasi dan Laporan

Pengelola kegiatan model blok seusai melaksanakan kegiatan melakukan evaluasi dan menyusun laporan. Evaluasi kegiatan meliputi pemenuhan dalam proses pelaksanaan kegaitan dan mengukur pemenuhan tujuan. Evaluasi dilakukandengan menggunakan perangkat instrumen yang dibuat khusus untuk keperluan pengukuran keterwujudan proses dan ketercapaian tujuan.

  1. Model Aktualisasi

Model aktualisasi adalah ekstrakurikuler wajib yang dilaksanakan tiap minggu efektif. Kegiatan ini bertujuan utama membangun karakter dan keterampilan. Materi yang diaktualisasikan adalah materi kepramukaan yang diitegrasikan dengan materi pelajaran yang siswa peroleh dalam kegiatan tatap muka. Penyelenggaraan pendidikan aktualisasi adalah bentuk kegiatan peningkatan kompetensi dasar mata pelajaran yang relevan yang diintegrasikan dengan materi, metode, dan prinsip dasar pendidikan kepramukaan. Oleh karena itu sekolah perlu menyusun silabus pelatihan terlebih dahulu dengan memetakan kompetensi dasar mata pelajaran, materi pelajaran, tujuan, struktur jadwal, dan alat penilaian yang relevan

 

Perencanaan Program Aktualisasi

Perencanaan kegiatan aktualiasi secara ideal disusun untuk 3 (tiga) tahun dengan menggunakan model silabus nasional. Dengan sistem perencanan untuk tiga tahun akan memperjelas kompetensi, materi, strategi, serta tugas yang akan peserta latihan kerjakan, maupuan perangkat penilaian akan yang sekolah gunakan. Pembina tiap level mendapat tanggung jawab untuk merumuskannya dalam kurun waktu tahunan. Ada pun struktur program minimal memuat komponen berikut :

  • Nama kegiatan
  • Tujuan kegiatan
  • Silabus Pelatihan
  • Materi pelatihan
  • Pembina/Pelatih
  • Jadwal pelatihan
  • Sistem penilaian
  • Perangkat evaluasi program.

 

Pembina

Pembina dalam kegiatan aktualisasi adalah tenaga pendidik yang sekurang-kurangnya telah mengikuti Orientasi Pendidikan Kepramukaan (OPK) Kursus Mahir Dasar (KMD). Tujuan pelaksanaan pendidikan ekstrakurikuler wajib model aktualisasi adalah:

  1. Meningkatnya pemahaman peserta didik tentang pendidikan Kepramukaan yang menyenangkan dan menantang.
  2. Meningkatnya keterampilan peserta didik dalam mengaktualisasikan kompetensi dasar mata pelajaran yang relevan dengan metode dan prinsip dasar Pendidikan Kepramukaan sehingga bermanfaat untuk kepentingan hidupnya pada masa kini dan masa depannya.
  3. Meningkatkan kompetensi (mengejewantahkan nilai-nilai dalam sikap dan keterampilan) peserta didik sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pada Penerapan Trisatya dan Dasadarma bagi peserta didik usia Penggalang, dan Penegak.

Pelaksanaan Aktualisasi

 

Pelaksanaan kegiatan aktualisasi :

 Jadwal latihan satu minggu satu kali.

 Setiap pelaksanaan kegiatan selama 2 jam pelajaran.

 Model struktur kegiatan menggunakan model Latihan Ekstrakurikuler Pramuka.

 Pembina kegiatan dilakukan oleh Guru Kelas /Guru Matapelajaran selaku Pembina Pramuka dan/atau Pembina Pramuka serta dapat dibantu oleh Pembantu Pembina (Instruktur Muda/Instruktur Pramuka).

 Dalam pelaksanaan kegiatan siswa tidak wajib mengenakan atribut kepramukaan.

 

Penilaian

Penilaian proses dan hasil pencapaian kompetensi adalah tanggung jawab Pembina. Adapun penilaian meliputi penilaian sikap dan keterampilan. Hasil penilaian disampaikan kepada guru mata pelajaran yang relevan dengan materi yang menjadi bahan yang diaktualisasikan siswa.

 

  1. Model Reguler

 

Pelaksanaan kegiatan model reguler adalah kegiatan kepramukaan yang diatur Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Kepramukaan. Keikutsertaan dalam kegiatan bersifat sukarela. Jika dalam kegiatan Blok dan Aktualisasi wajib diikuti oleh seluruh siswa, maka dalam kegiatan reguler hanya siswa yang berminat saja yang mengikutinya dan mereka tergabung dalam kegiatan Gugus Depan.

Jenis Ekstra Kurikuler program wajib yang dilaksanakan sebagian besar didalam Kelas (Intra kurikuler) dengan alokais waktu satu jam tatap muka,  yaitu :

  • Tadarrus Alqur’an, mencakup hal – hal yang berkaitan dengan ilmu membaca Alqur’an dengan benar serta praktek membaca dengan benar, dengan metode pembelajaran Qira’ati untuk dewasa. Kelas X dua jam tatap muka, sedangkan kelas XI dan kelas XII satu jam tatap m Tadarrus Alqur’an ditugaskan pada guru khusus yaitu sudah Hafal Alqur’an.
  • Ketrampilan Agama, mencakup hal – hal yang berupa praktek pengalaman Ibadah dan Muamalah seperti, praktek Shalat, praktek Penyelenggaraan Jenazah, dan praktek tentang hukum – hukum Fiqih (syari’at Islam) dalam kehidupan sehari – hari. Ketrampilan Agama ditugaskan pada guru khusus yaitu Kyai desa Bugel.
  • Ke-NU-an mencakup hal-hal yang terkait dengan faham Ahlu sunnah Wal Jama’ah
  • Pramuka, mencakup teori dan praktek kepramukaan, program ini wajib bagi kelas X dan XI , program ini dilaksanakan sesuai juknis dan peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan. Yaitu :
  • Layanan ekstra kurikuler pramuka dilaksanakan melalui sistem blok : Perkemahan penerimaan tamu ambalan dan Perkemahan Bantara
  • Layanan Ekstra kurikuler Pramuka model Aktualisasi dilaksanakan dalam rumpun pembelajaran, artinya peserta didik dalam melakukan ujian kecakapan khusus diprogramkan pada seluruh guru mata pelajaran yang sesuai dengan materi SKU
  • Layanan Ekstra kurikuler Pramuka Model Reguler dilaksanakan setiap minggu dengan alokasi waktu dua jam pelajaran tatap muka dalam ruang atau lapangan , program ini terpisah antara pandu putera dengan pembina putera dan pandu puteri dengan kakak pembina puteri

Penilaian dan Evaluasi dari kegiatan Pramuka secara menyeluruh dalam dilihat dari keikkutsertaan  ambalan Pandu Putra Negara dan Pandu Putri Pertiwi MA.MASALIKIL HUDA dalam kegiatan event Survival oleh pramuka cabang Jepara

 

  1. Ekstrakurikuler Pilihan

Kegiatan ekstrakurikuler pilihan dilaksanakan dalam rangka mendukung pembentukan karakter sesuai dengan norma spiritual dan sikap sosial siswa, serta menumbuhkan sikap peduli terhadap orang lain dan lingkungan. Ekstrakurikuler juga sebagai wadah dalam penguatan pembelajaran berbasis pengamatan maupun dalam usaha memperkuat kompetensi keterampilannya dalam ranah konkret.

Dengan demikian, kegiatan ekstrakurikuler pilihan dapat dirancang sebagai pendukung kegiatan kurikuler. Jumlah alokasi waktu jam ekstrakurikuler yaitu maksimal 60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran. Kegiatan ekstrakurikuler pilihan meliputi kegiatan :

  1. Keagamaan, misalnya : pesantren kilat, ceramah keagamaan, baca tulis Al-Quran, retreat atau kegiatan keagamaan lainnya.
  2. Kegiatan Krida, misalnya : Latihan Kepemimpinan Siswa (LKS), Palang Merah Remaja (PMR), Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), pencinta alam, dan lainnya.
  3. Latihan Kebakatan, misalnya : pengembangan bakat olahraga, bela diri, seni dan budaya, pencinta alam, jurnalistik, teater, fotografi dan lain-lain.
  4. Kegiatan Ilmiah, misalnya : Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian, kelompok pencinta teknologi informasi dan komunikasi, rekayasa, majalah dinding dan lainnya.
  5. Kegiatan kebahasaan, misalnya : kolaborasi internasional, majalah didinding, kemampuan berkarya sastra, musikalisasi puisi, penguatan berbahasa asing, dan lainnya.
  6. Manajemen UKS, Kantin, Dewan Pengurus Masjid, dan lain sebagainya.
  7. Pengembangan Prestasi, misalnya : kegiatan cerdas cemat, olimpade, debat bahasa Inggris, dan lainnya.
  8. Pengembangan Cinta Tanah Air, misalnya : Kepemimpinan dan kolaborasi lintas kelas dan satuan pendidikan, dan lintas nusa.
  9. Pengembangan keterampilan; rekayasa web, pemrograman, olimpiade TIK

 

Tujuan Kegiatan Ekstrakurikuler Pilihan

Pelaksanaan ekstrkurikuler bertujuan untuk membangun karakter dan menguatkan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan; mengembangkan potensi diri siswa berbasis kebakatan, minat, dan prestasi yang diselenggarakan di luar jam tatap muka.

Perencanaan

Perencanaan sistem blok dilakukan sebelum pelaksanaan penerimaan siswa baru. Komponen perencanaan meliputi :

1) Nama Kegiatan

2) Tujuan penyelenggaraan kegiatan

3) Indikator keberhasilan.

4) Deskripsi keberhasilan tahun sebelumnya.

5) Rumusan masalah yang dihadapi dalam mewujudkan tujuan

6) Strategi Pelaksanaan Kegiatan

7) Materi pelatihan diurai secara ringkas.

8) Susunan pembina dan uraian tugas

9) Tempat pelatihan

10) Jadwal Pelatihan

11) Tata tertib pelaksanaan kegiatan

12) Anggaran.

13) Instrumen Evaluasi Kegiatan

Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan menggunakan waktu 60% dari kegiatan tatap muka. Kegiatan diarahkan untuk mengembangkan kompetensi yang diharapkan serta disesuaikan dengan visi-misi- dan tujuan sekolah. Pelaksana kegiatan adalah tim pelaksana yang ditentukan kepala Sekolah dengan. Kegiatan dibuktikan dengan dokumen catatan kegiatan atau jurnal, data kehadiran pembina, dan kehadiran peserta didik.

Penilaian

Penilaian ekstrakurikuler dilakukan terhadap proses kegiatan dan hasil kegiatan sesuai dengan indikator keberhasilan yang diharapkan dalam program kegiatan. Penilaian kegiatan menjadi input bagi satuan pendidikan untuk perbaikan proses. Penilaian hasil belajar siswa disesuaikan dengan materi yang dipelajari. Hasil penilaian hasil belajar disampaikan kepada mata pelajaran yang relevan.

Evaluasi dan Laporan

Pengelola kegiatan ekstrakurikuler seusai melaksanakan kegiatan melakukan evaluasi dan menyusun laporan. Evaluasi kegiatan meliputi pemenuhan dalam proses pelaksanaan kegiatan dan mengukur pemenuhan tujuan. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan perangkat instrumen yang ringkas untuk keperluan pengukuran keterwujudan proses dan ketercapaian tujuan.

Dengan mempertimbangkan segenap kaidah yang telah dirumuskan, maka sekolah menetapkan layanan kegiatan ekstrakurikuler pilihan sebagai berikut berdasarkan Surat Keputusan Kepala Sekolah.

NO

Bidang Ekstra Kurikuler

Kegiatan

I

Keagamaan

Tadarrus Alqur’an,  Da’wah Keagamaan/Pidhato, Pesantren Kilat

II

Krida

UKS(  MA.MASALIKIL HUDA), Paskibra, Panjat Dinding/Pecinta Alam/Calistung,

III

Pengembangan Bakat

Olahraga, tata rias, tata boga, menjahit, Beladiri ( Karate dan pencak Silat),Rebana, Teater

IV

Kegiatan Ilmiah

KIR, OSN

V

Bahasa dan Sastra

Debat Indonesia, Conversation, seni tulis dan baca puisi

VI

Manajemen

Manajemen Kantin

VII

 

Ketrampilan Literasi

Membaca/Bedah Buku, Reka-yasa program TIK, Olimpiade TIK, Pengembangan WEB Pengembangan Bisnis On Line

VIII

Pengembangan Prestasi

Lomba karya ilmiah, Lomba debat, Cerdas Cermat, Olim-piade

IX

Kepemimpinan

Latihan dasar kepemimpinan (LDK), Kolaborasi lintas sekolah

 

Selanjutnya pembagian tugas dan bidang tugas kegiatan ekstrakurikuler pilihan ditetapkan dalam Surat Keputusan Kepala Sekolah, setelah menimbang jumlah siswa peserta kegiatan Ekstrakurikuler, dan ditetapkan setelah mendapat pertimbangan rapat dewan guru, yang dihadiri oleh komite sekolah. Pertimbangan juga didasari dengan data jumlah siswa pemilih, ketersediaan pembina, daya dukung sarana-prasarana, ketersediaan biaya, waktu dan kebermaknaan bagi pengembangan potensi siswa dalam mewujudkan target mutu lulusan satuan pendidikan.

Pengembangan diri program pilihan yang dilaksanakan di MA.MASALIKIL HUDA sebagian besar diluar  kelas yaitu program ekstra  kurikuler  yang diasuh oleh guru Pembina. Pelaksanaannya secara regular pada hari – hari yang telah terjadwal, yaitu :

  • Panjat dinding/Wall Climbing.

Program ini dilaksanakan dengan tujuan agar siswa mempunyai kecintaan terhadap alam semesta, mencintai lingkungan dan diharapkan setelah dari MA mampu menjaga lingkungan dari kerusakan. Kegiatan rutin yang dilaksanakan antara lain panjat dinding dan  kerja bakti sekitar sekolah. Kegiatan insidental antara lain mengikuti lomba panjat dinding tingkat kabupaten, mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi WALHI  seperti penanaman bakau dan reboisasi di sepanjang lereng muria di kabupaten Jepara.

  • Rebana

Program ini dilaksanakan dengan tujuan mewadahi potensi musik peserta didik dengan nuansa islami. Kegiatan rutin yang dilaksanakan adalah latihan rebana, dan kegiatan insedental yang dilaksanakan adalah penampilan dalam event-event perayaan hari islam di sekolah dan event pelepasan kelas XII pada acara Muwaddah/Penerimaan Ijazah.

  • Karate

Program ini dilaksanakan dengan tujuan mewadahi seni bela diri peserta didik. Kegiatan rutin yang dilaksanakan adalah latihan rutin dan kegiatan insidental yang dilaksanakan adalah mengikuti lomba-lomba tingkat kabupaten.

  • Olimpiade MIPA dan IPS

Program ini dilaksanakan dengan tujuan menampung potensi akademik peserta didik dan menyiapkan peserta dalam lomba OSN tingkat Kabupaten. Kegiatan rutin yang dilakukan adalah program pengayaan materi OSN dan program Quiz Mata pelajaran di Papan Mading. sedangkan kegiatan insidental yang dilakukan adalah mengikuti lomba OSN   ditingkat Kabupaten atau OSN yang di selenggarakan oleh Perguruan Tinggi.

  • KIR

Program ini dilaksanakan dengan tujuan menampung potensi akademik peserta didik di bidang penelitian. Kegiatan rutin yang dilaksanakan adalah pemberian materi penelitian, penugasan kelompok dalam menyelidiki persoalan – persoalan yang sederhana, sedangkan kegiatan insidental adalah mengikuti lomba Karya ilmiah tingkat Kabupaten atau yang diadakan oleh perguruan tinggi.

  • Tata rias (Keputrian)

Program ini dilaksanakan dengan tujuan membekali peserta didik untuk bisa bertahan hidup melalui ketrampilan tata rias. Kegiatan rutin yang dilaksanakan adalah pemberian materi dan praktek tata rias wajah dan tangan, sedangkan kegiatan insidental yang dilakukan adalah merias peserta didik yang akan tampil dalam kegiatan pentas seni, hari Kartini  pemilihan kang mas dan mbak yu pada event survival pramuka.

  • Tata Boga(Keputrian)

Program ini dilaksanakan dengan tujuan membekali peserta didik untuk bisa bertahan hidup melalui ketrampilan memasak. Kegiatan rutin yang dilaksanakan adalah pemberian materi dan praktek memasak bahan makanan dan atau kue basah dan kering, sedangkan kegiatan insidental yang dilakukan adalah Bazar pada event-event peringatan hari besar islam dan atau lomba yang dilaksankan oleh sekolah.

  • Olahraga (Futsal dan Bola Voli dan sepak bola)

Program ini dilaksanakan dengan tujuan menampung potensi peserta didik dibidang olah raga. Kegiatan rutin yang dilaksanakan adalah latihan futsal rutin, sedangkan kegiatan insidental yang dilaksanakan adalah mengikuti lomba ditingkat Kabupaten atau yang diselenggarakan oleh Organisasi –organisasi tertentu dan atau Perguruan tinggi.

  • Menjahit

Program ini dilaksanakan dengan tujuan membekali peserta didik untk bisa bertahan hidup melalui ketrampilan menjahit. Kegiatan rutin yang dilaksanakan adalah pemebrian materi dan praktek membuat karya baik Rok bawahan ataupun baju atasan

  • UKS MA.MASALIKIL HUDA

Program ini memfasilitasi layanan kesehatan disekolah, jeis kegiatannya antara lain :

  1. Pemberian tablet tambah darah untuk remaja putri
  2. Pemantauan kesehatan dasar siswa secara berkala tiap 3 bulan sekali
  3. Pemantauan Jentik Nyamuk dilingkungan dalam dan luar halaman sekolah serta lingkungan rumah dan mushola peserta didik setiap satu minggu
  4. Layanan Konseling kesehatan Remaja dalam satu minggu sebanyak 3 kali
  5. Pelatihan layanan kesehatan dengan kerjasama dengan Puskesmas Kedung
  • Pasukan Khusus Pengibar Bendera

Kegiatan ekstra ini bekerjasama dengan koramil dan kepolisian kedung dalam menampung wadah bakat minat peserta didik dalam kedisiplinan LBB dan Pengibar bendera.

  • Teater

Kegiatan ini meliputi wadah bakat minat peserta didik  dalam hal peningkatan kemampuan sastra, antara lain seni tulis dan baca puisi, perfilman, akting dengan diikuti musik. Kegiatan ini ditampilkan pada acara pentas seni akhir tahun pelajaranUntuk mengembangkan tatakelola yang efektif satuan pedidikan wajib memiliki dokumen perencanaan, pelaksanaan, penilaian, evaluasi, dan laporan.

 

  1. PENGELOLAAN LAYANAN PENINGAKATAN KETERAMPILAN TIK

 

Peningkatan keterampilan TIK atau Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) sekolah usahakan untuk dikelola oleh guru yang memiliki kualifikasi akademik Sl/D-IV bidang teknologi informasi atau sejenisnya yang telah memiliki sertifikat pendidik bidang TIK dan KKPI. Beban guru TIK sesuai dengan ketentuan tidak hanya memiliki beban kerja membimbing siswa, namun mereka memilliki beban kerja yang jauh lebih luas dengan ruang lingkup tugas sebagai berikut:

1) Membimbing siswa untuk mencapai standar kompetensi lulusan pendidikan dasar dan menengah.

2) Memfasilitasi sesama guru dalam menggunakan TIK untuk persiapan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran pada pendidikan dasar dan menengah;

3) Memfasilitasi tenaga kependidikan dalam mengembangkan sistem manajemen sekolah berbasis TIK.

Secara umum Guru TIK mendapatkan tugas dan tanggung dalam memfasilitasi sekolah:

1) menyusun rancangan pelaksanaan layanan dan bimbingan TIK;

2) melaksanakan layanan dan bimbingan TIK per tahun;

3) menyusun alat ukur/lembar kerja program layanan dan bimbingan TIK;

4) mengevaluasi proses dan hasil layanan dan bimbingan TIK;

5) menganalisis hasil layanan dan bimbingan TIK;

6) melaksanakan tindak lanjut hasil evaluasi dengan memperbaiki layanan dan bimbingan TIK;

7) menjadi pengawas penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar tingkat sekolah dan nasional;

8) membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler;

9) membimbing guru dalam penggunaan TIK;

10) membimbing tenaga kependidikan dalam penggunaan TIK;

11) melaksanakan pengembangan diri; dan

12) melaksanakan publikasi ilmiah dan/atau membuat karya inovatif.

 

Dalam tugasnya membimbing siswa guru TIK mendapatkan tugas minimal melaksanakan bimbingan kepada 150 siswa dengan tugas sebagai berikut:

1) mencari, mengolah, menyimpan, menyajikan, serta menyebarkan data dan informasi dalam mendukung kelancaran proses belajar; dan

2) Mengembangkan siswa di sekolah sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, dan kepribadiannya dengan memanfaatkan TIK sebagai

3) sarana untuk mengeksplorasi sumber belajarMemfasilitasi tenaga kependidikan dalam mengembangkan sistem manajemen sekolah berbasis TIK.

Dalam melaksanakan tugas membimbing guru dan tenaga kependidikan, guru TIK mengemban tugas berikut:

1) Memberikan palayanan kepada pendidik:

  1. Mengembangkan sumber belajar dan media pembelajaran;
  2. Mempersiapkan pembelajaran;
  3. Memfasilitasi proses pembelajaran;
  4. Memfasilitasi penilaian pembelajaran; dan
  5. Memfasilitasi pelaporan hasil belajar.

2) Memfasilitasi tenaga kependidikan dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem manajemen sekolah.

Penugasan ini menunjukkan adanya peningkatan tanggung jawab guru TIK tidak hanya meningkatkan keterampilan siswa, namun berkembang dalam meningkatkan keterampilan guru dan tenaga kependidikan lainnya.

Perencanaan dan perancangan deskripsi tugas guru TIK dilaksanakan pada setiap awal tahun pelajaran agar sinergis dengan kegiatan lainnya dalam pelaksanaan program pembelajaran dan pengelolaan sekolah.

 

 

 

 

 

 

 

BAB IX

PENILAIAN PROSES HASIL BELAJAR

 

Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup: penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah

Bentuk penilaian di antaranya adalah ulangan atau proses yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian Kompetensi Peserta Didik secara berkelanjutan dalam proses Pembelajaran. Ulangan berguna untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar Peserta Didik.

Bentuk penaliaan lain adalah ujian sekolah/madrasah yaitu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan dilakukan dalam bentuk penilaian akhir, ujian sekolah dan ujian sekolah berstandar nasional.

  1. PRINSIP PENILAIAN HASIL BELAJAR

Prinsip penilaian hasil belajar menerapkan prinsip:

 

  • sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur;
  • objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai;
  • adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
  • terpadu, berarti penilaian merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran;
  • terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan
  • menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau dan menilai perkembangan kemampuan peserta didik;
  • sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku;
  • beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan; dan
  • akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi mekanisme, prosedur, teknik, maupun hasilnya

 

  1. TUJUAN PENILAIAN

 

Pelaksanaan Penilaian bertujuan untuk memfasilitasi:

  • guru dalam merencanakan, membuat, mengembangkan instrumen, dan melaksanakan penilaian hasil belajar;
  • guru dalam menganalisis dan menyusun laporan, termasuk memanfaatkan hasil penilaian dan mengisi rapor;
  • guru dalam menerapkan program remedial bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM), dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah mencapai KKM;
  • kepala sekolah dan pengawas dalam menyusun program dan melaksanakan supervisi akademik bidang penilaian.
  • orang tua dalam memahami sistem dan mekanisme penilaian serta laporan hasil belajar peserta didik.

 

  1. RUANG LINGKUP PENILAIAN

 

  1. Penilaian Proses

Penilaian proses pembelajaran menggunakan pendekatan penilaian otentik (authentic assesment) yang menilai kesiapan peserta didik, proses, dan hasil belajar secara utuh. Keterpaduan penilaian ketiga komponen tersebut menggambarkan kapasitas, gaya, dan perolehan belajar peserta didik yang mampu menghasilkan dampak instruksional (instructional effect) pada aspek pengetahuan dan dampak pengiring (nurturant effect) pada aspek sikap.

Hasil penilaian otentik digunakan guru untuk merencanakan program perbaikan (remedial) pembelajaran, pengayaan (enrichment), atau pelayanan konseling. Hasil penilaian otentik digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki proses pembelajaran sesuai dengan Standar Penilaian Pendidikan.

Evaluasi proses pembelajaran dilakukan saat proses pembelajaran dengan menggunakan alat : lembar pengamatan, angket sebaya, rekaman, catatan anekdot, dan refleksi. Evaluasi hasil pembelajaran dilakukan saat proses pembelajaran dan di akhir satuan pelajaran dengan menggunakan metode dan alat : tes lisan/perbuatan, dan tes tulis. Hasil evaluasi akhir diperoleh dari gabungan evaluasi proses dan evaluasi hasil pembelajaran

 

  1. Penilaian Hasil Belajar

Penilaian sikap

Penilaian Sikap merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk memperoleh informasi deskriptif mengenai perilaku peserta didik. Penilaian pengetahuan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengukur penguasaan pengetahuan peserta didik. Penilaian keterampilan mengukur kemampuan peserta didik menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas tertentu.

Penilaian hasil belajar oleh pendidik bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan bertujuan untuk menilai pencapaian Standar Kompetensi Lulusan untuk semua mata pelajaran.

 

  1. NILAI KETUNTASAN

 

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) ditentukan oleh satuan pendidikan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran dan kondisi satuan pendidikan. KKM dirumuskan setidaknya dengan memperhatikan 3 (tiga) aspek, yaitu kompleksitas materi/kompetensi, intake (kualitas peserta didik), serta guru dan daya dukung satuan pendidikan.

1) Karakteristik materi/kompetensi ditunjukkan dengan kompleksitas KD dengan mencermati kata kerja yang digunakan pada KD dan berdasarkan data empiris dari pengalaman guru mengajar.

2) Aspek intake atau bekal ajar awal dengan memperhatikan kualitas peserta didik yang dapat diidentifikasi antara lain berdasarkan hasil ujian nasional pada jenjang pendidikan sebelumnya, hasil tes awal yang dilakukan oleh sekolah, atau nilai rapor sebelumnya. Semakin tinggi aspek intake, semakin tinggi pula nilai KKMnya.

3) Aspek guru dan daya dukung antara lain memperhatikan ketersediaan guru, kesesuaian kapasitas dan kapabelitas guru guru dengan mata pelajaran yang diampu, serta rasio jumlah peserta didik dalam satu kelas, sarana prasarana pembelajaran, dukungan dana, dan kebijakan.

4) Semakin tinggi aspek guru dan daya dukung, semakin tinggi pula nilai KKM-nya.

KKM sebaiknya dibuat sama untuk semua mata pelajaran pada semua tingkat kelas, artinya nilai KKM sama untuk semua mata pelajaran pada suatu sekolah. Nilai KKM ditulis dalam dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan disosialisasikan kepada semua warga sekolah. Secara teknis prosedur penentuan KKM mata pelajaran pada Satuan Pendidikan dapat digambarkan pada alur sebagai berikut :

(1) Nilai ketuntasan kompetensi sikap dituangkan dalam bentuk angka dan predikat, yakni 1,00 – 4,00 untuk angka yang ekuivalen dengan predikat Kurang (K), Cukup (C), Baik (B), dan Sangat Baik (SB) sebagaimana tertera pada tabel berik

NILAI KETUNTASAN SIKAP

ANGKA

PREDIKAT

4,00

SANGAT BAIK(SB)

3,00

BAIK(B)

2,00

CUKUP(C)

1,00

KURANG(K)

 

Ketuntasan Belajar sikap (KD pada KI-1 dan KI-2) ditetapkan dengan modus 3,00 atau predikat Baik (B).

Nilai ketuntasan kompetensi pengetahuan dan keterampilan dituangkan dalam bentuk angka dan huruf, yakni 1,0 – 4,0 untuk angka yang ekuivalen dengan huruf D sampai dengan A sebagaimana tertera pada tabel berikut :

 

Nilai

Ketuntasan Pengetahuan dan Ketrampilan

Angka

Predikat

10

4

A

9

3,67

A-

8

3,33

B+

7

3,00

B

6

2,67

B-

5

2,33

C+

4

2,00

C

3

1,67

C-

2

1,33

D+

1

1,00

D-

 

(3) Ketuntasan Belajar pengetahuan ditetapkan dengan skor rerata 2,67 atau huruf B-, untuk keterampilan ditetapkan dengan capaian optimum 2,67 atau huruf B-.

(4) KKM sebaiknya dibuat sama untuk semua mata pelajaran pada semua tingkat kelas, artinya nilai KKM sama untuk semua mata pelajaran pada Pendidikan (KTSP) dan disosialisasikan kepada semua warga sekolah.

(5) Menetapkan KKM setiap kompetensi dasar (KD), yang menggunakan kriteria analisis dengan mempertimbangkan aspek karakteristik peserta didik (intake), karakteristik mata pelajaran (kompleksitas materi/ kompetensi), serta guru dan kondisi satuan pendidikan (daya dukung);

(6) Menetapkan KKM mata pelajaran yang merupakan rata-rata dari semua KKM kompetensi dasar yang terdapat dalam satu mata pelajaran;

(7) Menetapkan KKM pada tingkatan kelas yang merupakan rata-rata dari semua KKM mata pelajaran pada setiap tingkatan kelas; dan

(8) Menetapkan KKM satuan pendidikan yang merupakan rata-rata dari semua KKM pada setiap tingkatan kelas X, XI, dan XII dalam satu semester atau satu tahun pembelajaran.

 

Contoh kriteria dan skala penilaian penetapan KKM. Untuk memudahkan analisis setiap KD, perlu dibuat skala penilaian yang disepakati oleh guru mata pelajaran seperti berikut :

Kriteria dan Skala Penilaian Penetapan KKM

 

Aspek yang dianalisis

Kriteria dan Skala Penilaian

Kompleksitas

Tinggi

<65

Sedang

65-79

Rendah

80-100

Guru dan Daya Dukung

Tinggi

80-100

Sedang

65-79

Rendah

<65

Intake peserta didik

Tinggi

80-100

Sedang

65-79

Rendah

<65

 

(9) Menentukan KKM setiap KD dengan rumus berikut :

 

                       Jumlah Skor Setiap Aspek

KKM per KD = --------------------------------

                   Jumlah Aspek

 

Misalkan aspek daya dukung mendapat skor 90, aspek kompleksitas mendapat skor 70, aspek intake mendapat skor 65, Jika bobot setiap aspek sama, nilai KKM untuk KD tersebut =

                  90 + 70 + 65

KKM-KD = ------------------

                         3

Dalam menetapkan nilai KKM-KD, pendidik/satuan pendidikan dapat juga memberikan bobot berbeda untuk masing-masing aspek atau menggunakan poin/skor pada setiap kriteria yang ditetapkan :

 

Kriteria Penskoran :

Aspek yang diianalisis

Kriteria Penskoran

Kompleksitas

Tinggi

1

Sedang

2

Rendah

3

Guru dan Daya

Dukung

Tinggi

3

Sedang

2

Rendah

1

Intake peserta didik

Tinggi

3

Sedang

2

Rendah

1

 

Jika KD memiliki kriteria kompleksitas tinggi, guru dan daya dukung tinggi, serta intake peserta didik sedang, maka nilai KKM-nya adalah :

Nilai KKM merupakan angka bulat, maka nilai KKM-nya adalah 67. (9) Menentukan KKM setiap mata pelajaran dengan rumus

 

(10) Menentukan KKM setiap tingkatan kelas dengan rumus :

 

Jumlah KKM Per MP

KKM Tingkatan Kelas = -----------------------------------------

Jumlah MP pada Tingkat Kelas

 

 

(11) Menentukan KKM satuan pendidikan dengan rumus :

 

 

Setelah Langkah-langkah pembuatan KKM dilakukan maka di MA.MASALIKIL HUDA KKM setiap mata pelajaran dapat dilihat di Tabel 9.1.

Tabel 9.1.1

KKM Mata Pelajaran kelas X untuk Peminatan IPA

MA.MASALIKIL HUDA

No

MATA PELAJARAN

KKM

 

PENGETAHUAN

KETRAMPILAN

 

KELOMPOK WAJIB

 

 

 

I

KELOMPOK A(WAJIB)

 

1

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

68

68

 

2

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

68

68

 

3

Bahasa Indonesia

68

68

 

4

Matematika

68

68

 

5

Sejarah Indonesia

68

68

 

6

Bahasa Inggris

68

68

 

II

KELOMPOK B (WAJIB)

 

7

Seni Budaya

68

68

 

8

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan

68

68

 

9

Prakarya dan Kewirausahaan

68

68

 

10

Bahasa Jawa

68

68

 

III

Kelompok C (Peminatan)

 

11

Matematika

68

68

 

12

Fisika

68

68

 

13

Kimia

68

68

 

14

Biologi

68

68

 

Mata Pelajaran Pilihan Lintas Kelompok Peminatan

15

Bahasa dan sastra Arab

68

68

 

16

Sosiologi

68

68

 

           

 

 

 

 

Tabel 9.1.2

KKM Mata Pelajaran Kelas X Peminatan IPS MA.MASALIKIL HUDA

Mata Pelajaran

KKM

PENGETAHUAN

PENGETAHUAN

KELOMPOK A (UMUM)

 

1.

Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

68

68

2.

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

68

68

3.

Bahasa Indonesia

68

68

4.

Matematika

68

68

5.

Sejarah Indonesia

68

68

6.

Bahasa Inggris

68

68

Kelompok B (UMUM)

 

7.

Seni Budaya

68

68

8.

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan)

68

68

9.

Prakarya dan Kewirausahaan

68

68

10.

Bahasa Jawa (wajib)

68

68

 

Kelompok C ( Mata pelajaran peminatan dan Lintas Minat)

 

(c)   Mata Pelajaran Peminatan

11.

Geografi

68

68

12.

Sejarah

68

68

13.

Sosiologi

68

68

14.

Ekonomi

68

68

(d)   Mata pelajaran pilihan lintas minat

15.

Bahasa dan Sastra Asing (arab))

68

68

16

Biologi

68

68

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 9.1.3

KKM Mata Pelajaran kelas X Peminatan Bahasa MA.MASALIKIL HUDA

 

Mata Pelajaran

KKM

PENGETAHUAN

PENGETAHUAN

KELOMPOK A (UMUM)

1.

Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

68

68

2.

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

68

68

3.

Bahasa Indonesia

68

68

4.

Matematika

68

68

5.

Sejarah Indonesia

68

68

6.

Bahasa Inggris

68

68

Kelompok B (UMUM)

7.

Seni Budaya

68

68

8.

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan)

68

68

9.

Prakarya dan Kewirausahaan

68

68

10.

Bahasa Jawa (wajib)

68

68

Kelompok C ( Mata pelajaran peminatan akademik dan Lintas Minat)

11.

Bahasa dan Sastra Indonesia

68

68

12.

Bahasa dan Sastra Inggris

68

68

13.

Bahasa dan sastra Asing (Arab)

68

68

14.

Antropologi

68

68

Kelompok Mata pelajaran pilihan lintas minat

15.

Ekonomi

68

68

16

Kimia/Biologi

68

68

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 9.1.4

KKM Mata Pelajaran kelas XI Peminatan IPA MA.MASALIKIL HUDA

Mata Pelajaran

KKM

PENGETAHUAN

KETRAMPILAN

 

KELOMPOK A (UMUM)

 

1.

Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

68

68

2.

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

68

68

3.

Bahasa Indonesia

68

68

4.

Matematika

68

68

5.

Sejarah Indonesia

68

68

6.

Bahasa Inggris

68

68

 

Kelompok B (UMUM)

 

7.

Seni Budaya

68

68

8.

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan)

68

68

9.

Prakarya dan Kewirausahaan

68

68

10.

Bahasa Jawa (wajib)

68

68

 

Kelompok C ( Mata pelajaran peminatan dan Lintas Minat)

 

(c)      Mata Pelajaran Peminatan

11.

Matematika Peminatan

68

68

12.

Fisika

68

68

13.

Kimia

68

68

14.

Biologi

68

68

(d)       Mata pelajaran pilihan lintas minat

15.

Bahasa dan Sastra Asing (arab))

68

68

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 9.1.5

KKM Mata Pelajaran kelas XI Peminatan IPS MA.MASALIKIL HUDA

 

Mata Pelajaran

KKM

PENGETAHUAN

PENGETAHUAN

 

KELOMPOK A (UMUM)

 

1.

Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

68

68

2.

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

68

68

3.

Bahasa Indonesia

68

68

4.

Matematika

68

68

5.

Sejarah Indonesia

68

68

6.

Bahasa Inggris

68

68

 

Kelompok B (UMUM)

 

7.

Seni Budaya

68

68

8.

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan)

68

68

9.

Prakarya dan Kewirausahaan

68

68

10.

Bahasa Jawa (wajib)

68

68

 

Kelompok C ( Mata pelajaran peminatan dan Lintas Minat)

 

(c)  Mata Pelajaran Peminatan

11.

Geografi

68

68

12.

Sejarah

68

68

13.

Sosiologi

68

68

14.

Ekonomi

68

68

(d)  Mata pelajaran pilihan lintas minat

15.

Bahasa dan Sastra Asing (arab))

68

68

 

Setelah KKM semua mata pelajaran ditentukan dari perhitungan KI-1,KI-2, KI-3 dan KI-4, langkah selanjutnya adalah menentukan KKM sekolah. KKM sekolah adalah rata-rata dari KKM mata pelajaran. Dilihat dari data nilai rata-rata KKM mata pelajaran, maka diperoleh KKM sekolah MA.MASALIKIL HUDA adalah 68 ( Enam Puluh delapan). Untuk Nilai Sikap spiritual dan sosial minimal dalam kategori Baik dan mempunyai deskripsi positif.

 

 KKM dan Interval Predikat

 

Setelah MA.MASALIKIL HUDA menentukan KKM selanjutnya satuan pendidikan membuat interval predikat untuk menggambarkan kategori kualitas sekolah. Kategori kualitas sekolah dalam bentuk predikat D, C, B dan A. Nilai KKM merupakan nilai minimal untuk predikat C dan secara bertahap satuan pendidikan meningkatkan kategorinya sesuai dengan peningkatan mutu satuan pendidikan. Predikat untuk pengetahuan dan keterampilan ditentukan berdasarkan interval angka pada skala 0-100 yang disusun dan ditetapkan oleh satuan pendidikan. Penetapan tabel interval predikat untuk KKM dibuat seperti contoh pada tabel berikut. Misalnya KKM satuan pendidikan = N (besar nilai N adalah bilangan asli < 100)

 

Tabel 9.2. Penetapan Interval Predikat KKM

Interval

Predikat

90–100

A

79 – 89

B

68 – 78

C

< 68

D

 

  1. Teknik dan Instrumen Penilaian

 

Kurikulum 2013 menerapkan penilaian otentik untuk menilai kemajuan belajar peserta didik yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan Teknik dan instrumen yang dapat digunakan untuk menilai kompetensi pada aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

  1. Penilaian Sikap

Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga mengekspresikan nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk sehingga pengalaman mempengaruhi perubahan perilaku atau tindakan sesorang.

Cara yang dapat digunakan untuk menilai sikap peserta didik, antara lain melalui observasi, penilaian diri, penilaian teman sebaya, dan penilaian melalui jurnal. Instrumen yang digunakan antara lain daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik, yang hasil akhirnya dihitung berdasarkan modus.

  • Observasi

 

Sikap dan perilaku keseharian peserta didik direkam melalui pengamatan dengan menggunakan format yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati, baik yang terkait dengan mata pelajaran maupun

secara umum. Pengamatan terhadap sikap dan perilaku yang terkait dengan mata pelajaran dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran berlangsung, seperti : ketekunan belajar, percaya diri, rasa ingin tahu, kerajinan, kerjasama, kejujuran, disiplin, peduli lingkungan. Cara berikutnya adalah pengamatan selam berada di sekolah atau di luar sekolah selama perilakunya dapat diamati. Contoh: Format pengamatan sikap dalam laboratorium IPA :

 

NO

Nama

Perilaku yang di nilai

Skor

Ket

Rasa Ingin Tahu

Disiplin

Peduli Lingkungan

Bekerja sama

1

Andi

3

4

4

3

14

 

2

Ari

 

 

 

 

 

 

 

Catatan :

Kolom Perilaku Yang Dinilai diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut.

1 = kurang

2 = cukup

3 = baik

4 = sangat baik

Format di atas dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan dapat diadaptasi sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.

(2) Penilaian diri (self assessment)

Penilaian diri digunakan untuk memberikan penguatan (reinforcement) terhadap kemajuan proses belajar peserta didik. Penilaian diri berperan penting bersamaan dengan bergesernya pusat pembelajaran dari guru ke peserta didik yang didasarkan pada konsep belajar mandiri (autonomous learning).

Untuk menghilangkan kecenderungan peserta didik menilai diri terlalu tinggi dan subyektif, penilaian diri dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif. Untuk itu penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :

 

 

 

  1. a) Menjelaskan kepada peserta didik tujuan penilaian diri.
  2. b) Menentukan kompetensi yang akan dinilai.
  3. c) Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan.
  4. d) Merumuskan format penilaian, dapat berupa daftar tanda cek, atau skala penilaian.

Contoh : Format penilaian diri untuk aspek sikap :

Partisipasi Dalam Diskusi Kelompok Kelompok

 

Kegiatan

 

Bacalah pernyataan di bawah ini dengan cermat.

Isilah pada tiap sel (1-6) pada tabel sesuai nomor pernyataan dengan dengan huruf A, B, C, dan D :

  1. Selalu
  2. Sering
  3. Kadang-kadang
  4. Tidak pernah

 

Pada dasarnya teknik penilaian diri ini tidak hanya untuk aspek sikap, tetapi juga dapat digunakan untuk menilai kompetensi dalam aspek keterampilan dan pengetahuan.

  • Penilaian teman sebaya (peer assessment)

Penilaian teman sebaya atau antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar pengamatan antarpeserta didik. Format yang digunakan untuk penilaian sejawat dapat menggunakan format seperti contoh pada penilaian diri.

Contoh Lembar Penilaian Diri menggunakan daftar cek (checklist) pada waktu kegiatan kelompok.

Nama : ...............................................

Kelas/Semester : ..................../..........................

Petunjuk :

1) Bacalah baik-baik setiap pernyataan dan berilah tanda V pada kolom yang sesuai dengan keadaan dirimu yang sebenarnya.

2) Serahkan kembali format yang sudah kamu isi kepada bapak/ibu guru.

 

(4) Penilaian Sikap Antarteman

Penilaian antarteman adalah penilaian dengan cara peserta didik saling menilai perilaku temannya. Penilaian antarteman dapat mendorong: (a) objektifitas peserta didik, (b) empati, (c) mengapresiasi keragaman/ perbedaan, dan (d) refleksi diri.

Sebagaimana penilaian diri, hasil penilaian antarteman dapat digunakan sebagai data konfirmasi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarteman. Kriteria penyusunan instrumen penilaian antarteman sebagai berikut :

  1. Sesuai dengan indikator yang akan diukur
  • Indikator dapat diukur melalui pengamatan peserta didik.
  • Kriteria penilaian dirumuskan secara sederhana, namun jelas dan tidak berpotensi munculnya penafsiran makna ganda/berbeda.
  • Menggunakan bahasa lugas yang dapat dipahami peserta didik.
  • Menggunakan format sederhana dan mudah digunakan oleh peserta didik.
  • Indikator menunjukkan sikap/perilaku peserta didik dalam situasi yang nyata atau sebenarnya dan dapat diukur

Penilaian antarteman dapat dilakukan pada saat peserta didik melakukan kegiatan di dalam dan/atau di luar kelas. Misalnya pada kegiatan kelompok setiap peserta didik diminta mengamati/menilai dua orang temannya, dan dia juga dinilai oleh dua orang teman lainnya dalam kelompoknya, sebagaimana diagram pada gambar berikut.

Kegiatan saling menilai untuk menggambarkan sikap/perilaku teman.

  • Peserta didik A mengamati dan menilai B dan E. A juga dinilai oleh B dan E
  • Peserta didik B mengamati dan menilai A dan C. B juga dinilai oleh A dan C
  • Peserta didik C mengamati dan menilai B dan D. C juga dinilai oleh B dan D
  • Peserta didik D mengamati dan menilai C dan E. D juga dinilai oleh C dan E
  • Peserta didik E mengamati dan menilai D dan A. E juga dinilai oleh D dan A

Contoh instrumen penilaian (lembar pengamatan) antar teman (peer assessment) menggunakan daftar cek (checklist) pada waktu kerja kelompok.

Petunjuk :

1) Amati perilaku 2 orang temanmu selama mengikuti kegiatan kelompok.

2) Isilah kolom yang tersedia dengan tanda cek (√) jika temanmu menunjukkan perilaku yang sesuai dengan pernyataan untuk indikator yang kamu amati atau tanda strip (-) jika temanmu tidak menunjukkan perilaku tersebut.

3) Serahkan hasil pengamatan kepada bapak/ibu.

 

Contoh Lembar Penilaian

Nama Teman : 1. ………………… 2. …………………

Nama Penilai : ………………………………… Kelas/Semester : ……………………

(5) Penilaian Jurnal (anecdotal record)

 

Jurnal merupakan rekaman catatan guru dan/atau tenaga kependidikan di lingkungan sekolah tentang sikap dan perilaku positif atau negatif, di luar proses pembelajaran mata pelajaran.

 

  1. Penilaian Pengetahuan

Penilaian pengetahuan merupakan penilaian untuk mengukur kemampuan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif, serta kecakapan berpikir tingkat rendah sampai tinggi. Penilaian pengetahuan meliput ketercapaian KD pada KI-3. Penilaian menggunakan berbagai teknik. Setiap guru mata pelajaran menetapkan teknik penilaian yang sesuai dengan karakteristik kompetensi yang akan dinilai. Penilaian harus dimulai dari sejak perencanaan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada silabus.

Penilaian pengetahuan merupakan kegiatan untuk mengetahui ketuntasan belajar. Dari hasil penilaian dapat dipetakan pula kelemahan dan kekuatan penguasaan pengetahuan dan menajdi pemberian umpan balik (feedback) kepada peserta didik oleh pendidik dan umpan balik terhadap guru dalam mengukur keberhasilan mengajar. Ada pun teknik penilaian kompetensi pengetahuan siswa sebagai berikut :

1) Tes Tertulis

Tes tertulis adalah tes dengan soal dan jawaban disajikan secara tertulis untuk mengukur atau memperoleh informasi tentang kemampuan peserta tes. Ada pun prosedur pelaksanaan tes tertulis sebagai berikut :

  1. a) Menetapkan tujuan tes, yaitu untuk seleksi, penempatan, diagnostik, formatif, atau sumatif.
  2. b) Menyusun kisi-kisi, yaitu spesifikasi yang digunakan sebagai acuan menulis soal. Kisi-kisi memuat rambu-rambu tentang kriteria soal yang akan ditulis, meliputi KD yang akan diukur, materi, indikator soal, level kognitif, bentuk soal, dan nomor soal. Dengan adanya kisi-kisi, penulisan soal lebih terarah sesuai dengan tujuan tes dan proporsi soal per KD atau materi yang hendak diukur lebih tepat.
  3. c) Menulis soal berdasarkan kisi-kisi dan kaidah penulisan butir soal.
  4. d) Menyusun pedoman penskoran sesuai dengan bentuk soal yang digunakan. Pada soal pilihan ganda, isian, menjodohkan, dan jawaban singkat disediakan kunci jawaban karena jawaban dapat diskor dengan objektif. Sedangkan untuk soal uraian disediakan pedoman penskoran yang berisi alternatif jawaban, kata- kata kunci (key words), dan rubrik dengan skornya.
  5. e) Melakukan analisis kualitatif (telaah soal) sebelum soal diujikan, yaitu analisis tentang validitas meliputi substansi (materi), konstruksi, dan bahas

 

Setelah menyusun kisi–kisi, selanjutnya mengembangkan butir soal dengan memperhatikan kaidah penulisan butir soal yang meliputi substansi/materi, konstruksi, dan bahasa.

1) Tes Tulis Pilihan Ganda

Butir soal pilihan ganda terdiri atas pokok soal (stem) dan pilihan jawaban (option). Untuk tingkat SMA biasanya digunakan 5 (lima) pilihan jawaban. Dari kelima pilihan jawaban tersebut, salah satu adalah kunci (key) yaitu jawaban yang benar atau paling tepat, dan lainnya disebut pengecoh (distractor). Kaidah penulisan soal bentuk pilihan ganda sebagai berikut.

  1. a) Substansi/Materi Soal sesuai dengan indikator (menuntut tes bentuk PG).
  2. b) Tidak bersifat SARA dan PPPK (suku/ agama/ ras/ antar golongan /pornografi / politik/ propaganda/ kekerasan).
  3. c) Materi yang diukur sesuai dengan kompetensi (UKRK: urgensi, keberlanjutan, relevansi, dan keterpakaian).
  4. d) Pilihan jawaban homogen dan logis
  5. e) Hanya ada satu kunci jawaban yang tepat

Konstruksi :

  1. Pokok soal dirumuskan dengan singkat, jelas, dan tegas.
  2. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
  3. Pokok soal tidak memberi petunjuk kunci jawaban.
  4. Pokok soal tidak menggunakan pernyataan negatif ganda.
  5. Gambar/grafik/tabel/diagram dan sebagainya jelas dan berfungsi.
  6. Panjang rumusan pilihan jawaban relatif sama.
  7. Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan "semua pilihan jawaban benar” atau “semua pilihan jawaban salah”.
  8. Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu disusun berdasarkan besar kecilnya angka atau kronologis kejadian.
  9. Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya.

Bahasa :

  1. Menggunakan bahasa sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia, kecuali untuk mata pelajaran bahasa Asing dan/atau bahasa daerah.
  2. Menggunakan bahasa yang komunikatif.
  3. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat.
  4. Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama, kecuali merupakan satu kesatuan pengertian

Contoh Soal Pilihan Ganda :

 

2) Tes Tulis Uraian

Tes tulis bentuk uraian atau esai menuntut peserta didik untuk mengorganisasikan dan menuliskan jawaban dengan kalimatnya sendiri. Penilaian untuk SMA sebaiknya lebih banyak menilai keterampilan berpikir tingkat tinggi/high order thinking skills (HOTS), yaitu bentuk soal yang memiliki tingkatan berpikir menganalisis, mengevaluasi, sampai ke mencipta. Untuk melatih HOTS sebaiknya penilaian lebih banyak diberikan dalam bentuk uraian.

 

Kaidah penulisan soal

  1. a) Substansi Materi

Kaidah penulisan soal uraian sebagai berikut.

1) Soal sesuai dengan indikator (menuntut tes bentuk uraian).

2) Tidak bersifat SARA dan PPPK (Suku/Agama/Ras/Antargolongan/ Pornografi/ Politik/Propaganda/Kekerasan).

3) Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan sesuai. d) Materi yang diukur sesuai dengan kompetensi

4) Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan tingkat kelas (X, XI, atau XII).

 

  1. b) Konstruksi

 

1) Memiliki petunjuk yang jelas mengenai cara mengerjakan soal.

2) Rumusan kalimat soal/pertanyaan menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban terurai.

3) Gambar/grafik/tabel/diagram dan sejenisnya harus jelas dan berfungsi.

4) Ada pedoman penskoran atau rubrik.

 

 

 

 

  1. c) Bahasa

Rumusan kalimat soal/pertanyaan komunikatif.

1) Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baku, kecuali untuk mata pelajaran bahasa asing dan/atau bahasa daerah.

2) Tidak mengandung kata-kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian.

3) Tidak mengandung kata yang menyinggung perasaan.

4) Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat.

 

Contoh Kisi-kisi Soal Uraian  

 

 

 

 

Contoh Rumusan butir soal uraian berdasarkan contoh kisi-kisi di atas.

Perhatikan informasi berikut untuk menjawab pertanyaan nomor

1

3) Tes Lisan

Tes lisan merupakan pemberian soal/pertanyaan yang menuntut peserta didik menjawab secara lisan, dan dapat diberikan secara klasikal ketika pembelajaran. Jawaban peserta didik dapat berupa kata, frase, kalimat maupun paragraf. Tes lisan menumbuhkan sikap peserta didik untuk berani berpendapat.

Rambu-rambu pelaksanaan tes lisan sebagai berikut.

  1. a) Tes lisan dapat digunakan untuk mengambil nilai (assessment of learning) dan dapat juga digunakan sebagai fungsi diagnostik untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap kompetensi dan materi pembelajaran (assessment for learning).
  2. b) Pertanyaan harus sesuai dengan tingkat kompetensi dan lingkup materi pada kompetensi dasar yang dinilai.
  3. c) Pertanyaan diharapkan dapat mendorong peserta didik dalam mengonstruksi jawaban sendiri.
  4. d) Pertanyaan disusun dari yang sederhana ke yang lebih komplek

 

4) Penugasan

Penugasan adalah pemberian tugas kepada peserta didik untuk mengukur dan/atau meningkatkan pengetahuan. Penugasan yang digunakan untuk mengukur pengetahuan (assessment of learning) dapat dilakukan setelah proses pembelajaran sedangkan penugasan yang digunakan untuk meningkatkan pengetahuan (assessment for learning) diberikan sebelum dan/atau selama proses pembelajaran. Penugasan dapat dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas. Penugasan lebih ditekankan pada pemecahan masalah dan tugas produktif lainnya.

Rambu-rambu penugasan :

  1. a) Tugas mengarah pada pencapaian indikator hasil belajar.
  2. b) Tugas dapat dikerjakan oleh peserta didik, selama proses pembelajaran atau merupakan bagian dari pembelajaran mandiri.
  3. c) Pemberian tugas disesuaikan dengan taraf perkembangan peserta didik.
  4. d) Materi penugasan harus sesuai dengan cakupan kurikulum
  5. e) Penugasan ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik menunjukkan kompetensi individualnya meskipun tugas diberikan secara kelompok.
  6. f) Pada tugas kelompok, perlu dijelaskan rincian tugas setiap anggota kelompok.
  7. g) Tampilan kualitas hasil tugas yang diharapkan disampaikan secara jelas.
  8. h) Penugasan harus mencantumkan rentang waktu pengerjaan tugas.

 

 

 

3.Penilaian Keterampilan

 

Penilaian keterampilan adalah penilaian yang dilakukan untuk menghiimpun informasi tentang kemampuan peserta didik menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas tertentu. Keterampilan dalam Kurikulum 2013 meliputi keterampilan abstrak (berpikir) dan keterampilan konkret (kinestetik). Kaitannya dalam pemenuhan kompetensi, penilaian keterampilan merupakan penilaian untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik terhadap kompetensi dasar pada KI-4.

Penilaian keterampilan merupakan pemetaan peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu. Penilaian bertujuan untuk mengetahui pengetahuan (KD pada KI-3) yang sudah peserta didik kuasai dan mereka gunakan untuk mengenal dan menyelesaikan masalah pada kehidupan nyata. Ketuntasan belajar ditentukan oleh satuan pendidikan dan secara bertahap seusai dengan karakteristik siswa.

Teknik Penilaian Keterampilan

 

Penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan berbagai teknik antara lain penilaian praktik/kinerja, proyek, portofolio, atau produk. Teknik penilaian lain dapat digunakan sesuai dengan karakteristik KD pada KI-4 mata pelajaran yang akan diukur. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik

Materi Yang Dinilai

1) Unjuk kerja/ Kinerja /Praktik

2) Proyek

3) Portofolio

4) Produk

 

Penilaian Unjuk kerja/kinerja/praktik

 

Penilaian unjuk kerja/kinerja/praktik dilakukan dengan cara mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini dapat digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu seperti: praktikum di laboratorium, praktik ibadah, praktik olahraga, presentasi, bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, dan membaca puisi/deklamasi. Penilaian unjuk kerja/kinerja/praktik perlu mempertimbangkan hal-hal berikut.

 

1) Langkah-langkah kinerja yang perlu dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi.

2) Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut.

3) Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.

4) Kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak, sehingga dapat diamati.

5) Kemampuan yang akan dinilai selanjutnya diurutkan berdasarkan langkah-langkah pekerjaan yang akan diamati.

Pengamatan unjuk kerja/kinerja/praktik perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Misalnya untuk menilai kemampuan berbicara yang beragam dilakukan pengamatan terhadap kegiatankegiatan seperti: diskusi dalam kelompok kecil, berpidato, bercerita, dan wawancara. Dengan demikian, gambaran kemampuan peserta didik akan lebih utuh. Contoh untuk menilai unjuk kerja/kinerja/praktik di laboratorium dilakukan pengamatan terhadap penggunaan alat dan bahan praktikum. Untuk menilai praktik olahraga, seni dan budaya dilakukan pengamatan gerak dan penggunaan alat olahraga, seni dan budaya.

 

Dalam pelaksanaan penilaian kinerja perlu disiapkan format observasi dan rubrik penilaian untuk mengamati perilaku peserta didik dalam melakukan praktik atau produk yang dihasilkan

 

 

Keterangan :

Persiapan = 20 3 3 = 20

Pelaksanaan dan hasil = 50 13 9 = 34.6

Laporan = 30 3 2 = 20 Jumlah skor = 20 + 34.6 + 20 = 74.6 (dibulatkan menjadi 75)

 

 

 

 

Proyek

Penilaian proyek merupakan kegiatan menghimpun informasi tentang keterampilan menerapkan pengetahuan dalam melaksanakan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan, yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, inovasi dan kreativitas kemampuan penyelidikan dan kemampuan peserta didik menginformasikan matapelajaran tertentu.

Penilaian proyek dapat dilakukan dalam satu atau lebih KD, satu mata pelajaran, beberapa mata pelajaran serumpun atau lintas mata pelajaran yang bukan serumpun. Penilaian proyek umumnya menggunakan metode belajar pemecahan masalah sebagai langkah awal dalam pengumpulan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. Pada penilaian proyek setidaknya ada empat hal yang perlu dipertimbangkan yaitu pengelolaan, relevansi, keaslian, inovasi, dan kreativitas dalam beberapa butir berikut :

1) Pengelolaan yaitu kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.

2) Relevansi yaitu kesesuaian topik, data, dan hasilnya dengan KD atau mata pelajaran.

3) Keaslian yaitu proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karya sendiri dengan mempertimbangkan kontribusi guru dan pihak lain berupa bimbingan dan dukungan terhadap proyek yang dikerjakan peserta didik.

4) Inovasi dan kreativitas yaitu proyek yang dilakukan peserta didik terdapat unsur- unsur baru (kekinian) dan sesuatu yang unik, berbeda dari biasanya.

Contoh Penilaian Proyek

 

: Mata Pelajaran

:

Sosiologi

Kelas/Semester

:

X/1

Tahun Pelajaran

:

2016/2017

Kompetensi Dasar

:

4.4 Melakukan penelitian sosial yang sederhana untuk mengenali ragam gejala sosial dan hubungan sosial di masyarakat.

Indikator Soal

:

Peserta didik mampu merumuskan masalah sosial di sekitarnya, mencari informasi, mengolah informasi dan menyajikan informasi mengenai permasalahan sosial yang terjadi pada masyarakat dan di lingkungan sekitarnya

 

Rumusan Tugas Proyek :

  1. Lakukan penelitian mengenai permasalahan sosial yang berkembang pada masyarakat di lingkungan sekitar tempat tinggalmu, misalnya pengaruh keberadaan pasar modern (mall) bagi masyarakat sekitarnya (kamu bisa memilih masalah lain yang sedang berkembang di lingkunganmu).
  2. Tugas dikumpulkan sebulan setelah hari ini. Tuliskan rencana penelitianmu, lakukan, dan buatlah laporan. Laporan sekurang-kurangnya memuat latar belakang, perumusan masalah, cara pengumpulaninformasi/data, kelengkapan data, penyajian informasi, pengolahan data, dan simpulan.

Dalam membuat laporan perhatikan sistematika laporan, penggunaan bahasa, dan tampilan laporan.

Contoh Rubrik Penilaian Proyek

No.

Aspek

Skor

1.

Perencanaan :

a. Latar Belakang (tepat = 3, kurang tepat = 2, tidak tepat = 1)

b. Rumusan masalah (tepat = 3, kurang tepat = 2, tidak tepat = 1)

 

1-3

1-3

2

Pelaksanaan :

a. Pengumpulan data/informasi (akurat = 3, kurang akurat = 2, tidak akurat = 1)

b. Kelengkapan data (lengkap= 3, kurang lengkap

= 2, tidak lengkap = 1)

c. Pengolahan dan analisis data (sesuai = 3, kurang sesuai = 2, tidak sesuai = 1)

d. Simpulan (tepat = 3, kurang tepat = 2, tidak

tepat = 1)

 

1-3

 

1-3

 

1-3

3

Pelaporan hasil :

a. Sistematika laporan (baik = 3, kurang baik = 2, tidak baik = 1)

b. Penggunaan bahasa (sesuai kaidah= 3, kurang

sesuai kaidah = 2, tidak sesuai kaidah = 1)

Tampilan (menarik= 3, kurang menarik= 2, tidak menarik= 1)

 

 

Total                                                                                          27

Pengolahan skor

Pada penilaian proyek dapat juga diberi pembobotan berbeda, misalnya perencanaan 20%, pelaksanaan 40%, dan pelaporan 40%. Sehingga hasil penilaian Intan sebagai berikut.

Portofolio

Portofolio merupakan penilaian berkelanjutan berdasarkan kumpulan informasi yang bersifat reflektif-integratif mengenai perkembangan kemampuan kompetensi peserta didik dalam satu periode tertentu. Ada beberapa tipe portofolio yaitu portofolio dokumentasi, portofolio proses, dan portofolio pameran. Pendidik dapat memilih tipe portofolio sesuai dengan karakteristik kompetensi dasar dan/atau konteks mata pelajaran.

Pada akhir suatu periode, hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh pendidik bersama peserta didik. Berdasarkan hasil penilaian tersebut, pendidik dan peserta didik dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik dan terus melakukan perbaikan. Dengan demikian portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya.

Portofolio peserta didik disimpan dalam suatu folder dan diberi tanggal pembuatan sehingga perkembangan kualitasnya dapat dilihat dari waktu ke waktu. Portofolio dapat digunakan sebagai salah satu bahan penilaian. Hasil penilaian portofoliobersama dengan penilaian lainnya dipertimbangkan untuk pengisian rapor/laporan penilaian kompetensi peserta didik. Portofolio merupakan bagian dari penilaian autentik, yang secara langsung dapat merepresentasikan sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik.

Penilaian portofolio dilakukan untuk menilai karya-karya peserta didik secara bertahap dan pada akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dipilih bersama oleh guru dan peserta didik. Karya-karya terbaik menurut pendidik dan peserta didik disimpan dalam folder dokumen portofolio. Pendidik dan peserta didik harus mempunyai alasan yang sama mengapa karya-karya tersebut disimpan di dalam dokumen portofolio. Setiap karya pada dokumen portofolio harus memiliki makna atau kegunaan bagi peserta didik, pendidik, dan orang tua peserta didik. Selain itu, diperlukan komentar dan refleksi dari pendidik, dan orangtua peserta didik.

Karya peserta didik yang dapat disimpan sebagai dokumen portofolio antara lain: karangan, puisi, gambar/lukisan,surat penghargaan/piagam, foto-foto prestasi, dan sejenisnya. Dokumen portofolio dapat menumbuhkan rasa bangga bagi peserta didik sehingga dapat mendorong untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik. Pendidik dapat memanfaatkan portofolio untuk mendorong peserta didik mencapai sukses dan membangun kebanggaan diri. Secara tidak langsung, hal ini berdampak pada peningkatan upaya peserta didik untuk mencapai tujuan individualnya. Dengan didasari bukti pendukung, pendidik lebih mantap dalam mengambil keputusan penilaian karena didukung oleh bukti-bukti autentik yang telah dicapai dan dikumpulkan peserta didik.

Agar penilaian portofolio menjadi efektif, pendidik dan peserta didik perlu menentukan ruang lingkup penggunaan portofolio dengan dilandasi landasan pertimbangan sebagai berikut :

  1. Setiap peserta didik memiliki dokumen portofolio sendiri yang memuat hasil belajar pada setiap mata pelajaran atau setiap kompetensi.
  2. Menentukan jenis hasil kerja/karya yang perlu dikumpulkan/disimpan.
  3. Pendidik memberi catatan (umpan balik) berisi komentar dan masukan untuk ditindaklanjuti peserta didik.
  4. Peserta didik harus membaca catatan pendidik dengan kesadaran sendiri dan menindaklanjuti masukan pendidik untuk memperbaiki hasil karyanya
  5. Catatan pendidik dan perbaikan hasil kerja yang dilakukan peserta didik diberi tanggal, sehingga dapat dilihat perkembangan kemajuan belajar peserta didik.

Rambu-rambu penyusunan dokumen portofolio.

  • Dokumen portofolio berupa karya/tugas peserta didik dalam periode tertentu, dikumpulkan dan digunakan oleh pendidik untuk mendeskripsikan capaian kompetensinya.
  • Dokumen portofolio disertakan pada waktu penerimaan rapor kepada orangtua/wali peserta didik, sehingga mengetahui perkembangan belajar putera/puterinya.
  • Orangtua/wali peserta didik hendaknya dapat memberi komentar/catatan pada dokumen portofolio sebelum dikembalikan ke sekolah.
  • Pendidik pada kelas berikutnya menggunakan portofolio sebagai informasi awal peserta didik yang bersangkutan.

 

Produk

Penilaian produk melibatkan keterampilan konkret yang meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat suatu produk, misalnya produk teknologi, dan/atau seni. Contoh, mengolah makanan sepert tempe, kue, asinan, baso, dan nata de coco; pakaian, seperti, sarana kebersihan, contoh: sabun, pasta gigi, cairan pembersih, dan sapu, teknologi seperti, adaptor ac/dc dan bel listrik; hasil karya seni seperti; patung, lukisan, dan gambar, dan barang-barang terbuat dari kain, kayu, keramik, plastik, atau logam.

Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu dinilai. Adapun tahap penilaian, meliputi :

  • Tahap persiapan, meliputi : penilaian kemampuan peserta didik dalam merenc merencanakan, menggali, mengembangkan gagasan, dan mendesain produk
  • Tahap pembuatan produk (proses), meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.
  • Tahap penilaian produk (appraisal), meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan, misalnya berdasarkan tampilan, fungsi, dan estetika.

Penilaian produk biasanya menggunakan cara analitik atau holistik. (1) Cara analitik, mendasarkan pada aspek-aspek produk dengan cara menilai semua tahap proses pengembangan (tahap: persiapan, pembuatan produk, penilaian produk). (2) Cara holistik, yaitu menilai keseluruhan produk, biasanya dilakukan hanya pada tahap penilaian produk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB X

SUPERVISI PEMBELAJARAN

 

  1. PENGERTIAN SUPERVISI

Supervisi dalam penyelenggaraan pendidikan bersinonim dengan istilah pengawasan. Pengawasan instruksional pada dasarnya berkaitan dengan dukungan organisasi dalam membantu dalam mengenali tugasnya, memotivasi, membangun peluang berinspirasi dalam memperbaiki proses dan hasil kerjanya sebagai dasar untuk memberikan bimbingan. Pengawasan instruksional melakukan banyak hal daripada memeriksanya terutama dalam mengomunikasikan tugas yang seharusnya guru kerjaan untuk mencapai tujuan satuan pendidikan. Pengawasan instruksional adalah kegiatan pelayanan. Itu ada untuk membantu guru melakukan pekerjaan mereka dengan lebih baik. Seorang supervisor instruksional mungkin bukan seorang Resmi dikirim dari Kementerian atau Dewan Pendidikan.

Oleh karena itu dalam pengaturan tentang program bantuan kepada pendidik dan tenaga kependidikan keduanya digunakan. Namun demikian, karena dalam pemakaian istilah supervisi lebih populer di sekolah, dan demi keajegan penggunaan istilah maka pada program ini selanjutnya digunakan supervisi. Jika dalam beberapa bagian kutipan secara faktual menggunakan pengawasan, maka hendaknya dapat dimaknai sebagai supervisi.

School Supervision, Unesco, 2007. hal 9** dinyatakan bahwa kegiatan supervisi sebagai bagian dari proses meningkatkan pemenuhan standar. Kegiatan intinya meliputi tiga tahap, yaitu

  • Menghimpun informasi
  • Menganalisis informasi
  • Melakukan tindakan.

Hubungan ketiga kegiatan ini dapat digambarkan pada peta keterkaitan berikut

 

Pelaksanaan menghimpun informasi dapat kepala sekolah atau pengawas laksanakan dengan menguji siswa, menguji kompetensi guru, memonitor merencanakan dan dokumen perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, atau memantau instrumen, pelaksanaan, dan hasil penilaian. Informasi juga dapat dihimpun dengan penelitian, wawancara, atau penyebaran angket. Data yang terhimpun selanjutnya dianalisis dan ditafsirkan. Pelaksanaanan kegiatan mengimpun informasi, menganalisis informasi, dan melakukan tindakan sebagai tindak lanjut supervisi dapat dilakukan secara individual atau melibatkan banyak personal yang tergabung dalam tim penjaminan mutu bidang akademik.

Analisis informasi yang terhimpun oleh pengawas atau kepala sekolah melaksanakan supervisi sering terpenuhi. Informasi yang terhimpun dari kegiatan pra- observasi yang diisi dengan pengkondisian atau persiapan observasi dan pelaksanaan observasi sering dipandang telah selesai jika supervisor telah mengisi instrumen dan memperoleh data persentase kinerja. Persentase yang diperoleh dari penskoran diperlakukan cukup sebagai bahan pembanding dengan standar sehingga dapat dipeoleh kesimpulan bahwa kinerja guru kurang, cukup, baik, atau sangat baik. Informasi tidak dianalisis dan ditafsirkan sehingga diperoleh kesimpulan

  1. PERENCANAAN SUPERVISI ATAU PENGAWASAN

Perencanaan program supervisi mengacu pada Permendiknas Nomor 19 yang menegaskan bahwa kepala sekolah berkewajban :

  • Menyusun program pengawasan secara obyektif, bertanggung jawab dan berkelanjutan.
  • Menyusun program pengawasan di sekolah/madrasah berdasarkan Standar Nasional Pendidikan.
  • Mensosialisasikan program kepada seluruh pendidik dan tenaga kependidikan.
  • Program pengawasan meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut hasil pengawasan.
  • Melaksanakan supervisi pengelolaan akademik dilakukan secara teratur dan berkelanjutan
  • Menerima laporan hasil evaluasi dan penilaian sekurang-kurangnya setiap akhir semester
  • Menerima laporan pelaksanaan teknis dari guru dan TU sekurang-kurangnya setiap akhir semester
  • Terus menerus melakukan pengawasan pelaksanaan tugas tenaga kependidikan.
  • Menindaklanjuti laporan hasil pengawasan tersebut dalam rangka meningkatkan mutu sekolah/madrasah, termasuk memberikan sanksi atas penyimpangan yang ditemukan.
  • Mendokumentasikan dan menggunakan hasil pemantauan, supervisi, evaluasi, dan pelaporan serta catatan tindak lanjut untuk memperbaiki kinerja sekolah/madrasah, dalam pengelolaan pembelajaran dan pengelolaan secara keseluruhan.

 

  1. TUJUAN SUPERVISI

 

Supervisi dan pembinaan merupakan serangkaian kegiatan memetakan kinerja dan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola pembelajaran atau pengelolaan pendidikan untuk mencapai tujuan yang direncanakan. Berdasarkan definisi tersebut, pelaksanaan supervisi bertujuan membantu guru, kepala sekolah, atau tenaga kependidikan lainnya meningkatkan kompetensinya sehingga berdampak terhadap perbaikan proses pelaksanaan tugasnya.

 

  1. STRATEGI SUPERVISI

Strategi inti meliputi :

Tatap muka merupakan kegiatan langsung, kepala sekolah melaksanakan tugas dalam mementau secara langsung dengan melakukan pertemuan dengan guru untuk mengobservasi pelaksanaan tugas dalam kelas.

Pengawasan Berbasis Sekolah adalah serangkaian proses penentuan rencana yang terintegrasi pada rencana kerja pemenuhan standar nasional pendidikan yang sekolah tetapkan. Pelaksanaan pengawasan oleh kepala sekolah atau oleh guru senior menjadi bagian integral dari sistem pengawasan. Di antaranya, supervisi kunjungan antar

 

Pengawasan Berbasis TIK merupakan strategi pemberdayaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media komunikasi para pihak yang menjadi bagian dari sistem, penggunaan jejaring secara online maupun merupakan bagian penting dari sistem pengawasan.

Kolaboratif-partisipatif merupakan cara memberdayakan seluruh pemangku kewenangan: guru, pengawas sekolah, komite sekolah, para pakar; sebagai penyedia layanan peningkatan mutu pendidikan melalui kegiatan supervisi dan pembinaan guru dan tenaga kependidikan lainnya.

Metode atau teknik supervisi merupakan cara-cara kepala sekolah dalam melksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan yang sekolah harapkan untuk menyelesaikan masalah guru-guru dalam merencanakan kegiatan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan penilaian dalam proses kerjanya. Orientasi penyelesaian masalah adalah membantu guru atau tenaga kependidikan meningkatkan kompetensinya sehingga dapat berprestasi dalam mewujudkan tujuan pelaksanaan tugas.

Metode atau teknik supervisi akademik meliputi supervisi individual dan kelompok. Metode atau teknik supervisi individual meliputi kegiatan (1) kunjungan dan observasi kelas (2) individual conference (3) kunjungan antar guru (4) evaluasi diri (5) supervisory buletin (6) profesional reading (7) profesional writing.

Metode atau teknik supervisi kelompok antara lain (1) rapat staf sekolah (2) orientasi guru baru (3) curriculum laboratory (4) panitia (5) perpustakaan profesional (6) demonstrasi mengajar (7) lokakarya (8) field trips for staff personnels (9) pannel or forum discussion (10) in service training dan (11) organisasi profesional

 

  1. TUGAS KEPALA SEKOLAH DALAM KEGIATAN SUPERVISI

 

Tugas dan tanggung jawab kepala sekolah dalam melaksanakan supevisi :

  • Menyusun program supervisi secara obyektif, bertanggung jawab dan berkelanjutan.
  • Penyusunan program supervisi yang merujuk pada Standar Nasional Pendidikan.
  • Melasanakan sosialisasi ke seluruh pendidik dan tenaga kependidikan.
  • Melaksanakan kegiatan supervisi yang mencakup pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut hasil pengawasan.
  • Melaksanakan tindak lanjut supervisi dalam bentuk pengembangan komprofesian berkelanjutan pada tingkat satuan pendidikan.
  • Bekerja sama dengan supervisi sekolah, komite sekolah/madrasah, dan nara sumber secara berkelanjutan untuk menilai efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan..
  • Melaksanakan supervisi akademik secara berkala dan berkelanjutan.
  • Mengevaluasi hasil supervisi.
  • Menyusun laporan dan tindaklanjut perbaikan.

 

F.TIM PENJAMINAN PROGRAM SUPERVISI

Dari hasil analisis masalah dan penyelesaian masalah dalam meningkatkan mutu pembelajaran, maka kebutuhan untuk membentuk tim pelaksana program supervisi menjadi kebutuhan utama dengan langkah kegiatan sebagai berikut :

  • Pembentukan Tim Penyelenggara supervisi.
  • Pelaksanaan Temu Kerja membahas rencana supervisi, hasil pemantauan, observasi kelas, dan pembinaan minimal dilaksanakan pada awal semester.
  • Pelaksanaan Supervisi dan Pemenuhan Admistrasi.
  • Pelakasanaan Pembinaan sebagai Tindak Lanjut Supervisi.
  • Pelaksanaan Penilaian Kinerja.
  • Pelaksanaan Evaluasi, Pelaporan, dan Tindaklanjut
  • Mengingat beban tugas pelaksnaan supervisi pembelajaran maka maka sekolah membentuk tim dengan stuktur sebagai berikut

Tim Pengawas

Nama

Pengawas Sekolah

 :

Kepala sekolah

 :

Unsur Guru

 :

         1.

2.

3.

4.

Unsur Komite Sekolah

:

Pakar Pendidikan

:

Diundang sewaktu-waktu sesua kebutuhan

 

  1. Instrumen Supervisi

 

Kegiatan supervisi wajib menggunakan instrumen. Instrumen yang sekolah gunakan hendaknya telah guru-guru sepakati dan mereka pahami dengan baik. Oleh karena itu, sebainya instrumen telah sekolah siapkan sejak awal tahun pelajaran baru. Kecuali itu, untuk melaksanakan kegiatan supervisi klinis yang memilih masalah khusus untuk guru yang membutuhkan, sekolah adaptasi dari instrumen yang ada.

Pemilihan instrumen dapat menggunakan kriteria berikut :

  • Instrumen yang digunakan sesuai dengan karateristik kurikulum yang sekolah gunakan.
  • Instumen yang digunakan menjadi perangkat penghimpun data yang diperlukan memecahkan masalah yang guru hadapi
  • Data yang dibutuhkan dapat dihimpun dalam pelaksanaan pembelajaran.
  • Memuat data tentang tujuan pembelajaran.
  • Memuat perangkat untuk menghimpun data tentang Pelaksanaan kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup.
  • Memuat perangkat yang menghimpun data tentang aktivitas belajar siswa

 

  1. LAPORAN KEGIATAN SUPERVISI INDIVIDUAL

 

Laporan pengawas memuat komponen kegiatan praobservasi, observasi, reflesi dan kesimpulan melalui kegiatan:

1) Wawancara

Wawancara merupakan kegiatan diskusi dan tanya jawab dengan responden berkaitan dengan penghimpunan data penyelenggaraan manajemen maupun pembelajaran. Substansi wawancara mengacu pada instrumen penyelenggaraan supervisi.

2) Studi Dokumen

Studi dokumen merupakan pengecekan ketersediaan, kualitas dan kebenaran dokumen, naskah yang terkait dengan substansi yang disupervisi.

3) Pemetaan

Pemetaan pemenuhan standar dengan didahului dengan perancangan instrumen untuk pemenuhan standar.

4) Evaluasi dan Refleksi

Dari keseluruhan kegiatan supervisi, berikut ini merupakan :

     Pertemuan Pasca Pengamatan

Dalam kurun waktu yang disepakati bersama setelah setiap pengamatan dilakukan maka tim evaluator akan mengadakan pertemuan pasca pengamatan atau kegiatan refleksi

5) Evaluasi

Pada akhir pelaksanaan tugas seluruh pengawas bertemu untuk melakukan pemetaan kinerja secara kolektif, menyusun kesimpulan, dan rekomendasi perbaikan mutu berkelanjutan.

Rumusan Kegiatan Tindak Lanjut

Dari keseluruhan kegiatan supervisi, supervisos dan yang disupervisi merencanakan kegiatan tindak lanjut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB XI

PENUTUP

 

Dengan telah selesainya penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) MA.MASALIKIL HUDA pada tahun pelajaran 2018/2019 telah selesai dilaksanakan, dengan harapan segala upaya yang telah dirancang ini dapat meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan di MA.MASALIKIL HUDA

Semoga Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ini memenuhi syarat sehingga rencana kami mengembangkan MA.MASALIKIL HUDA dapat berhasil dengan baik. Kami juga sangat mengharap dukungan dari semua pihak, khususnya guru, karyawan, maupun para siswa serta masyarakat yang sebagian besar terwakili oleh orang tua siswa. Banyak bantuan yang sudah diberikan kepada kami dari berbagai pihak, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah yang memberi kesempatan kepada kami untuk menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), semoga Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) MA.MASALIKIL HUDAini mampu menjadi sarana bagi sekolah untuk ikut mencerdaskan generasi muda harapan bangsa dan dapat mewujudkan Visi MA.MASALIKIL HUDA, yakni “ Terwujudnya generasi Islam Multi guna islami, berakhlakul karimah Cerdas dan Trampil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN – LAMPIRAN

 

 

  1. SK Kepala Sekolah No. 01/KUR/PMP/VI/2018 Tahun 2018 Tentang Pembentukan Tim Penjaminan Mutu Tingkat Satuan Pendidikan.
  2. SK Kepala Sekolah No. 02/KUR/PS.PKG/VI/2018 Tahun 2018 Tentang Pembentukan Tim Pelaksana Supervisi dan Penilai Kinerja Pendidik dan Tenaga Kependidikan tingkat Satuan Pendidikan.
  3. SK Kepala Sekolah No. 03/KUR/PK/VI/2018 Tahun 2018 Tentang Pembentukan Tim Pengembang Kurikulum Satuan Pendidikan.
  4. SK Kepala Sekolah No. 04/KUR/KP/VI/2018 Tahun 2018 Tentang Kalender Pendidikan.
  5. Format Program Tahunan Per Mata Pelajaran
  6. Format Program Semester Per Mata Pelajaran
  7. Format Silabus
  8. Instrumen Supervisi

 

 

Komentari Tulisan Ini
Halaman Lainnya
Sarana Prasarana

18/06/2019 09:41 WIB - Administrator
Pendidikan

Pendidikan

18/06/2019 09:17 WIB - Administrator
SEJARAH MA.MASALIKIL HUDA TAHUNAN

1.  SEJARAH BERDIRINYA Pada pertengahan tahun 1984, para tokoh masyarakat desa Tahunan mempunyai ide dan gagasan yang sangat mulia dalam rangka menyelenggarakan sebuah lembaga pend

29/05/2019 08:55 WIB - Administrator
STRUKTUR ORGANISASI MA.MASALIKIL HUDA TAHUNAN

STRUKTUR ORGANISASI MA.MASALIKIL HUDA TAHUNAN

29/05/2019 08:53 WIB - Administrator
Profil

TES

15/05/2019 15:06 WIB - Administrator